Jakarta dari Jagorawi? Dari Komplek Pagelaran, Desa Padasuka, Kabupaten Bogor mBah Soelojo berangkat ke Jakarta. Dia harus pindah-pindah angkutan perkotaan dan angkutan kota sebelum mencapai terminal Baranang Siang di mulut jalan tol Jagorawi. mBah Soel, demikian banyak orang memanggilnya, tidak berangkat sendirian. Keponakannya, Lek Oein mendampinginya. Namun untuk kepergian mereka kali ini bukanlah Terminal Kampung Rambutan tujuan akhirnya. Mereka harus melewati Jakarta, menembus ibukota yang kelihatan lengang ditinggal mudik warganya itu, mencapai Komplek Perumahan Pondok Rejeki, Kota Bumi di Balaraja, Banten. Mereka dipanggil oleh momongannya sejak kecil, Den Ragil Pamungkas, yang telah berangkat ke Balaraja 2 hari sebelumnya. Ceritanya Den Ragil akan menyambut kedatangan kakak iparnya dari Sidney, yang pulang dari kerja ikut Kapal Pesiar, sebagai peramu minuman di hotel terapung itu. Tujuan dan keperluan mBah Soel dan Lek Oein tak penting pada konteks ini. Yang penting justru kisah perjalanan mereka sejak dari Pagelaran hingga Kota Bumi. Itupun sebatas hingga sampai di Jakarta-nya. Dan yang menarik hanya apa yang terjadi dalam pikiran mBah Soel. Betapa dia jadi merenenung sejak meninggalkan rumah momongannya, dari PAGELARAN. Aha, seolah dia menemukan falsafah sepele tapi penuh simbul. Dia keluar dari rumah yang berada di dunia Pagelaran. Pagelaran adalah lambang sekenario yang dipagelarkan. Dan dia merasa jadi salah seorang lakon kecil atau figuran bersama keponakannya, Lek Oein. Maka ketika dia mulai naik angkot menjadi �ngethaprus� ngomong �juweh� kepada keponakannya. �Lho, Le, orang itu kan hanya jadi pelaku dari lelakon suatu pagelaran kan, Le?� �Maksudmu, Lek?� �Walah, ya ibaratnya wayang, kita ini kan sedang dipagelarkan oleh dalang. Dipagelarkan untuk masuk kothak sewaktu pagelaran usai bersamaan dengan terbitnya Fajar nan benderang?� �Hehehee. Leeek-lek, sok berfilsafat sampeyan itu. Terus?� �Gini lho, Le. Tempat tinggal Den Ragil itu lho, kan penuh simbul-simbul itu. Tadi kita keluar dari komplek Pagelaran, terus menuju Terminal Merdeka, kan? Itu berarti, dalam setiap pagelaran hidup, sedapat mungkin manusia itu hendaknya mampu mencapai kemerdekaan pribadi, lepas dari pagelaran itu sendiri. Gitu. mBok kamu itu ikutan aku belajar dikit-dikit tentang yang ginian. Jangan cumak �mblundhus� ikut arus pagelaran saja� �Iya lah. Terus sekarang kita menuju Merdeka, kemudian nanti pindah angkot menuju ke Fajar Baranang Siang ya Lek... hehehee... tahu lah aku dikit-dikit� �Lha kan, pinter juga gitu lho....� [sopir angkot berteriak: �Jembatan Merah! Jembatan Merah!� Lek Oein menyambut �Kiri!�] mBah Soel, ikut turun sambil nyekikik tertawa-tawa. Lek Oein merasa jengah menjadi perhatian penumpang lain karena harus menggandheng mBah Soel yang memang mulai agak �gruyah-gruyuh� termakan usia. �Kok malah ngakak, kenapa to Lek?� �Hahahaaa.. dasar kurang penuh, lha kamu tadi teriak apa?� �Kiri!� �Lha iya, kamu bilang kiri kan setelah supir teriak jembatan merah, kan? Itu kan simbul juga, bahwa untuk mencapai MERDEKA kita harus lewat Jembatan Merah, lambang perjuangan, �toh getih, udhu kringet� gitu. Maksudnya penuh perjuangan bermodal keringat mengandalkan darah� �Hahahaa, iya ya Lek. Memang untuk mencapai MERDEKA saja sudah harus berjalan �suk-sukan� dengan orang lain dan warung kaki-lima ya Lek?� �Lha iya, belum lagi nanti dari Merdeka, harus bermacet-macet lagi untuk mencapai Fajar Baranang Siang, itu pun baru untuk mengantarkan kita menuju jalan tol Jagorawi. Jalan yang lurus dan kita percaya cepat mengantarkan ke ibukota JAYAKARTA, penuh kemenangan dan kesejahteraan.� �Walah, wong kita nggak hanya brenti di Jakarta kok, tapi harus terus menembusnya mencapai Pondok Rejeki di Kota Bumi, Balaraja, Banten, kan masih jauh, Lek?� �Lha iya, memang untuk mencapai....� [Angkot nomor route 03 hampir berangkat, diiringi calo yang mengethuk-kethuk kaca dengan duit cepekan logam sembari teriak: Minal-minal, dua lagi... dua lagi... yang buru waktu. Lek Oein setengah memaksa mendorong mBah Soel memasukinya, sehingga untuk sementara obrolan berhenti] Bogor, 04 Januari 2001 Fukuoka Kitaro ------------------ ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
