Membaca koridor, khususnya berita yang ini ,
http://www.koridor.com/artikel.php3?in_no=6132 , sungguh-sungguh membuat
hati gundah gulana. Judulnya , meminjam istilah Bung Daniel H.T , adalah
sangat "vulgar" : Menelanjangi Matori. Apakah ini pengaruh reformasi
sehingga membuat semua orang gampang bicara porno seperti itu ? Kita ini
adalah bangsa besar yang kalau bicara sudah cukup dengan lamat-lamat penuh
kiasan. Manusia yang luhur otomatis akan paham dan mengerti. Itulah petuah
nenek moyang kita. Begitu pula petuah pimpinan terdahulu, pak Harto yang
penuh kesan dan kiasan itu. Adat istiadat kelihatan sudah porak-poranda.

Menelanjangi Matori . Dapatkah imajinasi anda sedikit bebas melayang ?
"Ngeri" kan kita semua kalau dipaksa melihat  Matori telanjang ?. Apakah ada
yang tidak silau ? Dimana akhlak bangsa ? Beliau itu kan kepala staf
pembisik kerajaan yang paling reformatif di nusantara ? Beliau itu kan
kepala staff uler istana ? Sungguh amat tidak pantas dan patut kita
sesalkan. Kalau tidak ada permintaan maaf , marilah kita berseru kompak agar
para Banser turun kejalan jalan...! ( Dan juga Satgas gebleg yang belum
insap, yang belum mau ngikutin Arifin Panigoro! ).

Termasuk dalam berita telanjang itu, DPW Jatim dalam kongres PKB kelihatan
ada minat untuk mengusir uler dari lingkungannya. Maka DPW Jatim juga
mempersoalkan transparansi keuangan DPP, yang sampai sekarang menjadi tanda
tanya besar. "Dari mana, berapa, dan untuk apa dana partai itu, harus
transparan," katanya. Bagaimana pembagiannya, berapa , untuk siapa saja,
dana bullog dan bolkiah dinikmati ?

Kita pun cuma bisa melihat dan menonton. Apakah bagian ummat yang lemah dan
kurang berdaya itu sudah mampu untuk melawan uler ? Rajanya Uler ?.

Wassalam.
Abdullah Hasan
( dimanakah suwondo? )



->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke