Zainudin MZ, dai sejuta umat, masih seperti dulu dalam memutar kata, 
menggabung logika, yang menghasilkan kalimat-kalimat lancar berkesan jenaka, 
sehingga yang namanya inti ajaran agama enak saja keluar dari mulut 
berkembang senyum di bibirnya. Wajar, pemunculan beliau menjadi salah satu 
yang aku tunggu. lebih-lebih ketika Ramadhan tiba, dan Indosiar mengajaknya 
berjalan-jalan, ke berbagai masjid besar di kota-kota besar pula.

Ramadhan kali ini pun ia melakukan hal serupa, sebuah safari dalam rangka 
Ramadhan, juga masih dengan stasiun tivi yang sama, Indosiar. Gayanya masih 
sama, dan banyak hadirin pun terpukau oleh silat kata dan tafsir-tafsir yang 
cukup bernas. Aku pun masih merasa perlu untuk mengarahkan remote ke 
stasiunn tivi yang sedang menayangkan acarnya tersebut.

Tetapi aku melihat adanya perubahan, entah itu kesan subyektifku belaka, 
atau memang ia, Al Mukarom, yang berubah.

Dulu, setiap butir kata yang keluar dari mulut dari wajah bersih itu begitu 
menarik bagiku, mengantarkan aku pada sebuah pemahaman yang lebih baik atas 
agama yang aku anut. Ada hal-hal sepele yang semula terlupa, namun ternyata 
begitu bermakna untuk aku resapkan dalam hatiku, yang masih jauh sempurna.

Dulu, Gusti Allah benar-benar memilihnya sebagai sosok yang mampu membawaku 
ke pemahaman yang lebih dalam, dengan cara yang enak dan sederhana, 
mengungkap semua hal-hal yang benar-benar patut aku kethui tentang agama 
ini, dan sejumlah terapan di berbagai problem masyarakat sekitarku.

Itu kesanku dulu.

Sekarang ?

Aku masih melihat kelihaian beliau dalam merangkai ucap, menjadi sebuah 
kalimat-kalimat retorik, tanpa harus berberat-berat dengan surrah. Dan masih 
aku temui pula sorak-sorai dari para pendengar yang hadir, tiap ia menyudahi 
kalimatnya. Dan ia pun masih seperti orator ulung, yang mampu menyihir 
pendengarnya, dengan anggukan-anggukan kepalanya seraya menebar pandangan 
dari samping kanan ke kirinya, seraya mengulum senyum pertanda ia menikmati 
sekali keberhasilannya untuk menyampaikan risalah kepada pendengarnya.

Tapi aku melihat perubahan. Ia telah masuk ke domain yang bukan semstinya 
dihadirkan dalam arena seperti itu, pengajian Ramadhan yang tersiar begitu 
luas ke segala penjuru. Ia telah terlibat dalam kancah politik praktis, 
sebagai konsekwensinya menjadi anggota sebuah parpol, yang kala itu giat 
betul memelopori ketidaksetujuannya terhadap kehadiran pimpinan nasional 
berkelamin wanita.

Banyak kalimatnya sekarang, meski dibolak-balik dengan tutur yang 
seolah-olah meminta kepada rakyat kecil untuk tak terlibat seteru elit, 
namun ia jelas dan terang, menggunakan kalimat-kalimat sindiran, insinuasi, 
yang gampang ditebak ke arah mana bidikan diarahkan.

Sekarang, aku selalu menghindari acara yang dikemas dengan sebutan indah, 
tabligh akbar, melalui Indosiar itu.

Sayang, idolaku telah berubah.
_____________________________________________________________________________________
Get more from the Web.  FREE MSN Explorer download : http://explorer.msn.com


................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke