Ngamen!
Jadilah mBah Soelojo dan Lek Oein masuk terminal Baranang Siang
namun terpaksa nunggu Bus AJA yang masih di urutan ke lima dari
jalur pemberangkatan Merak. Ha, Sukabumi � Merak yang dulu dalam
satu Propinsi, sekarang pisahan menjadi propinsi Jawa Barat dan
Banten. Berarti perjalanan mBah Soel kali ini dari Taman
Pagelaran di Bumi Pakuan akan melintasi propinsi terpadat, DKI
menuju pinggiran propinsi baru Banten.
Bus AJA itu memang aneh. Terpampang trayeknya Sukabumi � Merak,
via Jagorawi, Cimone, Cikokol PP. Entah mengapa setiap sampai di
Terminal Baranang Siang Bogor, selalu saja menjadi kosong,
sehingga perlu ngetem. Padahal kalau dipikir, Merak � Sukabumi
itu bila tanpa �mampir� Baranang Siang, pastilah akan lancar.
Kalau pun mau dibikin eh, dibangun sub terminal di Ciawi untuk
penumpang transit Ciawi � Bogor pastilah lebih nyaman. Arus
lalulintas akan lancar, penumpang juga nyaman dan cepat sampai
tujuan, sehingga perputaran makhluk-makhluk ekonomi akan lancar
pula. Dari pada model sekarang ini, hampir semua bus umum besar
kecil, penuh atau 3/4 ditambah angkutan umum bermuara di
sekeliling Kebun Raya, yang ujungnya di Terminal Baranang Siang.
Akibatnya numpuklah semua, sehingga segala kendaraan tidak saja
harus bermacet-macet, tetapi juga harus rela beradu asep.
Tebal-tebalan asap dan kenceng-kencengan klakson. Ditimpa lagi
oleh polisi partikelir yang berpihak pada kendaraan belok kanan.
Setiap kendaraan yang akan nyebrang dan atau belok kanan,
didahulukan, karena supirnya sering ngasih uang cepek sampai
gopek. Aneh memang, kendaraan jalan lurus di jalur besar sering
harus mengalah atau paling tidak �memaki-maki� kendaraan ke
kanan yang nyelonong dengan bemper tubuh-tubuh kerempeng itu.
Padahal di manapun ada penuntun tata-cara menempuh ujian SIM,
kendaraan di jalur rame yang lurus, meski harus jalan
pelan-pelan ketika melintasi perempatan atau pertigaan [Bogor
adalah kota yang kaya pertigaan] tetaplah diutamakan
kelancarannya. Ah, biarlah, wong SIM kini dapat dibeli di bagian
Pelayanan Masyarakat di polres-polres dengan pampangan plang
bertuliskan �Kami Siap Melayani ANDA� hehe, mungkin termasuk
melayani penjualan SIM. Tak tanggung-tanggung anda boleh pilih
SIM C, A atau umum, bahkan three in one pun dilayani seketika,
asal cocok dengan harganya. Maaf, ngelantur...
Yang jelas mBah Soel semangkin uring-uringan karena harus nunggu
Bus AJA yang berwarna Sampoerna Hijau itu. Bukan basa-basi
memang. Seandainya boleh gitu dia penginnya masuk ke Bus,
walaupun sekedar duduk menghindar dari kondisi bising penuh
suara dan asap di Terminal Baranang Siang.
�Le, nganyelke tenan kok. Tiwas tadi terminal ini tak sebut
sebagai Fajar Baranang Siang, terang benderang yang akan
mengantar kita menembus ibukota Jayakarta nan jaya dan
sejahtera, Le. Nggak tahunya bising, penuh pengasong, asep dan
pengamen!�
�Sorry Lek, harus nunggu lagi. Lha habis gimana lagi. Orang
busnya yang paling lancar sampai Balaraja ya cuman AJA itu aja
kok, lainnya banyak ngetemnya, setelah keluar dari TOL, mulai
UKI, Slipi, Grogol, Daan Mogot, wis sabar dulu lah Lek.�
�Hhmmmm, ya wis. Tapi nanti jangan ngawur lagi lho. Pokoknya aku
pengin duduk di belakang supir, biar bisa slonjor. Kebetulan bus
AJA nya itu kan Patas AC ya�
�Waah, Lek, kok nggak seperti dulu ya Lek. Sekarang kok banyak
orang ngamen? Padahal 19 tahun yang lalu ketika kita nganter dan
ikut Den Ragil pertama �ngancani dan momong� selama kuliah di
Ngipebeh, kan sepi. Paling cuman orang jualan asinan pala,
asinan kemang, buras dan tauco? Kok sekarang banyak amat
pengamen itu?�
�Lha iya itu, kerjaan non-produktif itu sedang melanda anak muda
jaman sekarang, Le. Jaman kamu kecil dulu kan kerjaan ngamen itu
dianggap rendah. Lha itu kan sama dengan ngemis, cumak pakai
sandiwara menghibur. Padahal, siapa yang merasa terhibur?�
�Iya ya. Di kampung kita dulu kalau ngamen kan ya niat tenan ya
Lek. Ada yang ngamen dalam bentuk COKEKAN pake gong-bumbung, ada
yang bikin grup srandul, Kuda Lumping, paling rendah tandak
bedhes (ronggeng monyet). Itupun pemainnya kelihatan malu,
sehingga sering pakai topi pandan atau topi tukang jual es dan
diblesek-kan sampai ndhak kelihatan mukanya. Apalagi pemain Kuda
Lumping, selalu pakai kacamata hitam�.
�Itu kan �wong mbarang� jaman dulu. Kalau sekarang kan cukup
bermodal gitar, terus gaya. Lha kowe kok mikir wong ngamen, yang
namanya pengemis saja lain kok Le. Dulu orang ngemis itu kan
malunya kayak apa. Makanya pakai caping, pakaian dekil, terus
ngemis dari rumah ke rumah, sambil jongkok di depan pintu. Kalau
dijawab �saneseeee� gitu ya sudah pergi. Lha sekarang birokrasi
saja ngemis terang-terangan je. Lha itu di kantor-kantor itu ada
kotak sumbangan, biaya administrasi, sumbangan olah raga, PMI
dan sebagainya itu apa bukan ngemis terang-terangan?�
�Walaaaah, gantian sekarang Sampeyan yang menjuruuuuuus! Terus
nanti ngerembug mailing, jaman dulu maling itu juga malu,
mangkanya operasinya selalu malam hari, pakai aji sirep segala.
Kalau sekarang, terang-terangan banyak orang pun maling kok Lek.
Bila perlu yang punya barang diancam atau dibunuh dulu je. Jadi
ndak da lagi bedanya antara maling, rampok, garong dan
teroris... hehehee.�
�Hahahaa, kamu itu, ndugal kok ndak angon tempat. Terus hasil
permalingannya dipamerkan ya Le. Ada yang hasil maling waktu
ngantor ngamen di mana-mana, hasilnya mobil-mobil mewah,
perumahan-perumahan mewah, dan lain sebagainya.�
�Husssy Sampeyan Lek, ati-atiiii. Lha kok Sampeyan nggebyah uyah
menganggap pengamen ke siapa saja, dasarnya apa Lek?�
�Le, orang ngamen itu kan hanya meniru-niru. Ngamen di Bus
menirukan lagunya Iwan Fals, malah kemarin ada yang melantunkan
Shalawat Badarnya Didi Kempot segala.. hehee... sama dengan para
misuwur, orang cerdik cendekia. Ngamen seolah seperti ahli
sociology, ekonomi, biology, bahkan ngamen di sono noooh di
gedung Senayan... heheee sebagai ahli rakyat... hahahaaaa. Mau
tahu buktinya kalau ngamen itu hanya niru-niru, tuh denger yang
di dalam Bus Indah Murni itu sedang niru lagu Koes Plus...
hehehe�
[Dan memang sedang mengumandang lantunan penyanyi gadungan yang
cukup apik karena cukup lengkap alat ngamennya, ada 3 orang
sedang melantunkan:
Aku tahu
Manis senyummu
Apa lagi
Tajam lirikmu
Ku tak tahuuu
Isi hatimu.....
genjreng-jreng-jreng cruk-ucruk-ucruk....
Mari-mari oh
Berterus terang oh
Jangan lewat
Pintu belakang..... genjreng-jreng-jreng ucruk-ucruk....
Mohon maaf para penumpang sekalian, terimakasih Bapak Sopir dan
Bang Kernet, atas kesempatannya, kami mohon ala kadarnya, semoga
selamat sampai tujuan, Amiin.. Mari-mari oh berterus terang
oh... jangan lewat... bruuuuum... bruuuum dengan goyang-goyang
Bus Indah Murni terlihat beringsut menuju pintu keluar
terminal...]
Bogor, 6 Januari 2001
Fukuoka Kitaro
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com