Cerita ini sangat baik, agar kita tidak cepat mengambil kesimpulan.

tks

-----Original Message-----
From: Johanes [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, August 03, 2000 8:09 AM
To: Canda
Subject: [candaria] Artikel : Tukaang kayu



Tukang Kayu

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil.

Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda
putih

cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu.

Kuda seperti itu belum pernah dilihat begitu kemegahannya, keagungannya dan

kekuatannya.

Orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua
itu

selalu menolak,

"Kuda ini bukan kuda bagi saya," ia akan mengatakan. "Ia adalah seperti

seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan

milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat. " Orang itu miskin dan

godaan besar.

Tetapi ia tidak menjual kuda itu.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya.

Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua bodoh," mereka mengejek dia,

"Sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu.

Kami peringatkanmu bahwa kamu akan di rampok.

Anda begitu miskin. Mana mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu

berharga? Sebaiknya anda sudah menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja.

Harga setinggi apapun akan dibayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda

dikutuk oleh kemalangan.

Orang tua itu menjawab, "Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa
kuda

itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah

penilaian.

Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana

Anda dapat menghakimi?"

Orang protes, "Jangan menggambarkan kita sebagai orang bodoh! Mungkin kita
bukan

ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan. Fakta sederhana
bahwa

kudamu hilang adalah kutukan."

Orang tua itu berbicara lagi. "Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu
kosong

dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau
berkat,

saya tidak dapat katakan. Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja.
Siapa

tahu apa yang akan terjadi nanti?"

Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang
selalu

menganggap dia orang tolol; kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup
dari

uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin,
orang

tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya.
Uang

yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya
sengsara

sekali.

Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.

Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak di curi, ia lari ke
dalam

hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar

bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul sekeliling tukang potong
kayu

itu dan mengatakan, "Orang tua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap

kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami."

Jawab orang itu, "Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa
kuda

itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi

jangan menilai.

Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat?

Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui
seluruh

cerita, bagaimana anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman dari

sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu

kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan?

Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu
halaman

atau satu kata. Yang anda tahu hanyalah sepotong! Jangan katakan itu adalah

berkat.

Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu.

Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu."

"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata sa tu kepada yang lain.
Jadi

mereka tidak banyak berkata-kata. Tetapi di dalam hati mereka tahu ia salah.

Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda.

Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian
dijual

untuk banyak uang.

Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai
menjinakkan

kuda-kuda liar itu. Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda
dan

kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul sekitar orang tua itu
dan

menilai.

"Kamu benar," kata mereka, "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar. Selusin
kuda

itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua

kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk

membantumu.

Sekarang kamu lebih miskin lagi.

Orang tua itu berbicara lagi. "Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk

menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah

kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya

mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong."

Maka terjadilah 2 minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri
tetangga.

Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara.

Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia terluka.

Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan
berteriak

karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali

kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan

dimenangkan musuh.

Mereka tidak akan melihat anak-anak mereka kembali

"Kamu benar, orang tua," mereka menangis "Tuhan tahu kamu benar. Ini

membuktikannya. Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi
paling

tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya".

Orang tua itu berbicara lagi, "Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian.

Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini:

anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak. Tidak ada yang
tahu

apakah itu berkat atau kutukan. Tidak adayang cukup bijaksana untuk
mengetahui.

Hanya Allah yang tahu.

Orang tua itu benar. Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian.

Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman
dari

buku besar. Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan.Kita harus simpan
dulu

penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh
cerita.

Saya tidak tahu dari mana si tukang kayu belajar menjaga kesabarannya.

Mungkin dari tukang kayu lain di Galelia. Sebab tukang kayu itulah yang
paling

baik mengungkapkannya:

"Janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok mempunyai

kesusahannya sendiri. "

Ia yang paling tahu. Ia menulis cerita kita. Dan Ia sudah menulis bab
terakhir.



Di sadur dari : Chapter 15: In The Eye of The Storm - Max Lucado

  _____



  _____

Kirim email ke