Ngamen #2

Begitu Bus Indah Murni keluar dari jalur pemberangkatan ke
Kampung Rambutan, Lek Oein mengajak mBah Soel mendekati Bus AJA
yang hijau sampoerna warnanya itu. Bus Aja memang telah
beringsut 2 bus ke depan, menjadi urutan ke-3. Dan Mungkin
karena merasa kasihan, Bang Kernet AJA membolehkan mBah Soel dan
Lek Oein masuk ke dalam Bus. Setelah mereka berdua masuk, lewat
pintu depan, Kernet segera menutup pintunya lagi. Di dalam hanya
berlima, Supir, Kondektur, Kernet, mBah Soel dan Lek Oein.
Sesuai rencana, mBah Soel duduk di belakang supir.

�Lek, Lek Soel tadi kok kelihatan senyum-senyum gitu waktu
dengar pengamen di Bus Indah Murni melantunkan lagu Mari-marinya
Koes Plus?�
�Hehehehe, lha anak-anak muda tadi kan nyindir to Le? �Mari mari
berterus terang, jangan lewat pintu belakang'.. hehehe, dan
memang mereka kan tidak pernah lewat pintu belakang waktu
ngamen, hahaha, beda dengan pengamen berdasi kan?�
�Oooh, tak kirain karena lagunya yang enak dan pas dengan alat
musik yang mereka mainkan, tahunya itu to?�
�Maaf, Ki, Aki ini badhe kamana?� Bang Kondektur tiba-tiba
menyapa mBah Soel. �Matriik� pikir mBah Soel, diajak ngomong
Sunda. Aha, untung aku sempat belajar dikit-dikit dari Den
Ragil. �Badhe ka eta Kang, Ka Balaraja eh... Ka Cikokol, wadhuh
hapunteun nya Kang, teu lancar nyarios susunda-anana... maklum
jelema wetanan...�
�Oh, gitu. Terus Aki ini dari mana asalnya eh, tempat mudiknya?�
�Di sana Kang, kota kecil Klaten antara Jogja-Solo sana. Ada apa
to Kang?�
�Ah, enggak, tadi itu lho eh sebentar, lha yang ini apanya Ki?�
�Saya keponakannya Kang, kenalkan nama saya Jiwo Winenang, alias
Oein.�
�Kenalkan juga, Asep, lengkapnya Asep Jaya Sumpena, hehehe, asep
yang jayanya waktu dalam mimpi hungkul... hehehe. Itu, tadi Mas
Oein ini kok bicara-bicara tentang pengamen?�
�Lha iya, Kang. Lek saya ini kan tadi ngrasani bahwa sekarang
ini jamannya Pengamen. Tak hanya ngamen lagu-lagu, membawakan
lagu-lagu orang lain, tetapi juga termasuk Ngamen Politik,
Ekonomi, Hukum dan sebagainya. Serba ngamen, gitu lho. Rak ngono
to Lek?�
�Lha iya. Kan memang gitu, kenyataannya. Malah banyak yang lewat
pintu belakang lagi. Ya Kang?�
�Wah, saya nggak tahu Ki, masalah yang berat-berat kituh. Cumak,
pernah dengar nggak Ki, Mas, kalok di Terminal ini pernah ada
pengamen dihajar oknum sampai mati. Ah, kasihan, padahal bukan
dia yang salah lho. Tapi, ya gimana orang namanya nasib. Ada-ada
saja.�
�Lho, apa iya? Lha critanya gimana?�
�Katanya sih. Ada pengamen yang kurang sopan. Nggodain isteri
aparat keamanan, lha terus suaminya nggak terima, ngajak
temen-temennya, ngamuk! Menghajar pengamen-pengamen itu, tak
pilih-pilih.�
�Oh ya? Walah, Le. Aku kok jadi ingat critanya Den mBarep
kamasnya Den Ragil kemarin waktu mudik ruwahan kemarin ya Le?�
�Yang katanya Den mBarep �njotosi� pengamen di daerah Kleco Solo
itu ya Lek?�
�Lho, apa yang namanya Den mBarep itu ya petugas, Ki?�
�Bukan. Sama sekali bukan. Dia itu hanya kakak sulung juragan
saya di mBogor sini. Ceritanya dari Surabaya mau pulang ke
Klaten. Lha sampai di Tirtonadi sekitar jam 7:30 malam. Sedang
ngantuk-ngantuknya, ada pengamen yang masuk ke bus yang dia
tumpangi. Nha setelah ngamen selesai, Pengamen itu, biasa minta
sedekah, dari belakang ke depan. Kalau di kasih cepek atau apa
saja nggak ngucap apa-apa. Tapi kalau nggak dikasih, eeee dia
malah nggrundel �GATHEL� gitu. Kebetulan Den mBarep itu duduknya
di tengah, jadi beberapa kali dia denger �pisuhan GATHEL� itu.
Padahal dia tahu arti kata itu yang benar-benar tak pantas
disebut, wong artinya itu ah... nggak lah, nggak pantas.�
�Terus, Ki?�
�Yaaa begitu Pengamen sampai di bangku deretan Den mBarep dan
minta sedekah nggak dikasih bilang gitu lagi. Langsung, bogeman
Den mBarep mendarat di perutnya. Pengamen yang hampir rubuh itu
segera ditarik krah-nya sembari teriak �Piiiir, stop Pir!
turunkan dulu pengemis sontoloyo ini, gak tahu aturan, ngemis
saja berlagak. Minta gak dikasih malah misuh GATHEL!� gitu.
Lhaaaa, begitu bus berhenti, gruduuuuuk dari belakang,
penumpang-penumpang yang tadi juga dikatai Gathel ikut nimbrung
kasih jotosan. Pengamen yang nyekukruk dan nyonyor itu, sebelum
dilempar keluar sama Den mBarep, diancam lagi �Awas kalau sekali
lagi kamu gitu atau ngajak teman-temanmu, tak entekna kabeh kowe
� Lha kok untungnya Den mBarep itu potongannya ya kayak tentara
pensiunan gitu. Waaah, kata Den mBarep, Supirnya malah yang jadi
ketakutan. Takut dicegat busnya. Den mBarep meyakinkan, �Ampun
takut Pak Sopir, sudah waktunya orang-orang tak produktif begitu
disapu saja. Aman wis ta!� Yah, memang akibat lanjutannya gak
ada. Paling tidak, nggak ada siaran di media tentang supir yang
dikeroyok kawanan pengamen, dan memang berita itu juga nggak
sempat masuk mas media kok.�
�Wah, iya juga ya Ki? Orang cari sedekah saja kok ya gitu.
Mending yang hanya ngamen di bus ke bus, lha wong yang ngamen
jenis lain juga gitu kok. Termasuk yang nonton, Ki. Selama belum
ada yang seperti kakak juragan Sampeyan tadi, yaaaa nggak berani
apa-apa. Termasuk saya Ki. Orang kecil gini. Takut hilang jalan
rejekinya..�
�Lho, Le..... hehehee, bukan hanya aku kan yang menganggap
sekarang ini jamannya pengamen di segala bidang... hahaha,
mangkanya yang diperlukan sekarang itu ya orang-orang seperti
Den mBarep itu. Kamu mau niru?�
�Ah, Lek, aku ikutan Kang Asep saja lah, wong cilik saja kok.
Paling hanya bisa berdoa semoga para pengamen itu segera diberi
kesadaran.... Hanya ada nggak ya para misuwur, pengamat,
budayawan dan lain-lain elite tokoh yang memperhatikan
gejala-gejala pengamen begini?�

Bogor, 7 Januari 2001

Fukuoka Kitaro

[catatan: Mail ini saya tujukan kepada Tom di Bandung dan Sri
Danardono dari wong-solo. Meskipun tidak langsung, saya berusaha
mengkaitkan gejala (baca kejadian) nyata di daerah SOLO, yang
dipercaya sebagai barometer SOS-BUD, yang dalam pengamatan saya
sudah mengidap gejala-gejala mirip dengan Bogor, bahkan lebih
intens akhir-akhir ini. Pengamen-pengamen di segala bidang telah
bergentayangan, mudah-mudahan pengamatan ini salah]



................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke