RNSI, 07/12/2000
Gus Dur Makin Terdesak, Golkar Makin
                  Tegak

                  Sekitar 150 aktivis Konsorsium Mahasiswa
                  Indonesia (KMI) dan Forum Silahturahmi
                  Mahasiswa Indonesia (FSMI) mendatangi
                  DPR. Mereka datang, membawa spanduk
                  besar bertuliskan "Tuntaskan Kasus Bulog
                  Gate sebelum Lebaran", untuk menyatakan
                  dukungan kepada Pansus untuk
                  menuntaskan kasus Bulog Gate. Kasus
                  Bulog Gate memang merupakan salah satu
                  dari sekian banyak jalan masuk untuk
                  menggoyang kursi kekuasaan Gus Dur.
                  Sedangkan Golkar disinyalir merupakan
                  kekuatan utama yang berada di belakang
                  Bulog Gate. Dalam operasi di lapangan
                  Golkar berlindung di belakang
                  orang-orangnya dipelbagai fraksi. Lebih
                  lanjut berikut laporan koresponden Syahrir
                  dari Jakarta:

                  Akhir-akhir ini pers ibukota memberitakan
                  mengenai kesiapan Golkar untuk berkuasa
                  lagi. Gus Dur yang kini dalam posisi
                  terdesak harus memilih Muladi, seorang
                  loyalis Golkar sebagai ketua Mahkamah
                  Agung. Muladi memiliki nilai fit and proper
                  test lebih tinggi dibanding Baqir Manan.
                  Karena itu Akbar Tandjung hari Minggu
                  malam, pekan lalu ketika bertemu dengan
                  Gus Dur berani mendesak agar presiden
                  memilih Muladi. Syahril Sabirin sejak
                  kemarin lepas dari tahanan dan kalau ia
                  sudah berkantor kembali, maka Golkar
                  akan bertepuk tangan sebab ia akan
                  memimpin Bank Indonesia bersama Aulia
                  Pohan deputy Gubernur pilihan Golkar.
                  Sampai sekarang meski telah melakukan
                  pelbagai kesalahan Marzuki Darusman
                  tetap dipertahankan oleh Gus Dur. Padahal
                  sebagai Jaksa Agung, ia memegang kunci
                  berhasil atau tidaknya menangani
                  orang-orang Orde Baru yang terlibat KKN.
                  Gus Dur sudah berkali-kali menggertak
                  akan memejahijaukan orang-orang lama
                  yang terlibat puluhan kasus korupsi besar
                  di zaman Orde Baru. Marzuki berhasil
                  membatalkan atau menundanya dengan
                  berbagai dalih. 

                  Sementara itu konflik antar elite politik
                  dewasa ini telah ikut menguntungkan posis
                  Golkar. Golkar menjadikan konflik antar
                  kekuatan reformasi sebagai liang lahat
                  untuk mengubur dosa-dosanya di masa
                  lalu. Akibatnya masyarakat menganggap
                  krisis multi dimensi sekarang ini serta
                  serangkaian mega skandal di bidang
                  keuangan bukanlah tanggung jawab
                  Golkar. Sebagaimana halnya dengan TNI,
                  Golkar pun tidak pernah meminta maaf
                  secara terbuka kepada masyarakat. Di
                  samping itu dapat dikatakan bahwa 95%
                  surat kabar dan televisi masih dikuasai
                  orang-orang Golkar. Termasuk di dalamnya
                  surat-surat kabar besar, seperti Kompas,
                  Suara Pembaruan, Media Indonesia dan
                  Pos Kota. Para pemiliknya umumnya
                  pernah menerima penghargaan dari
                  Soeharto dan Golkar. Televisi terbaru,
                  Metro TV juga milik Golkar. Tidaklah
                  mengherankan bahwa media pers kini
                  ramai-ramai mengeroyok Gus Dur. 

                  Budiman Sudjatmiko, ketua PRD
                  menyesalkan bahwa DPR hanya
                  membentuk pansus Brunei Gate dan Bulog
                  Gate. Mereka lupa membicarakan masalah
                  Yayasan Dakab, manipulasi yang dilakukan
                  oleh Golkar selama berpuluh-puluh tahun
                  dan juga masalah korupsi yang dilakukan
                  Golkar ketika masih berkuasa. Pembusukan
                  politik terhadap pemerintahan Gus Dur
                  dimaksudkan untuk menutupi kasus-kasus
                  korupsi yang lama, yang jauh lebih besar
                  dari segi kuantitas dan kualitas. Peran
                  sejumlah anggota Fraksi Partai Golkar
                  dalam kegiatan Pansus Bulog Gate, dan
                  Forum Curah Pendapat Kwik Kian Gie serta
                  upaya untuk membuat memorandum DPR
                  kepada MPR untuk menuju Sidang
                  Istimewa adalah dalam rangka strategi
                  mengubur dosa Golkar itu. Kini Fraksi
                  Partai Golkar dinilai rakyat sejajar dengan
                  partai-partai reformis lainnya. 

                  Sementara itu, Rodjil Ghufron dari Fraksi
                  Kebangkitan Bangsa (FKB) mengakui jika
                  para politikus Golkar sangat lihai dalam
                  perebutan pos-pos penting melalui
                  orang-ornagnya di DPR. Hampir di setiap
                  komisi yang membahas pengisian pos-pos
                  penting pemerintahan Golkar berani
                  bersaing dengan PDIP yang merupakan
                  fraksi terbesar. Dan biasanya PDIP kalah
                  dalam perdebatan dan lobby-lobby hingga
                  pemunggutan suara. Masalah Golkar ini
                  hanyalah satu dari tujuh permasalahan
                  utama yang dihadapi Gus Dur.
                  Sesungguhnya, Golkar merupakan salah
                  satu bagian dari pelbagai sisa-sisa
                  kekuatan Soeharto. Kekuatan ini selama
                  pemerintahan Gus Dur telah berperan
                  sebagai negara di dalam negara. Sejumlah
                  kebijakan atau instruksi presiden dapat
                  mereka gagalkan. Sehingga sulit bagi Gus
                  Dur untuk menciptakan suatu Clean
                  Government dan Good Government. 

                  Masalah kedua yang dihadapi Gus Dur
                  ialah kebobrokan sistem hukum yang korup
                  yang jelas-jelas dikuasai jaringan Golkar.
                  Masalah ketiga, adalah co-operate system
                  yang menyangkut BUMN dan
                  konglomerat-konglomerat serta berbagai
                  bisnis besar, yang juga dikuasai
                  orang-orang Golkar, seperti Manimarem,
                  wakil bendahara Golkar, Sinivasan dan
                  lain-lain. Permasalahan keempat,
                  menyangkut pemerintahan mulai dari
                  menteri, gubernur, bupati, camat sampai
                  lurah masih dikuasai orang-orang Golkar
                  yang banyak di antaranya bermasalah.
                  Permasalah kelima ialah kedaerahan,
                  seperti di Aceh, Irian dan Maluku yang
                  banyak di antaranya dipicu oleh
                  orang-orang Golkar. Mereka berharap dapat
                  mengubur dosa mereka lewat aksi-aksi
                  kedaerahan, sebagai contoh Theys Eluay,
                  yang mantan tokoh Golkar yang kini
                  menjadi ketua Dewan Presidium Papua.
                  Demikian pula dengan Theo Sambuaga
                  yang menggerakan brigade Manguni dan
                  Dewan Minahasa raya di Sulawesi Utara.
                  Sementara itu di Riau, Syarwan Hamid
                  diketahui sangat mendukung gerakan Riau
                  Merdeka. Masalah keenam adalah sistem
                  keuangan dan perbankan. Hingga kini
                  Menko Perekonomian Rizal Ramli masih
                  belum mampu menembus benteng Golkar
                  di sektor ini. 

                  Masalah terakhir yang menjadi
                  permasalahan Gus Dur ialah masalah TNI.
                  Secara lambat tetapi pasti kelompok
                  loyalis Soeharto mulai merebut kembali
                  posisi strategis di TNI. Ini nampak dari
                  jabatan KSAD dan Wakasad. Agaknya
                  masih sulit untuk mengharapkan TNI bisa
                  berfungsi seperti tentara di negara-negara
                  yang didominasi sipil. Nampaknya sulit
                  bagi pihak pesantren untuk memimpin
                  bangsa ini dalam mengatasi tujuh
                  permasalahan utama tersebut dalam satu
                  tahun mendatang ini. Sedangkan banyak
                  pengamat memperkirakan bahwa Gus Dur
                  sudah akan jatuh dalam kurun waktu satu
                  tahun ke depan.


................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke