--- Rury <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Dan saya dukung
> terhadap si Ivan dan Lewis. Saya pernah baca beberapa tulisannya. Coba anda
> jelaskan lebih rinci tentang persamaan tiori kelasiknya Mark dengan mereka.

Saya enggak akan menulis perkara tiori-tiori kapitalisme ataupun sosialisme. Tapi yang 
akan
disoroti adalah asumsi dasarnya. Dan ini telah jadi polemik lama antara penganut 
materialisme
dialektik (para marxis dan non marxis) dengan pendapat Lewis Mumford serta Ivan Illich.

Penganut materialisme dialektik percaya bahwa secara faktual -jadi historis, konkrit, 
tidak
abstrak- alat-alat bikinan manusialah (teknologi/alat produksi) yang telah membuat 
manusia menjadi
manusia. Ketrampilan menemukan perkakaslah yang membentuk kebudayaan manusia. Homo 
faber-lah yang
membuat manusia jadi homo sapiens. Dengan alat-alat itu manusia berproduksi. Namun 
dalam proses
produksi (pembangunan) mau tidak mau kita harus menerima limbah dari proses produksi 
(pembangunan)
itu. Marx menamai proses ini sebagai fetisisme yakni pembendaan manusia dalam proses 
produksi
(khas kapitalistik) karena alat produksi sudah jadi tuan dari manusia.

Lewis Mumford membantah pandangan bahwa ketrampilan menemukan perkakaslah yang 
membentuk
kebudayaan manusia itu. Lewis berpendapat (ini diambil dari buku 'Dampak Teknologi pada
Kebudayaan',ybm) bahwa kemampuan manusia membaca lambang-lambang beserta 
pemaknaannyalah yang
membentuk aktifitas kehidupan manusia. Bukan pertama-tama kemampuan untuk mencari 
'sesuap nasi'
(penunjang kehidupan materialistisnya) belaka, melainkan kemampuannya untuk menangkap 
menghayati,
dan memberi makna kepada lambang-lambang. Lambang-lambang itu terungkap dalam 
upacara-upacara,
kesenian, bahasa sastra, puisi, drama, musik, tarian-tarian, ilmu pengetahuan, mitos, 
agama, dan
dimensi-dimensi imajinatif serta rohaniah lainnya. Lebih lanjut Lewis berpendapat 
bahwa kita telah
terperangkap dalam sikap memitoskan mesin. Manusia pertama-tama bukan homo faber, 
manusia tukang
pembuat perkakas, melainkan manusia yang memberi makna dan membuat lambang-lambang 
pemaknaan
hidupnya. Dunia tumbuh-tumbuhan dan hewan pun sebenarnya makhluk2 yang sudah mampu 
membuat
perkakas. Gambaran manusia pembuat perkakas ini telah begitu dalam masuk dalam benak 
manusia
(Barat) sehingga perlu dibenahi. Dibutuhkan brain washing dalam soal ini sebab "hanya 
dengan
membentuk penyaluran-penyaluran budaya, manusia dapat menggali, mengendalikan 
sepenuhnya, serta
memanfaatkan ciri wataknya sendiri, baik di dalam rasional maupun di luar yang 
rasional, nilai
manusia ada pada proses mengidentifikasi dan bertransformasi diri.

Sejajar dengan pendapat Lewis adalah pendapat Ivan Illich. Manusia menciptakan 
alat-alat sesuai
dengan watak, selera, serta visi hidupnya. Sebaliknya alat pulalah yang membentuk 
manusia secara
konkrit dalam pelaksanaan perbuatan-perbuatannya. Ada dua jenis alat. Yang satu adalah 
alat yang
kita kenal dalam dunia peradaban industri sekarang ini, yakni alat yang manipulatif. 
Yang kedua
yang dicita-citakan bagi hari depan, ialah alat yang bersifat konvivial (konvivial 
dari kata con =
ikut, bersama, berpadu; vivere=hidup; konvivial=hidup bersama atau memberi kesempatan 
kepada orang
lain untuk menghidupi kehidupan yang ia pilih sendiri).

Perbedaan manipulatif dan konvivial tidak sama dengan perbedaan antara teknologi 
tinggi dan
rendah, industri canggih dan industri sederhana.  Masyarakat yang manipulatif 
menciptakan
alat-alat yang bersifat manipulatif. Masyarakat konvivial menciptakan alat-alat yang 
berciri
konvivial. Begitu juga sebaliknya pengaruh alat terhadap manusia.

Yang terpenting pada suatu masyarakat konvivial bukanlah tidak adanya lembaga-lembaga 
manipulatif
dan barang-barang lebih dari cukup secara mutlak. Akan tetapi dalam masyarakat harus 
tercapai
keseimbangan antara alat-alat semacam itu dengan penciptaan pemenuhan 
kebutuhan-kebutuhan spesial
yang khas pribadi bagi orang beserta pelengkapnya, yakni alat-alat yang memupuk 
realisasi diri
manusia, yang mencipta kembali secara terus-menerus relasi-relasi antarmanusia dan 
dunia keliling
mereka dengan kemerdekaan yang berpandangan luas, penuh ekspresi diri.

Masyarakat industri dengan segala macam pertentangan kapitalis sosialis suatu saat 
pasti akan
sampai pada terminalnya. Bagaimana ujungnya? Kita tidak tahu. Apakah seperti rontoknya
budaya-budaya saat budaya klasik yang dibawa oleh Alexander Agung, ataukah lebih 
mengerikan lagi,
kita tidak tahu. Namun perlu diusahakan bentuk-bentuk masyarakat lain. Apakah 
masyarakat sosialis
yang dibayangkan (sosialisme utopis menurut tulisan Ruslan Abdulgani) sejajar dengan 
masyarakat
konvivial ini, saya harap pak Mashuri bisa menjawabnya.

Perkara kelas menengah, saya setuju dengan uraian pak Mashuri. Kelas menengah kita ini 
dengan jitu
telah disimbolkan oleh Pram dengan tokoh Sastro Kassier dalam melawan Tuan 
administratur Frits
Homerus Vlekkenbaaij dalam Anak Semua Bangsa. Sebenarnya cerita ini historis ada dan 
bisa dibaca
di  "Tjerita Nji Paina, satoe anak gadis jang amat satia. Satoe tjerita amat indahnya, 
jang belon
sebrapa lama soedah terdjadi di djawa Wetan", Terkarang Oleh Toean H. Kommer, Batavia, 
Tertjitak
di pertjitakan toean-toean A. Veit & Co., Batavia 1900. Pram menyebut kejadiannya di 
Tulangan
Sidoarjo.

sudah dulu capek ngetik
agusssss

nb:Terima kasih pak Mashuri (pak Mashuri ini dosen ya?)


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Yahoo! Mail - Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/

->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke