------Original Message------
From: "Martin Manurung" <[EMAIL PROTECTED]>
orang rasis itu hobby berdebat
case closed..
> On Thu, 23 Nov 2000, Martin Manurung wrote:
>
> > kapan saya "berbuat" rasis?
> > apakah anda sdg men-generalisasi sesuatu?
>
> WAM:
> Anda mengomentari komentar saya yang saya tujukan kepada orang lain.
> Kenapa anda tidak mengomentari ybs?
--------------
Rasanya banyak di antara kita yang enggan belajar, setidaknya mempelajari
postingnya WAM.
Seperti biasa, WAM akan membuka dengan sebuah posting yang berisi
kasus-kasus yang menurutnya pantas untuk dilempar ke sidang 'pembaca'
Kuli-Tinta. Seperti biasa pula, nada postingnya itu sudah ketahuan mau ke
mana arahnya. Atau kadang setengah mati lucu, seperti 'kapal silem buka
jendela'.
Melihat posting 'menarik' seperti itu, beberapa teman tergoda hatinya untuk
urun rembug. Ada yang mengutip dari konteks pemahaman agama, pengalaman, dan
lain sebagainya. Ibarat main volley, mereka ini berendah-hati untuk
memberikan pukulan yang enak-enakan.
Sayang, lawan main kok WAM. Masukan nan rendah hati itu bak umpanan yang
enak untuk di-smes. Jelas saja yang memberikan pukulan enak-enakan tadi
terkejut.
Dalam keadaan seperti itu pun masih juga mengira, bahwa permainan sekedar
pukul-pukulan yang enak diharapkan masih bisa dilakukan. Santai saja, bukan,
wong cuma sekedar lontar ide di cyber.
Sayang, WAM tetap WAM, beliau yang alim di bis (dan cuma mangkel ketika ada
tarikan sumbangan), hajaran-hajaran smes terus saja dilakukan. Bahkan ketika
lawan main terperanjat, terlongong-longong, dibuatnya.
Akhir permainan sudah bisa dipastikan, seperti anak-anak kecil yang
bertengkar dan sudah habis kata-kata. 'Bapakmu', kata yang satu. Lalu
satunya, rupanya juga tak punya stok kata-kata yang lain, cuma bilang
'Bapakmu dewe !', begitu terus, sampai ada yang misah. 'bapakmu !', 'Bapakmu
dewe !', 'Taekmu !', 'Taekmu dewe !'. Terakhir adalah 'Rasis !', 'Kamu yang
rasis !', 'Kamu !', dan seterusnya.
Entah, Y@p yang lama tak mampir di Cyber, atau cak Wat yang lagi kurang
kerjaan, kedua beliau ini dengan rendah hati meladeni WAM yang cuma
main-main itu. Sedang kan aku, sejak awal, sudah memposisikan untuk juga
main-main, bahkan mempermainkannya.
Skenarionya, selamanya masih-masih itu juga. Di hampir penghujung
'pertengkaran' antar anak-anak ini muncul sosok yang suka kasih pitutur,
namanya Wak Hasan. Karena beliau ini 'NU' dan 'tinggal di dekat Ciganjur',
dipantas-pantaskan oleh WAM sebagai pemberi tuturan yang sahih. Dan dengan
bangga ia akan bilang, 'lho, lihat, wak Hasan aja bela aku'.
Begitu.
______________________________________________
FREE Personalized Email at Mail.com
Sign up at http://www.mail.com/?sr=signup
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!