Coba anda perhatikan isinya dengan baik, jangan judulnya saja yang dibaca
dong.
Kok kita bisa punya ide yang hampir bersamaan ya, baru baca kompas juga ya
...ha..ha..
Saya posting lagi tulisan tersebut dan yang penting menurut saya dalam
berita itu saya besarkan hurufnya.
Tetapi pakar dari UI (yang tidak mewakili seluruh pakar itu) juga harus
berterima kasih, bahan seminarnya pun ia dapat dari pers..ha..ha..
Kayaknya sih ada keinginan menghidupkan lembaga sensor lagi dari keinginan
si penyelengara, semoga saja tidak. Baca 4W/1H tentang titik berat berita
ini.
Tetapi tidak apa-apa memang bangsa kita masih ditengah-tengah jurang
transisi. Antara sikap kesukuan yang mengambarkan budaya feodal dan yang
modern sudah demokratis yang sudah dapat melihat dunia Internasional baca
tulisan sesi kedua.
Satu kritik saya buat KOMPAS, ada kesalahan setelah saya baca kok tidak sama
antara yang dikemukan Eros dengan pakar dari UI itu ya. Mungkin strategi
pers, ya. Semoga kita tercerdaskan semuannya.
Sebagai tambahan informasi;
akhirnya Desi Ratnasari, artis yang seluruhnya serba pas-pasan itu (baik
dalam kecantikan, suara, maupun akting) atau beberapa pihak yang mengatakan
artis serba bisa itu berulang-ulangkali mengucapakan terima kasih kepada
wartawan ketika diwawancarai dalam salah-satu stasiun swasta di Jakarta. Dia
mengatakan baik yang memberitakan
positif maupun negatif yang menurutnya sudah berjasa mengangkat namanya
(mungkin orang ini baca tulisan saya dimilis ini ya, ha..ha..).
Apakah baru artis saja yang dapat memahami PERBEDAAN dan Pers?
Mungkin para seniman sudah jera akibat demagogi orde lama antara kubu Lekra
dan Manikebu. Hal ini di lihat dengan salah satu pameran yang diadakan
dengan mengundang 39 seniman dari beberapa aliran yang berbeda, dengan tema
"Berbeda itu Indah".
MMA
----- Original Message -----
From: Agus Satrio <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 16 Nopember 2000 8:16
Subject: RE: [Kuli Tinta] politik kanak-kanak-II (pers) ->dari Kompas
> Buat Pak Mashuri, dari Kompas.
>
> Dimanakah peranan pers ?
>
> ---------------------------------------
> >Kamis, 16 November 2000
>
> Bahasa Elite Politik dan Media Massa Ikut Memicu Budaya Kekerasan
>
>
> Arb
> Bachtiar Aly
>
> Danu
> Eros Jarot
> Jakarta, Kompas
> Penggunaan bahasa Indonesia oleh para elite politik dan media massa yang
keras dan tidak santun,
> diyakini menjadi penyebab masyarakat menganut budaya kekerasan. Hal itu
bisa dipahami, karena
> dinamika bahasa sangat bergantung pada kamando bahasa yang dipegang elite
politik dan media
> massa.Demikian dikatakan pakar komunikasi Dr Bachtiar Aly dari FISIP UI
dan tokoh Poros Indonesia
> Eros Djarot pada salah satu sesi seminar tentang Paradigma Baru Politik
Bahasa dan Budaya
> Nasional, di Universitas HAMKA Jakarta, Rabu (15/11).
> Menurut Bachtiar Aly, saat ini kedua pemegang komando berbahasa (elite
politik dan media
> massa-Red) tersebut tidak membuat masyarakat menjadi lebih santun dan
cendekia. "Seharusnya ada
> teladan dari para elite politik untuk tidak menggunakan bahasa yang
keras," kata Bachtiar Aly.
> Bahasa yang keras dari para pemimpin akan diikuti rakyat. Bahkan,
tambahnya, penggunaan bahasa
> Indonesia di kalangan elite politik saat ini sudah mencapai tingkat yang
sangat vulgar. Bachtiar
> mencontohkan, beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun sudah
terbiasa membentak saat
> berkata, "Interupsi!"
> Dia juga menunjukkan contoh kasus bagaimana beberapa media massa ikut
memberi contoh buruk dengan
> menggunakan bahasa yang tidak santun. Bachtiar memberi contoh headline
sebuah surat kabar yang
> berbunyi, "Tommy... Disodomi".
> Senada dengan Bachtiar, tokoh Poros Indonesia Eros Djarot yang sehari-hari
adalah pengelola
> tabloid Detak menuding para elite politik sebagai penyebab meningkatnya
kekerasan di masyarakat,
> di samping adanya warisan luka dari Orde Baru. Menurut Eros, pada awalnya
kekerasan tersebut
> adalah hasil desain politik Orde Baru. Saat ini, kekerasan menjadi
pengekspresian tingkat frustasi
> masyarakat setelah menemui jalan buntu. Kekerasan ini semakin meningkat
saat rakyat melihat para
> elite tidak mampu mewujudkan konsensus yang dapat mengikutsertakan rakyat.
"Masyarakat terus
> dihadapkan pada ketidakpastian," kata ujarnya.
> Kesenjangan komunikasi yang terjadi saat ini, tambah Eros, juga terjadi
karena para elite tidak
> menyadari siapa dirinya. Para elite tersebut tidak melihat bahwa tindakan
dan perkataan mereka
> menjadi sorotan rakyat banyak. "Jadi mereka ngomong asal-asalan," kata
Eros.
>
> Bahasa hati nurani
> Menurut Bachtiar, bentuk bahasa Indonesia yang dibutuhkan saat ini adalah
bahasa yang lugas, tanpa
> basa-basi, namun mampu mengekspresikan hati nurani manusia. Untuk itu,
perlu perubahan radikal.
> Penggunaan bahasa yang penuh basa-basi seperti pada Orde Baru kini telah
berubah ke penggunaan
> bahasa yang carut-marut.
> Pencarian format penggunaan bahasa Indonesia tersebut seharusnya dilakukan
oleh Pusat Bahasa.
> "Jadi Pusat Bahasa tidak sekadar menyatakan yang ini boleh dan yang itu
enggak boleh," kata
> Bachtiar.
> Eros Djarot bahkan mengemukakan langkah yang menurutnya sendiri ekstrem,
yaitu mengembalikan
> bahasa itu total kepada masyarakat. Eros mengatakan, berdasarkan
pengalaman pribadinya, warga yang
> ditemuinya di Pasar Senen dapat mengemukakan pemikirannya dengan baik
menggunakan bahasa mereka.
> "Tidak kalah dengan anggota dewan," kata Eros.
> Pada sesi sebelumnya, pakar bahasa Prof Dr Amran Halim dan penyair Hamid
Jabbar juga tampil
> sebagai pembicara. Tema sesi ini adalah "Paradigma Baru Politik Bahasa dan
Budaya Nasional". Amran
> Halim menyoroti paradigma baru bahasa nasional, di mana peran bahasa
daerah bertambah karena
> adanya otonomisasi. Demikian pula dengan bahasa Inggris yang semakin
diperlukan dalam menghadapi
> era globalisasi.
> Sementara Hamid Jabbar mempermasalahkan pandangan yang tidak menjadikan
manusia sebagai titik
> sentral. Menurutnya, selama ini rakyat hanya dibebani oleh
kewajiban-kewajiban kepada penguasa.
> (p05)
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Yahoo! Calendar - Get organized for the holidays!
> http://calendar.yahoo.com/
>
> >>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!