Tentang Amien Rais dan Ambisinya Menjadi Presiden.


Inilah mungkin cerita dari orang yg begitu kepinginnya memperoleh sesuatu.
Tetapi tak kunjung bisa tercapai. Maka, tinggallah duduklah dia merenung dan
berangan-angan bercampur penyesalan. "Tempo hari kalau saya begini, atau
begitu, tentu saja sudah jadi...,  -- Tempo hari kalau saya tidak malu2
tentu sudah jadi....-- Tempo hari kalau saya tidak sok demokratis, tentu
sudah jadi ...-- Tempo hari kalau saya menerima tawaran si A tentu sudah
jadi.... " dst-nya.

Namun sebenarnya dia harus berpikir: "Untunglah saya tidak melakukan semua
'seandainya' itu, karena dengan demikian saya adalah sesungguhnya orang yang
menghormati demokrasi!" (Walaupun sebenarnya sebutan ini pun masih tidak
tepat -- karena dengan segenap upaya telah mengjegal orang yang seharusnya
<lebih berhak> menduduki kursi presiden)

Namun, ternyata dia tidak berpikir begini. Sebaliknya seolah-olah menyesali,
mengapa dia tidak melakukan "seandainya2" itu? Lupa, bahwa dengan demikian
dia malah mempertontonkan bahwa pada prinsipnya dia hanya menggunakan
sebutan2 demokrasi dan reformasi hanya sebagai slogan dan alat untuk
memperoleh kekuasaan.

Bukti bahwa dia seolah-olah menyesali tidak melakukan apa yang "seandainya"
itu adalah apa saja yang dilakukan sekarang ini lewat berbagai pernyataan2
politiknya yang terus-menerus memojokkan posisi Presiden Gus Dur. Yang
mempunyai kesan kuat bahwa semua itu ada udang di balik batunya. Yakni agar
dia punya kesempatan meraih kursi Presiden yang sangat barangkali sudah lama
diimpikannya.

Sedikit saja ada gerakan dari Presiden Gus Dur langsung dikecam lewat
berbagai pernyataan miring yang selalu berujung dengan Sidang Istimewa MPR.
Lihat saja, masakan hanya soal prosedural pergantian Kapolri yang
dianggapnya tak sesuai Ketetapan MPR, langsung diancam dengan SI MPR untuk
menurunkan Gus Dur. Pernyataan2-nya itu hampir selalu memancing emosi.
Nyaris seperti provokator. Semuanya itu semakin membuat negara ini menjadi
tidak stabil, sampai2 hampir saja meletus konflik horizontal antara massa NU
dengan Muhammadiyah, barulah dia sedikit reda.

Tetapi, rupanya ambisi dan impian untuk menjadi Presiden tak kunjung padam.
Sampai ada kesan dia sudah tidak sabaran lagi. Meskipun dia juga mengatakan
akan menunggu sampai 2004 lewat Pemilu yang sah. Lihat saja, bagaimana
baru-baru ini saja dia mengatakan bahwa Wapres Megawati menjadi Presiden
(setelah Gus Dur mundur atau dimundurkan) dan dia bersedia menjadi Wapres.
Padahal tak ada satu orang pun yang menawarkan dia untuk jabatan tersebut!

Tempo hari sih, ada yang menyinggung begitu (1998). Sewaktu masa-masa
pemilihan presiden mendekati hari H-nya. Tetapi, apa komentarnya?
Komentarnya adalah dari seorang yang terlalu percaya diri: "Saya hanya
dicalonkan sebagai presiden. Jabatan lain, termasuk RI-2 silakan untuk orang
lain saja! Jika tidak berhasil, saya hanya akan menjadi oposan!"

Kenyataannya? Ternyata menjadi Ketua MPR pun mau. Setelah itu, mungkin
karena kursi Ketua MPR kurang empuk -- atau hanya sasaran antara, maka
dilirik lagi impian awalnya: Kursi Presiden! Eh, nggak bisa-bisa juga. Maka,
nggak apa-apa deh kalau diberikan juga Kursi Wapres. Siapa tahu dari sini,
akan lebih mudah untuk menjadi Presiden. Bukankah, Megawati lebih lemah
ketimbang Gus Dur? (Awas, hati2 sebelumnya juga mungkin memandang enteng
posisi Gus Dur, sebagai Presiden yang lemah, ternyata tidak seperti yang
diduga? Maka, siapa tahu Megawati justru  lebih kokoh daripada Gus Dur?).

Sayang untuk Kursi Wapres ini tidak ada yang menawari, maka tidak ada jalan
lain selain menawarkannya kepada diri sendiri saja.

Maka, Megawati yang dulunya diserang habis2-an. Diupayakan dengan segenap
upaya.  Sampai2 gender dan agamapun di bawa-bawa. Bahwa menurut  agama Islam
tidak boleh seorang perempuan menjadi Presiden, dan seterusnya. Demikian
pula sempat mengupayakan amandemen konstitusi agar mengatur jika Presiden
berhalangan tetap, maka tidak otomatis Wapres (yang dijabat Megawati saat
ini) menjadi Presiden, tetapi harus melalui pemilihan ulang oleh MPR, atau
malah Ketua MPR sebagai penggantinya. Sekarang?  Betapa manisnya Amien Rais
dengan Megawati. Dia pun dengan tegas2-nya mengatakan bahwa Presiden Gus Dur
mundur otomatis Megawati menjadi Presiden.

Sekarang, kita membaca lagi berita di detik.com, yakni:

 http://www.detik.com/peristiwa/2000/11/15/20001115-211249.shtml

Amien Rais:
Jika Dulu Mau, Saya Jadi Presiden
Reporter: Khairul Ikhwan
detikcom - Medan, Mengikuti jejak Megawati, Amien Rais pun menyatakan, jika
dirinya mau, maka dulu dia sudah menjadi presiden. Saat itu, kata dia,
detik-detik menjelang pemilihan presiden ada rapat di rumah Habibie. Di
rapat itu, dia diminta jadi calon presiden.
.............. <dihapus>



Seharusnya AR sadar bahwa antara latar belakang pernyataan Mega dengan
dirinya itu berbeda. Mega lebih layak mengatakan seperti itu, ketimbang AR.
Mega adalah capres dari parpol yang memenangkan Pemilu. Seandainya saja pada
saat itu telah dilakukan sistem pemilihan presiden langsung, tentu Megawati
sudah menjadi presiden sekarang. Jadi, lebih pantas Megawati mengatakan
demikian. Mengapa AR kok malah ikut2-an mengeluarkan pernyataaan seperti
ini? Tidak sadarkah dia bahwa dia hanya berhasil meraih 7 persen suara?
Tidak sadarkah dia bahwa dengan pernyataannya ini bahwa orang bisa menilai
bahwa AR memang sangat besar ambisinya untuk menjadi presiden sehingga suara
rakyat pun diabaikan. Dan hanya memperhatikan politikus2 yang bisa
menguntungkannya?


Dari pernyataannya yang diberitakan di detik.com ini juga terungkap jelas
bahwa AR adalah pendukung berat BJ Habibie, yang dia katakan sebagai seorang
yang jujur, sederhana, dan religius. Apakah seorang yang jujur dan sederhana
itu bisa sekaligus adalah seorang yang begitu dekat dan setia terhadap
Soeharto? Ini merupakan salah satu pernyataan yang kontradiktif dari AR.


Demikian juga dengan pernyataan seperti kutipan dari berita tsb:

Saat itu dirinya menanyakan kepada Gus Dur tentang kesehatan mata dan
fisiknya untuk menjadi presiden. "Gus Anda bisa saja maju ke perlombaan
presiden. Tapi, saya mau tanya. Ini mata Anda, fisik Anda bagaimana. Itu
saksinya Pak Fuad Bawazier," kata dia.

Padahal dengan pernyataan ini sekaligus memperlihatkan betapa takaburnya AR.
Bagaimana bisa soal kesehatan seorang capres, yang akan memimpin 200 juta
rakyatnya,   dia tanyakan kepada ybs sendiri? Bukan kepada seorang dokter
ahli? Sudah begitu bisa2-nya dia memabanggakan diri dengan mengatakan,
silakan tanyakan kepada Fuad Bawazier, sebagai saksinya. Seolah-olah Fuad
adalah seorang dokter spesialis!


Apakah komentar Anda yang lain?



>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke