Hello, kayaknya saya jadi ingin ikut menimpali dech..........
Anda-anda ini yang berdebat terjebak dalam pikiran
kultusme pada seorang tokoh, jadi apapun yang dilakukan
orang yang dikultuskan akan selalu benar, demikian pula
sebaliknya, apapun yang dilakukan oleh rival/ lawan kultusnya
akan selalu salah....Ojektif sajalah jangan subjektif pada
seseorang....Objektif saja, sampai sejauh mana kemajuan
Indonesia, saya yang orang biasa saja masih merasa
belum terjadi apa-apa, ya sistemnya, ya cara pemerintahannya,
ya segalanya, yang katanya sudah berubah... saya orang
reformis murni, tanpa melihat dan pro ataupun kontra pada
tokoh-tokoh tertentu baik pada AR ataupun Mbah dur ataupun
siapa lagi atau siapapun itu..........
Yang jelas reformasi telah berjalan melenceng jadi ajang
adu politik dan adu mulut tanpa bukti....... yang katanya kalo
dipimpin seorang agamis akan begini akan begitu... nyatanya
juga kosong, malah jadi sumber fitnah.......
jujur saja tak ada yang bicara bagaimana Membuat buruh
bergaji perjam lagi bukan perhari..... walau sedikit tapi bermasa
depan bila gaji buruh sudah perjam... masih saja pemerintahan
yang bawah belum dirombak, padahal kanker sudah sampai
 keakar-akarnya, seharusnya mencabut pohon jangan daunnya
saja, jadilah kekacauan, manipulasi, dan KKN tetap subur di
ranting bawah walau yang atas sudah digunduli, lebih baik
rombak pemerintahan dari tingkat RW sampai tingkat tinggi,
orang bilang uphold the law, tapi nyatanya sistem peradilan
kita masih cara hindia belanda, dimana satu hakim mengetukkan
vomis bersalah! Tidak bersalah!, dimana sangat rentan setelah
mulutnya disumbat uang!, khan lebih baik sistem juri, dimana
 keputusan bukan dari hakim seorang, tapi dari ratusan juri
dari orang yang dikenal baik oleh lingkungannya, dan para juri
diisolasi selama peradilan berlangsung agar tak ketemu dengan
para penyuapnya......
katanya Subsidi pemerintah pada orang miskin bagi BBM, tapi
pemerintah sendiri bingung mana orang kaya dan mana orang
 miskin karena KTP saja amburadul dan dibisniskan, seharusnya
KTP itu cuma sekali seumur hidup dan cukup bernomor seri satu,
 tidak setiap habis diganti nomor serinya, dari KTP inilah
sebenarnya Subsidi BBM bisa dilakukan kalo pemerintahannya
sudah Otonomi, dan tidak desentalisasi seperti sekarang ini,
karena dengan Otonomi. lebih mudah mengawasi dan menentukan
siapa yang perlu bantuan atau tidak, di KTP inilah diberi tanda...
Individu dan rakyat mana yang perlu Subsidi, dengan tanda merah
KTP-nya misalnya..... coba kalo melihat subsidi sekarang
ini yang tak karuan juntrungnya lari kemana paling-paling ditelan
bulat-bulat sama koruptor baru lainnya, belum lagi desentralisasi
yang harus segera dihentikan, asal tahu saja lebih dari 60%
uang hanya beredar di Jakarta, dan itupun jakarta masih tak
malu-malunya minta upeti (jatah) dari Propinsi lainnya yang lebih
mlarat apa nggak kenyang-kenyang?  itu kenyataan yang lebih parah....
asal tahu saja, bahwa kata atas kalo dilihat dibumi memang atas...
tapi bagaiman kalo kata atas diterapkan kalo Anda melihatnya
di pesawat ulang-aling, atau dari bulan, mana yang atas dari bumi?....
jangan terjebak dalam kultusme, karena Anda-Anda akan lupa
apa arti sesungguhnya pemerataan, pembangunan dan reformasi
sesungguhnya, kita tak melihat orangnya, tapi melihat sistemnya,
dan sistem bukan dibuat oleh orang yang jadi presiden, tapi
DPR dan MPRnya...nah kalo DPR dan MPR orang-orangnya
Partai juga, malah kacau.... sebaiknya UU untuk DPR & MPR
melarang orang politik untuk terjun didalamnya agar tak menyuarakan
kepentingan Partai... tapi kepentingan rakyat, masa presiden mau
di tegur dan bila salah akan dijatuhkan lalu bernego ke DPR dan
MPR dengan perjanjian...." Jangan jatuhkan saya ya!", presiden
macam apa itu, MPR dan DPR-nya juga berkata Kalo Loe mau
Nuruti kata Gue, Loe pasti tetep jadi Presiden dech....MPR & DPR
apa itu?, sudah benar-benar tak reformis seperti mereka jamannya
masih aktif di ORBA, apa yang mereka katakan dulu serba Indah, tapi kini...
serba spekulasi agar tak tergeser kedudukannya.....pemerintahan
model apa itu?........

Semoga Reformasi jalan terus, jangan terjebak Kultusme Individu!

salam dari Reformis Sejati, Perbaiki Sistem!
Gumelar


----- Original Message -----
From: Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, October 23, 2000 9:31 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Fw: Setahu Pemerintahan GD, AR Makin Kebelet
Menggantikannya


> On Fri, 20 Oct 2000, GIGIH NUSANTARA wrote:
>
> WAM:
> Kalau emang AR kebelet, so what?
> Seperti pertanyaan saya dalam posting awal, apakah menggantikan mbah Dur
> tidak dapat dianggap sebagai salah satu bentuk tanggung jawab AR? Di situ
> lucunya. AR selalu dituntut bertanggungjawab terhadap pilihannya, namun Ar
> selalu dimaki-maki karena dianggap ingin menggantikan mbah Dur. Itu
> namanya waton suloyo. Pokoknya AR selalu salah. Itu yang koplok.
>
>
> >>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com


>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke