Masih kalah lucu dibanding 'kapal silem berjendela'

On Fri, 18 Aug 2000 16:10:54 +0700, [EMAIL PROTECTED] wrote:

>  Jakarta Agustus 2001. Usulan paksaan sholat dan puasa lewat pasal 29
sudah
>  satu tahun. Orang sudah hampir lupa , kecuali milis Kuli Tinta. Rekor
thread
>  amandemen & kapal silem tidak bisa berhenti walaupun sudah lewat empat
juta
>  posting. Berkat semangat kelompok yang kuat dan fanatik keroyokan yang
tidak
>  mengenal malu, dan berkat stamina WAM yang mengagumkan. Mirip betul
dengan
>  cerita silat Cina.
>  
>  Maka Isu amandemen baru pasal 29 menggegerkan dunia kang-ouw. Etnis Jawa
>  yang mayoritas minta tambahan tujuh kata untuk pasal itu : "mewajibkan
>  memakai blangkon pada semua suku Jawa".  ( note: blangkon, kopiah ikat
>  kepala khas Jawa).
>  
>  Suku Jawa adalah mayoritas penduduk negeri. Tapi bagi para pemerhati,
>  keadaan suku dan segenap budaya-nya amat memprihatinkan. Apalagi dengan
jauh
>  dari keadilan, gagalnya tiga presiden dihubung-hubungkan dengan kejawaan
>  mereka. Muncullah tuduhan jahat tentang ke-Kadaluarsaan Kebudayaan Jawa.
Lho
>  !? Tidak adil, tho!?. Belum lagi lunturnya budaya orang Jawa, seperti
malas
>  menggunakan bahasa Jawa, memakai nama asing seperti Abdurrachman atau
>  Abdullah , dll. Miskinnya apresiasi kepada wayang, ruwatan, dsb.
>  
>  Maka dalam usaha step-by-step membangun kembali semangat dan keluhuran
>  budaya nenek moyang, maka sekelompok elit politik Jawa dengan cara
>  konstitusinal berniat mengusulkan amandemen pasal 29. Dalam
pertimbangannya
>  tidak lupa mereka memperhitungkan akibat ekonomi dari usulan dengan
teliti.
>  Seratus juta blangkon bakal di produksi ( paten pun telah didaftarkan
oleh
>  kader cerdas PDIP. Taufik Kemas ? ). Kalau sebuahnya di patok seharga
20.000
>  rupiah, tinggal mengalikan saja. Kalau sebuah blangkon cuma bertahan enam
>  bulan, bayangkan siklus ekonomi dalam negeri ! Mungkin kita bisa bicara :
>  "Good Bye, IMF !".
>  
>  Seperti telah diduga semula, belum-belum NTT minta merdeka. Langganan...,
>  kata seseorang. Apa hubungannya dengan kepala orang NTT ? . "Tidak bisa
>  diterima!" kata pak Kromo ketus," ini urusan intern orang Jawa, yang lain
>  lebih baik bungkam saja!". " Kenapa cemburu dengan soal budaya lain suku
?"
>  . " Apa mereka tidak paham soal ruang-publik?" balas mister Ballunk
Krinjk,
>  " Kalau naik oplet jangan merokok dan mengeluarkan anggota badan !".  "
UUD
>  kok mau di campur-campur blangkon?"
>  
>  Sebetulnya kalau orang NTT atau orang-orang yang sudah kadung nek pada
orang
>  Jawa mau tenang sedikit. Mau bijaksana, amandemen yang diusulkan bakal
sulit
>  lolos. Bayangkan saja, usulan memakai blangkon oleh para fanatik Jawa
agak
>  kebablasan. Kaum wanita dan anak-anak tidak luput dari sasaran kewajiban
>  memakai blangkon itu ! Bayangkan reaksi mantan Menteri Sosial Mien
Sugandhi:
>  " Dug-dag-dug...geludug..." ..., Permadi pun bisa mencelat kehabisan
oksigen
>  ...! Pasti gagal. Tapi rasa sebel melihat Jilbab..., eh salah !,  sebel
>  melihat Jowo kok bisa mengalahkan kesabaran dan kebeningan dan
>  persaudaran... Mestinya soal Suharto Jowo adalah soal yang tidak ada
>  urusannya dengan itu semua.. Orang Jawa seharusnya dibiarkan untuk
berantem
>  sendiri. Sadis , tapi adil. Ya, tho!? Ya, tho!?
>  
>  Tapi amandemen Jowo tersebut bakal lewat. Amandemen tersebut, seperti
>  amandemen tahun yang lalu,  cuma memperkaya democratic-excercises  para
>  anggota perwakilan kita.......
>  
>  Wassalam
>  Abdullah Hasan.
>  
>  
>  
>  
>  
>  ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
>  Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
>  Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>  Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>  
>  Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>  
>  
>  
>  
>  
>  
>  
>  
>  
>  
>  
>





_______________________________________________________
Say Bye to Slow Internet!
http://www.home.com/xinbox/signup.html


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke