----- Original Message -----
From: Eksekutif Nasional LMND
Sent: 07 Desember 2000 13:11
Subject: [indonesia-l] REPRESI ALA ORDE BARU MASIH DIBERLAKUKAN BIROKRASI KAMPUS
Eksekutif Nasional
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi
Jl Danau Towuti E1/31 Bendungan Hilir Jakarta 10210
Telp: 021 5708994 E-mail: [EMAIL PROTECTED]
REPRESI ALA ORDE BARU MASIH DIBERLAKUKAN BIROKRASI KAMPUS
Perguruan Tinggi adalah salah satu komponen penting untuk mendorong kemajuan
bangsa Indonesia. Namun sampai saat ini sangat sedikit masyarakat yang dapat
menikmati pendidikan tinggi. Dan ini juga harus dibebani dengan kenyataan
bahwa alam kebebasan berpikir yang seharusnya dikembangkan di kampus-kampus
agar kemajuan dapat didorong ternyata masih juga diinjak-injak oleh para
birokrat kampus, dengan alasan akal-akalan ala Orde Baru seperti menjaga
nama baik almamater, menjaga ketertiban, bahkan tuduhan-tuduhan politik
praktis. Kenyataannya, penggunaan aturan-aturan tersebut adalah selubung dan
pelindung dari tindak komersialisasi pendidikan dan praktek ketidakadilan
pola birokrasi Orde Baru yang masih dipertahankan di kampus-kampus baik
negeri ataupun swasta.
Semakin rendahnya akses pendidikan masyarakat, arah perkembangan Iptek yang
semakin jauh dari kebutuhan nyata dan mendesak rakyat, dan semakin
terasingnya mahasiswa dari mayoritas rakyat Indonesia adalah wujud akhir
dari komersialisasi pendidikan. Para birokrat kampus, rektor-rektor
oportunis dan reaksioner beserta segenap penjilat-penjilat dan pemburu karir
kaki tangan mereka, tidak akan pernah peduli terhadap dampak komersialisasi
kampus yang mereka promosikan ini. Bahkan dari semenjak jaman Orde Baru
mereka lebih mementingkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang merugikan
masyarakat karena untuk mereka mulusnya karir dan terjaganya kekuasaan
mereka adalah lebih penting. Dahulu mereka adalah para penindas dan
penghajar demokratisasi Indonesia, kini mereka adalah salah satu elemen
penting kaki tangan Neoliberalisme dan Imperialisme.
Tiga orang mahasiswa Universitas Bung Karno Jakarta dan enam orang mahasiswa
Universitas Indonesia telah diskorsing atas perlawanan mereka terhadap
komersialisasi pendidikan. Dan belasan orang diberi teguran keras oleh
rektor mereka di kampus masing-masing. Daftar ini akan bertambah panjang
jika semua kasus-kasus represi di dalam kampus terhadap aksi-aksi mahasiswa
melawan komersialisasi pendidikan sepanjang tahun 2000 saja. Dan kini harus
ditambah lagi dengan sanksi skorsing 1 tahun pendidikan terhadap Ketua
Majelis Legislatif Mahasiswa (MLM) Politeknik Universitas Lampung (UNILA)
dengan alasan melakukan politik praktis di dalam kampus.
Atas dasar ini, kami Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, menyatakan
diri:
1. Mendukung dan menyatakan solidaritas terhadap perjuangan
mahasiwa Politeknik UNILA melawan kebijakan-kebijakan birokrasi kampus yang
tidak berpihak kepada kepentingan mahasiswa dan rakyat secara keseluruhan.
2. Menuntut pencabutan sanksi skorsing atas Ketua MLM
Politeknik UNILA dan juga atas pemberian sanksi-sanksi terhadap
mahasiswa-mahasiswa lainnya yang berkenaan dengan perjuangan mereka melawan
komersialisasi pendidikan.
Jakarta, 6 Desember 2000
Eksekutif Nasional
Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi,
Ketua Umum
Rheinhardt Sirait
eGroups Sponsor