Dari RNSI, Gema Warta edisi 11/08-00:
* APAKAH KWIK KIAN GIE FIGUR YANG COCOK UNTUK JABATAN MENTERI UTAMA

Setelah mengundurkan diri, Kwik Kian Gie menyatakan kesediaannya
menjadi menteri utama. Keinginan itu disampaikannya sesaat setelah
bertemu Wapres Megawati dan Presiden Abdurrahman Wahid semalam di
Hotel Hilton. Menurut Kwik, Gus Dur sangat menerima baik alasan
pengunduran dirinya. Kalau jabatan menteri utama itu ada, apakah Kwik
Kian Gie figur yang cocok untuk jabatan. Kami menghubungi anggota DPR
dari PDI-P, Didi Supriyanto dan menanyakan seberapa besar kapasitas
Kwik Kien Gie untuk posisi itu.

Didi Supriyanto [DS]: Ya, tentunya sebagai kader dari PDI-P apabila
Pak Kwik itu ditempatkan di dalam kabinet yang akan datang, pasti
sudah barang tentu kita dukung.Cuma masalahnya kalau Pak Kwik itu
akhirnya dipersiapakan sebagai menteri utama mungkin konsep ini yang
tidak kita setujui. Saya khususnya berpendapat bahwa  konsep menteri
utama ini, ini sama saja mereduksi tugas atau kewenangan wakil
presiden. Toh ada wakil presiden, ngggak perlu ada menteri pertama.
Jadi tugas sehari-hari itu sesuai dengan apa yang sudah disampaikan
oleh presiden akan diberikan  kepada wakil presiden. Itu sudah betul,
tinggal membentuk kabinetnya saja ke depan. Jadi nggak perlu ada
menteri utama. Tetapi kalau Pak Kwik digunakan sebagai menteri utama,
kalau konsep itu tetap jalan, ini kan akan sangat sulit posisi Pak
Kwik dan juga posisi Ibu Mega sebagai wakil presiden.

Radio Nederland [NL]: Salah satu latar belakang pemikirannya karena
Pak Kwik dan Ibu Mega itu sudah saling mengenal sampai pada konsep
pemikiran mereka, dan menteri utama ini kan sebagai pembantu wakil
presiden. Apakah anda melihat ini suatu kerangka yang sangat bagus?

DS: Saya kurang setuju dengan ide menteri utama itu. Kalau mau
dibagikan tugas itu, langsung saja pada wakil presiden. Kemudian
wakil presiden mempertanggungjawabkan kepada presiden. Sedangkan
menteri-menteri itu di bawah koordinasi wakil presiden sebagai
pelaksana harian nantinya.

RN: Tetapi anda tidak keberatan kalau misalnya Kwik Kian Gie diplih
kembali oleh Megawati atau Gus Dur untuk duduk kembali dalam kabinet?

DS: Sangat tidak keberatan dan sangat saya dukung karena memang Pak
Kwik itu seorang kader kita yang punya profesionalisme dan moral
hazard yang tinggi. Jadi sayang kalau macam Pak Kwik itu tidak
digunakan di dalam klabinet mendatang. Saya sangat mendukung Pak Kwik
untuk duduk di kabinet kembali.

RN: Dengan pengunduran diri Kwik kemarin, anda lihat ini ada aspek
politik yang kuat?

DS: Kalau saya bicara dengan Pak Kwik, tadi malam saya panjang lebar
juga mendengarkan apa-apa yang disampaikan Pak Kwik. Tidak ada
tersirat bahwa selain memberikan kewenangan penuh kepada presiden dan
juga rencana presiden untuk merestrukturisasi dan mereshuffle kabinet
sehingga  Pak Kwik ambil ancang-ancang  mundur lebih dulu.

RN: Kembali kepada ide menteri utama, ini Pak Kwik sudah menyatakan
kesediaan. Bagaimana tanggapan anda?

DS: Saya pribadi tidak setuju dengan adanya konsep menteri utama.
Jadi kalaupun Pak Kwik digunakan lagi dalam kabinet, tidak perlu
menteri utama karena posisinya akan sangat sulit dengan posisi bu
Mega sebagai wakili presiden.

Demikian Didi Supriyanto, anggota DPR dari PDIP. Sementara itu, Ade
Komaruddin dari Partai Golkar mengatakan, Kwiek Kian Gie yang
mempunyai komitmen bagi pemerintahan bersih, sebaiknya menduduki
posisi sebagai pengawas, dan tidak perlu dalam kabinet.

Ade Komaruddin [AK]: Saya tidak mau berkomentar terlalu jauh soal itu
oleh karena terlalu prematur kita membahas hal-hal yang menyangkut
soal posisi. Kita belum mendapatkan  kesimpulan dari evaluasi
terhadap kinerja presiden yang di sampaikan melalui progress report
beberapa hari yang lalu dan sekarang sedang dalam persiapan
pembahasan oleh Komisi C yang membidangi penilaian terhadap
lembaga-lembaga tinggi negara. Jadi terlalu dini kita untuk membahas
hal-hal seperti itu.

RN: Kalau misalnya jabatan itu tetap ada, anda melihat Kwik Kian Gie
figur yang tepat untuk itu?

AK: Sebaiknya menurut saya, dia pada posisi karena dia terlalu
idealis dan sangat memikirkan mengenai bagaimana pemerintahan ini
agar clean (bersih, red). Sebaiknya dia pada  posisi di  BPK atau
sebuah portofolio yang membidangi mengenai pengawasan pembangunan.
Saya pikir itu. Jadi apa yang disampaikan barusan oleh Bapak mengenai
menteri utama, menurut saya adalah salah kaprah. Dan itu sebaiknya
diserahkan peranan atau posisi itu langsung pada wakil presiden
sesuai dengan yang disampaikan oleh presiden kemarin bahwa tugas
sehari-harinya akan dijalankan oleh wakil presiden.

RN: Pengunduran diri Kwik Kian Gie. Anda melihat ini suatu pukulan
besar  buat Gus Dur?

AK: Saya kira itu tidak merupakan pukulan besar karena memang sudah
diketahui di mata politik bahwa dia tidak mendapat kepercayaan dari
presiden. Karena itu  saya pikir tidak merupakan sesuatu yang luar
biasa di mata Gus Dur. Dan sudah kita ketahui bahwa beliau ini sudah
sejak lama ingin mengundurkan diri cuma partainya tidak menginginkan,
begitu kan.

RN: Kalau menteri utama itu diberikan kepada Kwik Kian Gie, ini kan
selalu berurusan dengan Megawati Soekarnoputri, dan keduanya sudah
saling mengenal dan itu pasti sangat efektif. Tanggapan anda?

AK: Ya saya pikir itu sebagai anggota kabinet lainnya tapi tidak pada
posisi menko utama. Jadi kita harus ada perubahan besar-besaran dalam
hal itu. Yang penting adalah bahwa tim ekonomi harus dipegang oleh
orang-orang profesional. Itu jauh lebih bagus, orang-orang yang
birokrat profesional maupun orang yang mengerti secara dalam mengenai
hal itu dan telah lama mengecap pengalaman birokrasi di bidang
ekonomi. Nah saya pikir para pengamat jangan terlalu banyak masuk ke
area itu. Oleh karena menurut saya mereka tidak mengenal betul
bagaimana situasi birokrasi di Indonesia. Saya lebih merekomendasikan
agar portofolio-portofolio di bidang ekonomi lebih baik diisi oleh
orang-orang yang memang secara pengalaman adalah birokrat-birokrat
profesional, teknokrat-teknokrat yang mengerti betul alur birokrasi
tapi juga mengerti betul soal konsep pembangunan ekonomi.

Demikian Ade Komarrudin dari Partai Golkar.


* GUS DUR MENGANGKAT SEORANG MENKO, GOLKAR INGINKAN JABATAN INI

Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan akan mengangkat seorang Menteri
Koordinator untuk membantu Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri
menjalankan tugas pemerintahan sehari-hari. Ketika membuka Rakornas
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama  di Jakarta, Jumat, Gus Dur
menyatakan, pengangkatan seorang Menko itu sengaja tidak
diberitahukan di Rapat Paripurna MPR, karena ia ingin orang
mengetahuinya sebagai sebuah fakta saja. Presiden mengatakan,
sidang-sidang kabinet mendatang akan dipimpin oleh Wapres Megawati
Soekarnoputri. Lebih lanjut koresponden Syahrir mengirim laporan
berikut dari Jakarta:

Ketika menyinggung pembagian tugas pemerintahan dari Presiden kepada
Wapres, Gus Dur meluruskan pemberitaan bahwa yang dibagi itu adalah
tugas-tugas pemerintahan bukan wewenang, dan hal itu sudah disetujui
oleh Megawati dan pimpinan MPR. Pada bagian lain Presiden menyatakan
bahwa ia tidak akan menerima Ketetapan MPR dalam pembagian tugas
pemerintahan tersebut karena dinilai bertentangan dengan konstitusi.
Menurut Presiden, pembagian tugas-tugas pemerintahan sehari-hari
tersebut adalah urusan intern eksekutif.

