Gugatan dari Tentena, Poso
oleh : S. Sinansari Ecip.
Tentena hanyalah sebuah kota kecil, ibukota kecamatan Pamona Utara. Letaknya
ditepi Danau Poso, pada ketinggian 500 meter. Sinode gereja Kristen Sulawesi
Tengah( GKST ) berada diwilayah sini.
Ditepi pantai, kalangan Islam masuk melalui perdagangan. Tidak heran
kemudian pemeluk Islam menguasai daerah pantai Poso dengan orang Kristen di
egunungan. Kehidupan sehari-hari mereka baik-baik saja. Mereka rukun,
bantu-membantu. namun, letupan kecil menjadi besar.
Kerusuhan Poso berlangsung tiga kali. Kerusuhan pertama dan kedua, menurut
pihak Kristen, yang menjadi korban adalah mereka. Ini masih bisa
diperdebatkan. Lokasinya terpusat di kota Poso. Kerusuhan ketiga, gelombang
serangan Kristen yang jauh lebih besar dengan korban yang jauh lebih banyak
pula. Mereka menyerbu dari gunung.
Sinode GKST tidak sepenuhnya menolak atau menyetujui jika serangan pihak
Kristen itu disebut balas dendam. Mereka yang berada dilapangan menyebut
dirinya menuntut keadilan. Mereka hanya ingin mencari provokator kerusuhan
pertama dan kedua.Nyatanya, yang menjadi korban adalah saudara-saudara
mereka, tetanga-tetangga mereka, kenalan mereka, yang beragama Islam, bukan
provokator. Rumah-rumahnya pun dibakar habis.
Penyerbu yang bak air bah tersebut mengaku sebagai gerakan sponta. Tentu
saja, itu bukan spontanitas. Bagaimana mungkin spontan jika serbuan
dilakukan hampir bersamaan dengan orang yang banyak pada daerah yang luas.
Penyediaan senjata tentulah memakan waktu. Membuat tameng dan baju
antipeluru dalam jumlah yang banyak tentulah berminggu-minggu. Cara
penyerbuan yang rapi dengan satu komando, malah ada yang menggunakan
megaphone, bukanlah sesuatu yang spontan.
Para lelaki penghuni Pesantren Walisongo dihabiskan, sedangkan penghuni
perempuannya sebagian bisa selamat. Penduduk sekelilingnya, yaitu
transmigran Jawa Islam, mengalami nasib yang sama. Korban nyawa yang
terbanyak datang dari jalur jalan kearah Tantena ini. Korban sertelah
dimatikan dibuang ke jurang yang sangat dalam atau dihanyutkan ke sungai
kuala) Poso. Para saksi mengatakan para korban diikat tangannya dibelakang
tubuh. mereka ditemukan di jurang dan kuala masih dalam keadaan terikat
seperti itu.
Mendengar Kayamanya, Habib Saleh Alaydrus hanya bisa mengumpulkan laki-laki
sekitar 50 orang. Orang-orang sudah mengungsi ke Palu, yang jaraknya sekitar
220 km kearah Barat. Pertempuran didepan mesjid yang belum jadi
iniberlangsung balas-membalas yang tidak seimbang.
Kalangan yang bertahan mengarah kepada seseorang yang memberikan komando
dengan pengeras suara. Tidak ada aparat seorangpun. Laki-laki yang dkabarkan
kebal itu diketahui roboh kena hantaman rotan tiga kali. Melihat hal tidak
masuk akal ini, para penyerang mengundurkan diri dengan meninggalkan
pimpinannya. Diketahui, berdasarkan identitas yang dibawanya, dia bersama
Ir. Lateka. Setelah rombongan aparat datang, jenazah Lateka diserahkan.
Diumumkan oleh aparat keamanan bahwa Lateka tewas tertembak. Belakangan
diketahui, dikeningnya ada lubang peluru. Menurut Sinode GKST, Lateka tewas
karena tembakan. kalangan Islam, apalagi para saksi tahu, siapa yang
menewaskan lateka. Habib Saleh Alaydrus yang meski masih muda, sangat
berpengaruh.
Pasukan inti mereka bernama Kelelawar Hitam. Mereka, menurut para saksi,
terdiri atas transmigran dari Nusa Tenggara Timur dan dipimpin oleh Tibo,
seorang bekas napi. Dia sudah ditangkap dan mengaku sedikitnya membantai 40
orang Islam. Dia mengaku turun gunung karena bisikan seseorang yang
mengatakan bahwa sebuah gerejaKatolik dekat Mesjid Katamanya dibakar massa.
Gereja ini baru belakangan dibakar karena Tibo dan pasukannya bersembunyi
didalamnya. Mereka melarikan diri lewat belakang. Dia memang beragama
katolik. Adu domba macam mana pula ini.
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!