.
dari Radio Nederland Seksi Indonesia (13/09/00)
* POSISI GUS DUR TERHADAP KALANGAN MILITER KELIHATAN MAKIN MELEMAH
Ledakan bom di Bursa Efek Jakarta kemarin seolah membenarkan dugaan
banyak kalangan bahwa Presiden Abdurrahman Wahid mulai kehilangan
kontrol atas pemerintahannya. Lebih dari itu, banyak kalangan melihat
bahwa tentara sekarang lebih bebas bergerak, seolah-olah mereka
kembali berada di jaman Orde Baru lagi. Pembunuhan tiga staf UNHCR di
Atambua pekan lalu merupakan bukti leluasanya tentara dalam
bertindak. Lebih lanjut, berikut laporan koresponden Syahrir dari
Jakarta:
Mantan presiden Soeharto hari Kamis pagi ini kembali dipanggil
menghadap ke pengadilan. Tetapi sudah dapat diduga bahwa ia
kemungkinan besar lagi-lagi tidak akan hadir. Maka kalau Rabu kemarin
ada ledakkan bom yang mengguncangkan Jakarta orang pun sudah tidak
heran. Dan dengan gampang pula masyarakat Indonesia menuduh kelompok
Cendana berada di belakang terror bom itu. Soalnya setiap Soeharto
mau diadili ada kerusuhan atau terror bom. Kesan di masyarakat ini
sulit dihindari.
Tetapi ada pula kesan lain di sebagian masyarakat bahwa kejaksaan
agung yang dipimpin Marzuki Darusman berusaha keras meloloskan mantan
Presiden Soeharto. Dari awal tidak nampak kejaksaan serius mau
menyeret Soeharto ke pengadilan. Surat tuduhan terhadap Soeharto pun
sangat lemah. Direktur PBHI Hendardi pun kemarin meminta masyarakat
mengontrol peradilan dengan ketat mengingat sekarang ini jelas nampak
bahwa peradilan digunakan untuk meloloskan para penjahat politik dan
ekonomi. Wakil Ketua DPR RI A. M. Fatwa juga mensinyalir akhir-akhir
ini Presiden Abdurrahman Wahid bersikap setengah hati terhadap
pengadilan mantan Presiden Soeharto karena mengatakan akan mengampuni
Soeharto. Ini sebetulnya tidak boleh dilakukan Presiden, ujar Fatwa
kepada pers kemarin. Seharusnya Gus Dur menunggu dahulu hasil
persidangan Soeharto, katanya. Bahkan kalangan pemimpin mahasiswa
reformis mencurigai pihak Cendana sudah menyerahkan sejumlah dana
yang dahulu diminta oleh pemerintah. Sehingga persidangan Soeharto
ini sebenarnya hanyalah sandiwara belaka.
Sementara itu hingga kemarin malam 10 orang dari 24 korban ledakkan
di lantai parkir gedung Bursa Effek Jakarta Rabu sore, masih dirawat
di rumah sakit Pertamina Kebayoran Baru. Sebagian besar korban yang
dirawat, menderita luka di mata karena terkena pecahan kaca. Ledakkan
bom tersebut menurut stasiun televisi RCTI berasal dari sebuah mobil
kijang di lantai parkir di bawah tanah. Kapolri Rusdihardjo yang
kebetulan adalah kerabat keluarga Cendana, kemarin mengimbau
masyarakat agar tidak menghubungkan ledakkan tersebut dengan
persidangan Soeharto hari Kamis. Ia juga meminta maaf kepada
masyarakat karena kasus-kasus peledakkan bom di Indonesia hingga
kini belum terungkap. Kapolri Rusdihardjo akhir-akhir ini memang
sedang disorot masyarakat karena kegagalannya itu.
Selain Kapolri yang juga disorot adalah Menko Polsoskam Susilo
Bambang Yudhoyono yang dinilai kurang mampu menjaga keamanan negara.
Susilo ternyata tidak banyak berbeda dengan para pendahulunya yaitu
Wiranto dan Suryadi Sudirdja yang ketika menjabat menko polkam
seolah-olah membiarkan terror berkembang biak. Bedanya kedua orang
itu dengan Susilo Bambang Yudhoyono adalah pada kepercayaan Gus Dur.
Presiden RI ini sangat percaya bahwa Susilo mampu mengendalikan TNI
dan Polri sehingga keamanan akan lebih terjamin jika Menko Polsoskam
dipegang Susilo. Tetapi Gus Dur kini kecewa dengan orang pilihannya
itu. Maka Jum'at besok Susilo ditugaskan menjelaskan kepada para
dubes di Jakarta apa sesungguhnya yang telah terjadi di Atambua
beberapa hari yang lalu. Susilo pun ditugaskan bertolak ke markas PBB
di New York untuk meyakinkan Dewan Keamanan PBB agar tidak mengirim
misi ke Atambua.
Menurut Menlu Alwi Shihab kemarin Indonesia menginginkan hanya
dubes-dubes yang ada di Jakarta saja yang pergi ke Atambua. Tampaknya
bagi Jakarta suatu pengiriman tim PBB ke Atambua hanya akan
mempermalukan Indonesia. Anehnya, seolah mengancam PBB, kepada
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Madeleine Albright, Menteri Luar
Negeri Indonesia Alwi Shihab justru mengatakan bahwa kunjungan utusan
PBB bisa menimbulkan kekecewaan dan balas dendam dari pihak milisi
dan TNI di sana jika PBB kemudian mengirim kembali stafnya ke NTT
atau Timor Barat.
Ini semuanya sesungguhnya menunjukkan bahwa posisi Gus Dur terhadap
militer kian hari kian lemah, ujar seorang diplomat Asean. Hal ini
utamanya disebabkan Gus Dur telah menggeser perwira-perwira yang
loyal kepadanya dan menggunakan perwira-perwira pro Cendana atas
desakan Megawati. Di samping itu, karena pernah dibantu Soeharto dan
Mbak Tutut, maka sebagaimana halnya dengan Habibie, Gus Dur tidak
bisa bersikap tegas terhadap Soeharto dan kroni-kroninya. Tampaknya
hanya seorang presiden yang pernah dipenjarakan oleh Soeharto yang
bisa menahan Soeharto dan kroni-kroninya
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!