Saat ini, demikian Presiden, semua fraksi MPR sudah menyatakan tidak
akan membuat Tap tentang pembagian tugas pemerintahan tersebut. Ada
yang mengatakan, langkah Gus Dur itu adalah dalam rangka memperkuat
kembali posisinya setelah ia dalam posisi terjepit terpaksa
menyerahkan urusan dalam negeri kepada Megawati. Menurut pemimpin
kelompok Petisi 50 Ali Sadikin ulah anggota-angota MPR selama ini
semata-mata untuk melakukan pemerasan politik terhadap kekuasaan Gus
Dur. Misalnya saja, usulan pemisahan wewenang kepemerintahan
Presiden. Pemisahan itu merupakan upaya memeras hak politik Gus Dur
hingga titik paling minimal, demi sebuah politik dagang sapi.

Ali Sadikin dalam suatu siaran pers kemarin mengingatkan kekuatan
unsur-unsur Orde Baru, khususnya Golkar yang masih dominan. Ia juga
menilai, proses politik di parlemen telah digunakan unsur kekuatan
lama  membersihkan diri  dan menyembunyikan diri dibalik jubah
reformis. Ia juga berpendapat, beberapa fraksi di MPR dengan sengaja
berusaha menggiring pendapat publik bahwa ketidakefektifan
pemerintahan saat ini merupakan kesalahan Gus Dur semata.

Padahal, menumpukan kesalahan hanya kepada Presiden tidaklah adil.
Apalagi, kenyataannya, Gus Dur memimpin sebuah kabinet yang juga
mengakomodasi keinginan partai-partai lain. Ini, katanya juga harus
dilihat sebagai sumber persoalan ketidakefektifan Kabinet Persatuan
Nasional. Meski demikian, Ali Sadikin menilai pemerintahan Gus Dur
memang lamban dalam menyelesaikan masalah-masalah krusial, seperti
pemulihan ekonomi, konflik Maluku dan penegakan hukum. Sedangkan
mengenai masalah perombakan kabinet, menurutnya, itu merupakan hak
Presiden yang dilindungi UU. MPR, menurut dia juga tidak berhak ikut
campur. Sudah waktunya para anggota MPR bercermin dan mengevaluasi
diri untuk tidak terlalu jauh ikut campur pada kekuasaan pemerintah
yang bukan wilayahnya. Demikian mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.


Kalangan politik lain mengatakan, untuk sementara Gus Dur bisa lolos
dari ranjau-ranjau politik di MPR. Tetapi keterangannya bahwa ia akan
mengangkat seorang Menko di bawah Megawati sebenarnya merupakan
usahanya untuk keluar dari kepungan Mega. Maka Golkar yang merasa
terlempar keluar dari pertarungan berusaha untuk masuk kembali dengan
mengusulkan dua orang Menko. Hal ini diusulkan oleh Akbar Tandjung,
Ketua Umum Golkar. Jelas Golkar ingin menempatkan orangnya sebagai
salah seorang Menko. Sedangkan Gus Dur dapat diperkirakan akan
mengangkat seorang militer. Bukankah militer telah membuat aliansi
dengan Megawati sehingga PDI Perjuangan memasukan kepentingan
TNI/POLRI dalam amandemen UUD 45. PDI P yang sudah merasa berada di
atas angin, tentu akan memprotes usulan Gus Dur maupun Akbar Tandjung
itu.

Konstelasi politik pekan ini nampaknya merugikan Golkar. Padahal
Golkar justru yang semula memulai serangan terhadap Gus Dur.
Sebagaimana dikatakan seorang anggota DPP Golkar: "kami diperdaya
oleh Taufik Kiemas". Tetapi Akbar Tanjung mengatakan Golkar siap
membantu Gus Dur menyusun kabinet, jika diperlukan. Hal ini
semata-mata dilakukan Golkar demi kesuksesan dan perbaikan bangsa
Indonesia.

Dua hari yang lalu,  Gus Dur sudah mengatakan 60% anggota kabinet
mendatang akan berasal dari kalangan professional. Sedangkan sisanya
akan merupakan hasil koalisi antar partai. Ketua MPR RI, Amin Rais
telah mendukung rencana Gus Dur tersebut. Tetapi ia berharap, mereka
harus lebih professional dan berdedikasi. Kalau menteri yang diambil
karena alasan teman atau kroni tentu Rakyat akan marah. Tetapi Gus
Dur tentu akan merasa lebih tenang dengan teman, kroni, keluarga dan
calon yang direkomendir oleh pengusaha tertentu. Tetapi bukankah
Megawati  dalam menyusun kabinetnya juga akan melakukan hal yang
sama.






->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke