He... he... Pak Hasan saya tidak mau kita kembali ke perdebatan
dulu. Namun ada tiga hal yang perlu saya tanggapi.
1. PKB termasuk yang sreg sejak awal dan berada di luar 30%. Jadi
masih ada kurang dari 70%. Dari yang kurang dari 70% itu tidak
seluruhnya 100% tidak sreg. Terlalu gegabah saya rasa untuk
menga6takan bahwa 70% tidak sreg. Mega menjadi Wapres karena
dicalonkan oleh PKB dan bukan oleh PDIP. Itu fakta. (nggak usah
ditanggapi ya Pak, file peredebatan tu masih ada koq, jadi hanya
membuang pulsa saja).
2. Tidak bisa dibuktikan namun sulit untuk mengatakan bahwa
instabilitas politik yang berakibat pada kesulitan untuk
memperbaiki ekonomi adalah muncul secara alami tanpa sebuah
rencana yang melibatkan biaya besar. Tujuannya apa?
3. Kalau GD berhenti maka sesuai dengan UU, MW akan
menggantikannya seperti dulu ketika Hbb menggantikan Soeharto.
Selanjutnya MW akan menjadi sasaran tembak baru dengan membuka isu
lama yang dulu digunakan untuk mengganjalnya. Ujungnya kemana?
��
----- Original Message -----
From: Abdullah Hasan <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, October 31, 1999 6:11 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Gereja Dukung Gus Dur : Kalkulasi
Cerdas.
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
1."...GD mewakili sebuah sosok yang muncul dalam sebuah proses
peralihan
yang kita Amin-i sebagai demokratis ....."
2." Emil Salim berkata "sebenarnya bangsa ini maunya apa sih...?,
apakah
menghendaki keadaan tambah tidak karuan arahnya?"
3.Jadi, sosok itu saat ini diwakili oleh pribadi yang bernama GD
dengan segala keunikannya yang dulu dimunculkan bukan karena
pemahaman terhadap keunikannya namun semata-mata karena muncul
dari sebuah scenario cerdas yang mengkalkulasi kemungkinan
gagalnya Hbb masuk bursa pencalonan Presiden sehingga tujuan utama
untuk mengganjal Mega tetap tercapai.
( simpulan AH).
=============================================
Mas Aswat, apa kabar ?,
Bangsa ini mau apa sih ? Tentunya kecuali satu-dua kriminal,
tentunya bangsa
ini mau keadaan tambah karuan. Yang jadi masalah cuma caranya
saja. Ada yang
percaya begini , ada yang percaya begitu caranya. Yang satu takut
yang ini ,
yang lain takut yang itu.
Yang jadi masalah tambah rumit , yang satu percaya dunia bakal
kiamat kalau
tidak memakai "cara tertentu". Dalam lingkungan demokrasi yang
lebih dewasa,
satu sama lain percaya caranya cuma lebih baik ( sedikit) dari
yang lain.
Sama sekali tidak membuat dunia ancur-ancuran. Jadi, bila yang
lain menang
kali ini, It is sad. But it is O.K . Usaha lagi lain kali.
Partai Republik percaya pengurangan pajak akan menambah kantong
publik. Pada
gilirannya kantong yang yang lebih tebal menambah leluasa
masyarakat untuk
memilih pendidikan swasta yang lebih baik. Partai Demokrat
percaya, uang
pajak sebaiknya digunakan untuk memperbaiki sekolah-sekolah negeri
yang ada.
Sekolah negeri bermutu yang terjangkau masyarakat pada gilirannya
bakal
meningfkatkan mutu SDM masyarakat. Dsb. Maka dilakukanlah iklan
besar-besaran ( ie. "kampanye"). Macam-macam cara. Dari yang
sedikit kasar
sampai yang amat halus. Siapa yang menang diberi salam oleh yang
lain.
Apakah yang menang dibiarkan berbuat apa saja selama lima tahun ?
Tidak ,
dong ! Kontrol keras !
Apakah presiden yang menang dibiarkan begitu saja bila mengumbar
syahwatnya
? Kita semua pernah menonton bagaimana Presiden Clinton sampai
terkencing-kencing karena proses impeachment yang dilakukan
Kongres.
Untunglah Ekonomi dibawah Clinton paling sehat selama 30 tahun.
Pengangguran
paling rendah selama 25 tahun. Jutaan Jobs dilahirkan dalam masa
beberapa
tahun. Kesejahteraan meningkat tertinggi dalam 25 tahun. Clinton
terbata-bata minta maaf. Rakyat-pun memaafkannya.
Keadaan negeri kita ini berbeda jauh sekali. GD naik secara
demokratis.
Caranya bukan karena kalkulasi cerdas seperti yang anda katakan,
tapi karena
kebodohan PDIP yang kelewatan. Mega menunggu ditempat bagai raja
majapahit
menantikan baiat rakyatnya. Dan Mega pun yang banyak tidak
disenangi
masyarakat ( Yang sreg padanya cuma 30 %, sisanya yang 70 %
diprediksi sebal
atau meragukan kemampuannya ), tanpa ampun nggelundung dengan
mengundang
iba. Dia naik jadi Wapres cuma berkat rengekan ekstrim warganya
yang nagis
ngancam-ngamcam di jalan-jalan.
Apakah GD boleh berbuat apa saja selama lima tahun ? Harusnya
tidak. Tapi di
negeri pariah ini apa boleh buat. Banyak yang tolol mau menahan
diri
negerinya jadi negeri hina dikalangan bvangsa lain. ( Saya sering
nelongso ,
melihat nama Jakarta sekarang ini sering di coret dalam kota-kota
dunia yang
diramal cuacanya oleh CNN, Indonesia benar2 sudah tidak ada
harganya .
Bagaikan pengemis cepek dipinggir jalan). Ditanya apa yang bisa
dibanggakan
dari presidennya, seorang mahasiswa ekonomi, asisten pengajar,
dari
universitas paling bergensi di negeri ini balas bertanya : apa sih
yang bisa
dibanggakan dari Amin Rais ? Sungguh-sungguh membuat pilu orang
tua seperti
saya . Mental muda kok sudah ( sedikit) keracunan mental begundal.
Apa tidak
bisa membaca indeks pasar modal ? Apa tidak tahu rupiah jadi
barang mainan
lucu orang singapore? 10.000 ? Apa tidak tahu aceh dan papua dan
ambon tidak
terurus karena pemimpinnya sibuk naik kapal terbang mengira
dirinya seperti
Mahatma Gandhi atau Paus Paulus ? Apa tidak tahu bagaimana beliau
tega
menipu ummatnya dengan mengumbar syahwat diam-diam ? Come, on....!
Kalau
terbukti suatu presiden yang naik demokratis ternyata
leadership-nya minus,
tidak sanggup memimpin rapat kabinet sekalipun akan kita biarkan
terus ?
Kenapa mesti ribut cari kesalahan "siapa biang-kerok" yang
menaikkannya ke
kursi presiden ? Yang salah adalah proses demokrasi. Tapi proses
tersebut
"juga" memberi kesempatan untuk membuat koreksi ditengah jalan.
Asalkan kita
semua mau waras.
Hambatannya apa ? Kita saling takut orang lain menggunakan cara
lain. Karena
tidak ada respect diantara kita. Cara kita bukan lebih baik
sedikit dari
yang lain. Cara kita adalah satu-satunya cara yang harus digunakan
: tidak
ada alternatip. Orang kita adalah satu-satunya orang yang pantas
memimpin.
Kuno, tapi nyata. Meskipun nurani kita tahu betapa jeblognya
pemerintahan
GD, dengan berbagai cara akan kita tutupi tanpa malu-malu. ( Orang
macam
Wimar Witoelar juga mau jadi manager divisi Tutup-tutupan seperti
itu).
Karena kita tidak berani mengambil alternatip. Alternatip lain
adalah
kiamat. Meskipun ada kans DPR secara demokratis mungkin
menjatuhkan GD , DPR
pun kalau perlu dijatuhkan dan dihujat sekedar karena tidak mau
alternatip.
Demikianlah antara lain keluhan teman saya di pucuk pimpinan PDIP.
Kalau memang tidak dapat kita tumbuhkan respect diantara kita,
memang
demokrasi belum waktunya diterapkan disini. Fakta berkata : Itu
omong kosong
besar ! . Marilah kita undang clean-dictator macam Lee Kuan Yew
atau
pimpinan negeri Cina. Atau sewperti Mahathir sekalipun ! Buang GD
segera.
Balik ke Ciganjur jadi tetangga biasa saya lagi.....
Wassalam
Abdullah Hasan.
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340
<<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!