Jawa Pos, Rabu, 02/07/00
 Wawancara Dr Tamrin Amal Tomagola di Washington
Wajar Kita Minta Tolong Negara Sahabat

Dosen FISIP UI Dr Tamrin Amal Tomagola dan dokter Palang Merah Ambon dr Alex
H. Manuputty kini berada di Washington. Tamrin yang beragama Islam dan Alex
yang Kristen diundang oleh masyarakat kristiani dan muslim Maluku yang
berdomisili di Amerika Serikat. Selama di AS, semua agenda diatur oleh Mary
Tahapary, seorang tokoh Maluku di AS, bekerja sama dengan kantor LSM AS,
Human Right Watch, di Washington DC.
Selama di AS, Tamrin dan Alex bertemu dengan pihak-pihak kompeten di Deplu
AS, Kongres, dan kalangan LSM-LSM terkenal Amerika di Washington DC.

Karena berasal dari Kristen dan Islam, sedianya mereka bisa hearing di
Kongres AS. Namun, acara tersebut batal karena DPR AS baru memasuki reses.
Berikut ini wawancara Jawa Pos dengan Tamrin didampingi dr Alex Manuputty,
Mary Tahapary Whittinger, dan dua pemuda Maluku.

Bisa Anda ceritakan misi kunjungan ke AS?

Ini murni dari masyarakat. Waktu saya diundang, Sus Mary kasih tahu bahwa
sebenarnya keadaan pembantaian dan pembunuhan yang sekarang berlangsung di
Ambon itu tidak bisa ditoleransi. Sesuatu harus dilakukan untuk menghentikan
itu. Bisa dilakukan dari dalam dan bisa juga dengan menggunakan tekanan dari
luar. Dalam rangka itu, kami datang untuk menghentikan pembantaian di Ambon,
tetapi dengan menggunakan kekuatan dari luar. Kekuatan luar itu bisa
bersifat force (kekuatan) dan bisa juga berupa bantuan-bantuan kemanusiaan.
Ini yang kami jajaki di sini. Saya mau menerima tawaran ini karena betul
bahwa pembantaian di sana sudah di luar batas. Dan, perkembangannya makin
hari makin jelek.
Bertemu dengan siapa saja di Washington DC?

Bertemu dengan beberapa pihak. Karena yang mengorganisasi Bu Mary, tanya
sama dia apakah bersedia memberi tahu siapa yang ditemui. Pertimbangan kedua
saya datang ke sini, orang di Indonesia itu kalau mendengar campur tangan
internasional atau bantuan internasional langsung pikirannya bahwa
internasional itu berarti Kristen. Kemudian, yang datang itu adalah Kristen
dari Barat yang mau membantu orang-orang Kristen di Ambon. Pikiran seperti
ini terlalu apriori dan tidak benar. Sebab, nggak harus otomatis bahwa
internasional itu berarti Kristen kan? Nah, ada beberapa kemungkinan. Jadi,
saya pikir, barangkali diskusi tentang kemungkinan bantuan internasional itu
jangan dianggap lagi diskusi yang tabu. Biasa saja. Dan, itu sebenarnya
suatu hal yang bisa kita perbincangkan.
Dengan Kongres dan pemerintah AS, pertemuannya bagaimana? Apa yang
disampaikan?

Dua-duanya sudah. Kita sampaikan -menurut penilaian kita secara pribadi
masing tanpa membawa nama lembaga- bahwa tragedi di Maluku itu tidak bisa
lagi dibatasi sebagai tragedi nasional. Tetapi, itu sudah merupakan tragedi
kemanusiaan. Karena itu tragedi kemanusiaan, setiap manusia di dunia punya
hak untuk mencampuri. Jadi, kalau dirumuskan dalam bahasa Inggris, saya
selalu bilang, Moluccas tragedy is a human tragedy. Therefore, every human
being has the right to interfere. Kedua, apakah tragedi di Maluku itu bisa
diselesaikan pemerintah kita? Dengan kekuatan nasional kita, dengan tentara
dan polisi? Nah, menurut saya, tragedi tersebut nggak akan mampu
diselesaikan oleh pemerintah RI dengan menggunakan kekuatan tentara dan
polisi kita.
Lalu?

Karena itu, kalau, misalnya, secara nasional nggak mampu, wajar kan kita
minta tolong kepada tetangga yang paling dekat, ASEAN, atau lebih jauh lagi
ke negara-negara yang mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk itu. Saya
pikir, lambat atau cepat, kayaknya, pemerintah kita pada akhirnya harus
minta tolong.
Itu yang disampaikan di Washington DC?

Kemudian, kita mengusulkan beberapa langkah ke arah itu, yaitu apa artinya
bantuan internasional itu. Tadinya banyak orang memakai istilah intervensi
internasional. Mungkin karena sekarang kata intervensi itu terlalu keras dan
mungkin banyak pihak dalam negeri yang tidak mau -sebab, itu menyinggung
rasa kebangaan dan kedaulatan nasional-, sebenarnya kita bisa menggunakan
istilah international partnership (kemitraan internasional). Jadi,
tekanannya pada kemitraan dan bukan intervensi.
Kalaupun nanti masuk kekuatan-kekuatan dari luar, sebagian (akan) bekerja
sama dengan yang di dalam.

Maksudnya?
Misalnya, NGO internasional bekerja sama dengan NGO nasional. Lalu,
international force bekerja sama dengan national force. Jadi, ada kombinasi.
Dengan begitu, yang masuk Maluku bukan semata-mata internasional. Bukan.
Tetapi, semacam kemitraan internasional. Itu kalau keadaan tidak makin
buruk. Kalau keadaan makin buruk dan tidak ada pihak Indonesia yang bisa
bersikap netral, memang sudah agak susah.

Tekanan dari luar itu berarti bisa pasukan, begitu?
Kalau saya pikir, barangkali jangan juga pakai kata tekanan. Kata-kata
seperti intervention dan pressure itu kan nanti orang-orang Indonesia
merasa, terutama kelompok Islam, akan merasa ada sesuatu kekuatan asing yang
mencoba mencampuri dan menekan kita. Kata partnership itu, saya kira, paling
bagus. Yakni bukan melulu kekuatan asing, tetapi juga termasuk kita.

Konkretnya?
Step yang kita usulkan itu begini. Pertama, International Red Cross (Palang
Merah Internasional). Itu harus dibolehkan masuk Ambon, masuk untuk tujuan
kemanusiaan. Kedua, kita minta supaya NGO internasional dan NGO nasional
jangan dilarang berkiprah untuk tujuan-tujuan kemanusiaan di Ambon. Dua
langkah ini harus dilakukan sebelum Sidang Tahunan MPR. Sebab, sambil kita
ngomong ini sekarang di sini, orang mati di Maluku. Jadi, dua pihak ini
harus dimasukkan segera. Pada saat petugas-petugas ini masuk, baik dari
Palang Merah internasional, NGO internasional, dan NGO nasional, mereka
harus diberi jaminan keamanan minimum. Untuk jaminan keamanan ini, barulah
kita ngomong tentang international force dan national force.

Maksudnya?
Sekarang kan Amerika Serikat dengan militer Indonesia sedang melakukan
latihan di Surabaya dan Jakarta (marinir). Sebagian di antara mereka itu kan
sebenarnya bisa dibawa ke Maluku untuk menjaga keamanan petugas-petugas
kemanusiaan tadi. Karena ada 35 ribu orang Ambon Kristen yang sedang
(terancam, Red) di hutan antara Wai dan Paso (Gunung-gunung di Ambon, Buru,
dan Seram -ditambahkan sendiri oleh dr Alex Manuputty, Red). Mereka terjebak
dan memang lari. Kalau mereka turun ke pantai, mereka dibantai. Jadi, palang
merah internasional, NGO internasional, dan NGO nasional mustinya harus
dijamin keamanannya oleh suatu special force. Sesudah itu, kita juga minta
supaya Sekjen PBB menunjuk atau mengangkat suatu special envoy untuk
melakukan rapid assessment di sana. Jadi, international intervention dan
internasional force itu kemungkinan yang paling akhir. Special envoy itu
bagusnya diambil dari negara Islam. Misalnya, Pakistan. Supaya ini
menetralkan kekhawatiran orang Islam di Indonesia.

Bagaimana tanggapan dari pihak di Kongres?
Kalau prinsip-prinsip tadi bahwa ini tragedi kemanusiaan, itu setuju.
Tetapi, gagasan kita mengenai jalan keluar itu, mereka lebih banyak
mendengarkan dan memikirkan. Jadi, tidak ada suatu jaminan apa gitu, nggak.

Menurut Anda, benarkah kasus Ambon ini sebagai isu agama?
Isu yang mendasar sebenarnya bukan agama.

Tetapi, yang terjadi kan pihak Kristen dan Islam saling bunuh di Maluku?
Itu kan pintarnya intelijen mengubah isu dan mengadu domba. Kita (Tamrin
menyebut suatu lembaga, Red) mempunyai data cukup banyak: Bahwa ini semua
pekerjaan intelijen. Jadi, begini, di suatu tempat itu banyak jerami
kering -pertikaian konflik antarkelompok di suatu tempat tertentu. Intelijen
datang membawa geretan (korek api, Red), lalu dia sulut. Itu sebenarnya yang
disesalkan. Konflik itu tidak diselesaikan secara baik-baik, tetapi kemudian
diselesaikan dengan kekerasan. Jadi, wacananya itu jangan didorong ke wacana
Islam-Kristen. Sebenarnya Islam-Kristen, dua-duanya, diperalat saja untuk
diadu domba. Untuk agenda mereka sendiri.

Apa agenda mereka?
Kalau saya melihat, ada tiga agenda mereka itu. Mereka itu kan akan
kehilangan dwifungsi di tingkat politik nasional. Untuk itu, mereka harus
mencari substitusi di akar rumput yang mantap. Substitusi itu adalah
territorial grip (cengkeraman teritorial). Cengkeraman teritorial itu hanya
bisa didapat kalau di suatu tempat ada kerusuhan, kemudian dikirim tentara.
Makin banyak tentara, sampai suatu saat jumlah tentara itu tidak pantas lagi
dengan status daerah militer. Yang tadinya itu kodim, kalau di situ sudah
enam batalyon, (maka) harus naik (ke) korem. Tadinya korem -kalau di situ
sudah 16 batalion-, naik lagi kodam. Itu kan berarti teritorial grip dari
militer makin mantap. Walaupun, di tingkat nasional, mereka kehilangan
dwifungsi.

Agenda kedua?
Agenda kedua, itu sebenarnya banyak jenderal terkait dengan Soeharto sangat
ketakutan dengan penyeretan Soeharto ke pengadilan. Sebab, kalau Soeharto
diseret diadili, itu sama dengan kita membuka penutup pandora box (kotak
pandora). Begitu dibuka, semuanya terurai. Dan, yang terurai itu adalah
birokrat-birokrat sipil dan militer yang selama ini memang mendukung dia.
Sebab itu, pengadilan Soeharto itu selama mungkin diulur. Buying time, ulur
waktu terus. Jadi, tujuannya untuk mengalihkan perhatian pemerintah pusat
sehingga sibuk dengan itu. Lalu, masalah ini tidak diutik-utik. Gitu.

Agenda ketiga?
Agenda ketiga lebih mutakhir, lebih kontemporer, yaitu pada saat
jenderal-jenderal yang terlibat dalam kejahatan di Timtim diseret ke KPP
HAM. Penyeretan jenderal-jenderal itu sebenarnya bisa distop oleh Presiden
Wahid. Tetapi, Presiden tidak menstop itu. Itu membuat tentara marah,
jenderal-jenderal marah. Pihak kedua yang membuat mereka marah adalah Komnas
HAM karena berani-beraninya menyeret jenderal-jenderal ke Komnas HAM. Negara
kita ini kan mayoritas Islam. Kemudian, kalau terjadi suatu pembantaian
terhadap umat Islam di suatu tempat tertentu, umat Islam seluruh Indonesia
akan bangkit. Coba kita lihat, Desember-Januari, pada waktu umat Islam di
Halmahera dibantai, itu hanya berjarak satu minggu, ada apel akbar di Monas
yang di situ Amien Rais datang. Itu kan jelas. Waktu apel akbar, kan Gus Dur
bilang bahwa ini orang-orang mau menggoyang saya. Gitu. Jadi, dampaknya yang
dinginkan sebenarnya di tingkat nasional.




->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke