Ini ada sebuah cerita yg cukup menyentuh hati. Saya ambil dari milis
tionghoa-net. Bagi saya tokoh penyemir sepatu dlm cerita ini jauh lbh
bermartabat drpd kebanyakan pejabat pemerintah kita plus pengusaha2 yg rakus
dan serakah baik terhadap kekuasaan, maupun harta.
Semoga bisa jadi bahan renungan.


----- Original Message -----
From: -= S a M s =- <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, August 08, 2000 6:08 PM
Subject: [t-net] Penyemir Sepatu Itu ....


> Seperti juga saudara Kella, saya juga lama ndak nengokin rumah kita
> ini, kalau begitu baiklah saya akan mencoba untuk rutin setiap minggu
> -- maaf baru bisa setiap minggu -- mempostingkan tulisan yang
> kira-kira bermanfaat untuk kita semua di milis ini,
>
> Ini ada cerita tentang penyemir sepatu dari milis sebelah. Semoga
> anda
> yang lebih beruntung bisa mensyukuri hidup anda. Terus terang,
> tulisan
> ini sungguh menyentuh bagi saya pribadi. Entah buat rekan-rekan yang
> lain. Selamat membaca dan ditunggu komentar anda.
>
> Atau mungkin di kehidupan keseharian ada yang mengalami kejadian yang
> mirip kisah ini. Senang kalau bisa berbagi.
>
> Jabat Erat,
>
>
> Penyemir Sepatu Itu
>
> Siang ini tadi yayangku tiba-tiba nelpon.
> Makan siang yuk, ajaknya. Oke, jawabku.
> So she picked me up at the lobby of
> Jakarta Stock Exchange building.
>
> Selepas SCBD, kami masih belum ada ide
> mau makan dimana. Ide ke soto pak Sadi
> segera terpatahkan begitu melihat bahwa
> yang parkir sudah sampai sebrang-sebrang.
>
> Akhirnya kami memutuskan makan gado-gado
> di Kertanegara. Bisa makan di mobil soalnya.
> Sampai di sana masih sepi. Baru ada beberapa
> mobil. Kami masih bisa milih parkir yang enak.
> Mungkin karena masih pada jumatan.
>
> Begitu parkir, seperti biasa, joki gado-gado
> sudah menanyakan mau makan apa, minum apa.
> Kami pesan dua porsi gado-gado + tehbotol.
>
> Sambil menunggu pesanan, kami pun ngobrol.
> So, ketika tiba2 ada seorang pemuda lusuh
> nongol di jendela mobil kami, kami agak
> kaget. "Semir om?", tanyanya.
>
> Aku lirik sepatuku. Ugh, kapan ya
> terakhir aku nyemir sepatuku sendiri?
> Aku sendiri lupa. Saking lamanya.
> Maklum, aku kan karyawan sok sibuk...
> Tanpa sadar tanganku membuka sepatu
> dan memberikannya pada dia.
>
> Dia menerimanya lalu membawanya ke
> emperan sebuah rumah. Tempat yang
> terlihat dari tempat kami parkir.
> Tempat yang cukup teduh. Mungkin
> supaya nyemirnya nyaman.
>
> Pesanan kami pun datang. Kami makan
> sambil ngobrol. Sambil memperhatikan
> pemuda tadi nyemir sepatuku.
> Pembicaraan pun bergeser ke pemuda itu.
>
> Umur sekitar 20-an. Terlalu tua untuk
> jadi penyemir sepatu. Biasanya pemuda
> umur segitu kalo tidak jadi tukang
> parkir or jadi kernet, ya jadi pak ogah.
>
> Pandangan matanya kosong. Absent minded.
> Seperti orang sedih. Seperti ada yang dipikirkan.
> Tangannya seperti menyemir secara otomatis.
> Kadang2 matanya melayang ke arah mobil-mobil
> yang hendak parkir, (sudah mulai ramai).
> Lalu pandangannya kembali kosong.
>
> Perbincangan kami mulai ngelantur kemana-mana.
> Tentang kira2 umur dia berapa, pagi tadi dia
> mandi apa enggak, kenapa dia jadi penyemir dll.
>
> Kami masih makan saat dia selesai menyemir.
> Dia menyerahkan sepatunya padaku. Belum lagi
> dia kubayar, dia bergerak menjauh, menuju
> mobil-mobil yang parkir sesudah kami.
>
> Mata kami lekat padanya.
> Kami melihatnya mendekati sebuah mobil.
> Menawarkan jasa. Ditolak. Nyengir.
> Kelihatannya dia memendam kesedihan.
> Pergi ke mobil satunya. Ditolak lagi.
> Melangkah lagi dengan gontai ke mobil
> lainnya. Menawarkan lagi. Ditolak lagi.
> Dan setiap kali dia ditolak, sepertinya
> kami juga merasakan penolakan itu.
> Sepertinya sekarang kami jadi ikut
> menyelami apa yang dia rasakan.
>
> Tiba-tiba kami tersadar.
> Konyol ah. Who said life would be fair anyway.
> Kenapa jadi kita yang mengharapkan bahwa
> semua orang harus menyemir ? hihihi...
>
> Perbincangan pun bergeser ke topik lain.
> Di kejauhan aku masih bisa melihat pemuda tadi,
> masih menenteng kotak semirnya di satu tangan,
> mendapatkan penolakan dari satu mobil ke mobil
> lainnya. Bahkan, selain penolakan, di beberapa
> mobil,
> dia juga mendapat pandangan curiga.
> Akhirnya dia kembali ke bawah pohon.
> Duduk di atas kotak semirnya.
> Tertunduk lesu...
>
> Kami pun selesai makan.
> Ah, iya. Penyemir tadi belum aku bayar.
>
> Kulambai dia. Kutarik 2 buah lembaran ribuan
> dari kantong kemejaku. Uang sisa parkir.
> Lalu kuberikan kepadanya.
> Soalnya setahuku jasa nyemir biasanya 2 ribu rp.
>
> Dia berkata kalem "Kebanyakan om. Seribu aja".
> BOOM. Jawaban itu tiba-tiba serasa petir di hatiku.
> It-just-does-not-compute-with-my-logic!
>
> Bayangkan, orang seperti dia masih berani
> menolak uang yang bukan hak-nya.
>
> Aku masih terbengong-bengong waktu nerima
> uang seribu rp yang dia kembalikan.
> Se-ri-bu Ru-pi-ah. Bisa buat apa sih sekarang?
> But, dia merasa cukup dibayar segitu.
>
> Pikiranku tiba-tiba melayang.
> Tiba-tiba aku merasa ngeri.
> Betapa aku masih sedemikian kerdil.
> Betapa aku masih suka merasa kurang dengan gajiku.
> Padahal keadaanku sudah -jauh- lebih baik dari dia.
>
> Allah sudah sedemikian baik bagiku,
> tapi perilaku-ku belum seberapa dibandingkan
> dengan pemuda itu, yang dalam kekurangannya,
> masih mau memberi, ke aku, yang sudah berkelebihan.
>
> Siang ini aku merasa mendapat pelajaran berharga.
> Siang ini aku seperti diingatkan.
> Bahwa kejujuran itu langka.
>
> (ANONIM)
>
>
>
>
>
> --------------------------------------------------------------------<e|-
> Find long lost high school friends:
> http://click.egroups.com/1/8016/12/_/71765/_/965732901/
> --------------------------------------------------------------------|e>-
>
> -=Gunakan bahasa yang sopan dan bersikap dewasa=-
>
> Klik saja : http://www.glodoktoday.com
> Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
> Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
>
> Motto : Persahabatan, Perdamaian dan Harmoni
>


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke