Bung Nopi yang baik,
Ya kalau itu dianggap mudah, ya boleh saja. Tetapi seberapa mudah? Saya
termasuk yang tidak cukup punya nyali untuk mengatakan mudah.

Dulu waktu di SMA, teman saya kehilangan sepeda motor di Pasar Turi. Padahal
sudah dikunci dan dititipkan ditempat parkir. Seorang rekan yang bersimpati
kepadanya mengatakan, lain kali kalau parkir sepeda motor, jangan cuma
dikunci, tetapi juga perlu dilepas busi-nya, dikantongin. Seorang "genius"
disebelah saya nyeletuk: Lha kalau malingnya bawa busi?
(Itu cuma versi lain cerita Columbus gaya tetangganya cak Gigih).

Lain kisah, seorang bijak berkata: berikan saya hukum yang jelek, tetapi
berikan hakim yang baik, niscaya keadilan dapat ditegakkan.

Fenomena lain. Tiga empat tahun yang lalu, lulusan SMU berlomba masuk
jurusan akuntansi, karena menjanjikan kemapanan hidup. Tahun kemarin,
Fakultas Hukum kebanjiran pendaftar. Sebuah survey iseng menanyakan kenapa
masuk Fakultas Hukum? Jawabnya: Lihat saja kehidupan penasehat hukum. Mobil
mewah seri apa yang mereka nggak punya. Yang termasuk lapis dua tiga saja
dapat meraup tidak kurang dari 15 milyar setahun. Muda, terkenal, kaya raya,
siapa yang tidak tertarik menjadi seperti itu.

Bung Nopi,
Sistem hukum kita sebenarnya dapat saja dibilang sudah memadai, ya kalau mau
disempurnakan terus, itu baik baik saja. Tetapi perut kebanyakan orang yang
berada didalamnya pada kelaparan, atau lebih tepatnya terlalu banyak yang
haus uang. Padahal uang itu bagaikan air laut. Semakin diminum semakin haus.
Belum berhenti sebelum pecah perutnya. Jadi bolehlah mekanisme pengawasan
segera disempurnakan. Tetapi lagi lagi, kalaupun sistem pengawasan
disempurnakan, kembalinya kepada manusianya lagi. Mampukah sistem pengawasan
dibuat impersonal? Masih sulit.
Selain faktor uang, faktor kekuasaan juga mempunyai potensi besar untuk
mengharu biru tegaknya keadilan, karena keadilan dapat menjadi komoditi yang
mampu mendatangkan uang besar. Dan sebagai penguasa baru, sangat biasa kalau
mereka juga ingin cepat kaya, walaupun didepan pentas sinetron demokrasi
mereka bicara sesuci malaikat. Padahal dalam konteks demokrasi, perobahan
akan lebih effektif kalau diprakarsai pemimpin yang legitimate. Masuk
lingkaran setan lagi, ternyata legitimasi bisa dibeli, seperti rumor
pemilihan bupati diberbagai tempat. Ise mangatur nagara on? (begitu sobat
saya nyeletuk!)Akhirnya, kalau yang memulai saja nggak mau, atau nggak ada,
bagaimana semua impian itu bisa jadi kenyataan?

Saya berharap, Anda mengatakan MUDAH karena Anda telah memahami kompleksitas
masalahnya, bukan sebaliknya. Dan saya bangga mempunyai rekan seperti Anda.

salam
yap
(optimis tetapi tetap realistis)

------------------
Success is neither magical nor mysterious.
Success is the natural consequence of consistently applying basic
fundamentals.

----- Original Message -----
From: BKC1214 Nopi Hidayat <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, 21 November 2000 8:19 WIB
Subject: Re: [Kuli Tinta] Penegakan keadilan


>
>
> Bung Yap,
> Mudahkan jawabannya??, selain orang2 yang berada disistem hukum &
> perangkatnya harus pinter mereka harus ditambahin kriteria :
> 1. Supaya Adil
> 2. Supaya Kebal Godaan Uang
> 3. Supaya Jujur
> Dengan menambahkan pendalaman Agama yg sebaik2nya (tentunya menurut
> Agama & kepercayaan masing2).
>
> Tapi dengan syarat, kita harus mau menerima secara total dan tidak
> menerima sepotong2 hal Agama diatas..tinggal kapan kita mau memulai?.
> (dalam Pancasila juga ada ayat2nya).
>
> Jadi tetaplah optimis!!.
> -------



>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke