----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, January 08, 2001 8:07 AM Subject: [dunia Islam] Jihad Gaya McDonalds > > > Assalamu'alaikum w.w. > > Walaupun dulu saya lebih suka makan siang di Arbies dibandingkan di > McDonalds, namun harus diakui McDonalds lebih merupakan "American > Icon" dibanding Arbies. > > Di Indonesia, McDonalds menjadi "icon" modern-kaya-wah, oleh karena > itu banyak orang-orang Indonesia menjadi terpana untuk mendapatkan > "icon" tersebut ... as always. Di negara yang budaya slogan-nya > kuat sekali semacam Indonesia, "isi" ndak penting, yang penting > "icon." Yang penting "anda naik apa ke kantor", setelah itu semua > terserah anda:-( > > Di USA, McDonalds tidak lebih dari warung-warung seperti yang lainnya, > anda masuk kesana, mungkin tidak akan ketemu Julia Robert ataupun > Denzel Washington, apalagi Marlon Brando. Jadi McDonalds di Indonesia > fungsinya lain dengan McDonalds di USA, karena budayanya lain. > > Enough bashing around! Kemarin di is-lam@ ada yang ingin boikot > McDonalds, mungkin artikel ini dapat memberikan wawasan mengenai > McDonalds dari sisi lain. > > Wass.w.w. > -- Jack la Motta > > > ---------------------------------------------------------- > Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut > nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada > ayat-ayat-Nya (QS 6:118) > ---------------------------------------------------------- > > Ibadah Melalui McDonalds > Iqbal Musaji > > "Ayah saya berkata, Jangan lakukan sesuatu yang dapat > memalukan keluargamu, dirimu, atau Islam'." > > Dia dibesarkan di Karachi, Pakistan, putra seorang pegawai > d United States Civil Service. Keluarganya hidup dalam > kebudayaan Islam. Ketika dia menyatakan minatnya untuk > sekolah ke luar negeri, dia diperingatkan tentang > kebobrokan moral yang harus dihindarinya di Amerika. Dia > memulai pendidikan tingginya di Pakistan, tetapi > menyelesaikannva di California. Di sana dia mulai bekerja > di McDonalds untuk mencukupi kebutuhannya. Di sana pula > kisahnya dimulai. Seorang Muslim yang bekerja sama di > bidang fast-food. > > Saya cukup beruntung mendapatkan sedikit orientasi dari duta besar > AS. ketika masih di Pakistan. Persepsi saya tentang Amerika dibentuk > oleh film-film, oleh apa yang saya lihat d majalah-majalah. Dia > membawa kami, enam pemuda, ke sebuah auditorium. Lalu lampu > ditemaramkan, dan yang kemudian tampak di layar adalah sebuah gambar > dari majalah Playboy. Gambar tersebut berada di layar selama satu > menit, tetapi rasanya seperti selamanya. Kami gelisah, menunduk, > melihat ke samping. Kami sangat malu. Akhirnya dia menyalakan lampu, > memandang kepada kami dan berkata, "Sekarang saya ingin Anda > menanamkan dalam benak Anda bahwa di Amerika tidak semua wanita > seperti itu. Mereka sama seperti saudara perempuan dan ibu Anda." > Saya pikir kami berenam diharapkan untuk mengerti bahwa Amerika bukan > seperti apa yang tampak di majalah itu. Kami diharap untuk datang > dengan berbekal pemahaman dan rasa hormat yang jauh lebih baik > terhadap rakyat Amerika. > > Saya kuliah di Northrop Institute of Technology, di Inglewood, > California. Mata kuliah utama saya adalah elektronika. Karena bekal > yang terbatas, dalam waktu enam bulan saya sudah harus mencari > pekerjaan. Itu saya perlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya > kuliah saya. Pekerjaan pertama yang saya dapatkan adalah di > McDonalds. Saya kuliah di pagi hari, siangnya saya pergi ke McDonalds > dan bekerja selama tiga jam. Setelah itu saya bekerja untuk sebuah > toko perkakas, di bagian pembersihan. Setelah itu di rumah sakit > hewan. Kemudian saya pulang, menyelesaikan pekerjaan rumah, memasak, > istirahat, dan memberi makan binatang. Lalu tidur, dan kembali ke > kampus keesokan harinya. > > Pada enam bulan pertama, ketika saya tinggal di asrama mahasiswa, > bulan Ramadhan tiba. Inilah Ramadhan pertama saya jauh dari rumah. > Kami meminta untuk disediakan makan pada pukul setengah empat pagi. > Mereka memandang kami seolah-olah berkata, Anda pasti bergurau. Kami > katakan pada mereka bahwa ini bulan Ramadhan. Dengan sedikitnya > masyarakat Muslim di L.A., kami harus menerangkan mengapa kami harus > berpuasa selama Ramadhan dan bangun dini hari untuk makan. > > Kami beruntung. Northrop, yang kini menjadi universitas, sangat > mengakomodasi kami, karena mereka mengharapkan pelajar-pelajar asing > untuk datang ke sana. Mereka berkata, kami tidak dapat menyediakan > makan pada dini hari, tetapi kami akan membuka fasilitas dapur untuk > Anda. Maka saya dan keenam rekan yang lain bangun dini hari dan turun > ke dapur, mengocok telur, lulu memasukkannya ke alat pemanggang, > kemudian makan. > > Sepulang kuliah, saya akan berlari ke McDonalds dan masak kentang > goreng yang diiris memanjang. Saya tetap berpuasa sepanjang hari. > Sementara saya menyajikan makanan dan minuman, saya tidak makan apa > pun. > > Itu memang jalan yang sangat berat untuk dilalui. Jika Anda tumbuh > dewasa bersama agama Islam di negara Anda sendiri, Anda akan > menemukan bahwa kebudayaan telah berbaur dengan agama. Ketika Anda > berpuasa seluruh negara akan berpuasa, setiap orang mengubah gaya > hidupnya. Aktivitas dimulai pada jam yang berbeda dari biasanya, > tutup pada jam yang berbeda; makanan disajikan pada jam yang berbeda; > rumah makan dibuka pada jam yang berbeda. Tetapi di sini, hidup > berjalan sebagaimana biasa. Andalah yang harus membuat penyesuaian. > > Ketika Anda dilahirkan dalam agama Islam, Anda akan mempelajarinya > dari lingkungan sekitar Anda, bukan hanya dari buku-buku, bukan hanya > dari Al-Quran, tetapi juga dari para imam, teman, dan keluarga Anda. > > Sekarang saya merasa sebagai seorang Muslim yang lebih baik dengan > pemahaman yang jauh lebih baik tentang agama saya, dan saya merasa > jauh lebih bahagia. Saya dapat memandang agama saya dalam cahaya yang > sebenarnya. Saya tahu lebih banyak tentang apakah Islam sebenarnya. > Saya mulai mempelajari apakah hadis itu, apakah Al-Quran, dan apakah > kebudayaan. Dan Anda dapat memisahkan kebudayaan dari ajaran agama. > > Perusahaan elektronik dan pesawat di daerah Selatan California > memberhentikan sebagian besar insinyur elektronik dan penerbangannya > ketika saya baru menyelesaikan studi. Kemudian McDonalds menawarkan > pada saya sebuah jabatan di bagian manajemen. Saya memandang hal itu > sebagai kesempatan. Sekarang saya telah bekerja dengan McDonalds > selama lebih dari dua puluh tiga tahun. > > Saya telah beberapa kali mengalami perubahan jabatan, dari seorang > pesuruh menjadi manajer shift lalu manajer tetap. Kemudian saya > bergabung dengan McDonalds Corporation, dan mengawasi lima restoran, > kemudian bergeser lagi menjadi konsultan untuk McDonalds Corporation > mengawasi pengoperasian sembilan restoran di daerah Los Angeles yang > lebih besar. Kemudian saya pindah ke Connecticut sebagai manajer yang > berlisensi. Saya membawahi sebelas negara bagian. Pada dasarnya saya > bertugas mewawancarai dan memilih usahawan yang ingin menjadi > penyelenggara restoran McDonalds. Saya memasukkan mereka ke program > latihan dan akhirnya menempatkan mereka di restoran. > > Setelah itu saya pindah ke markas besar McDonalds International di > Chicago. Saya membantu McDonalds membuka restoran-restoran di > Malaysia, Philipina, dam Thailand, dan mengadakan perjalanan pertama > ke Indonesia dan beberapa negara sekelihng Pasifik, termasuk Korea. > > Yang merupakan negara-negara yang sebagian besar penduduknya beragama > Islam adalah Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Di Malaysia, > restoran McDonalds menyajikan makanan halal. Ketika kami membuka > restoran di Indonesia, semua orang > > di markas besar mengetahui bahwa ini pun harus merupakan restoran > yang halal sebab sebagian besar penduduknya Muslim, hampir 98 persen. > Maka restoran tersebut dibuka dengan menyajikan makanan 100 persen > halal. Potongan ayamnya yang halal dibuat di Amerika dan dikirimkan > kepada mereka. Hal itu terjadi > > di Malaysia dan Indonesia. Saya mendukungnya. Sosis yang kami > pergunakan adalah Sosis McMuffin --kami harus membuat produk yang > sama dari daging sapi, sebagai ganti daging babi Canada, mengikuti > standard McDonalds dan juga halal. > > Saya juga berkesempatan untuk bekerja di Singapura. Di Singapura 30 > persen penduduknya Muslim. Direktur pelaksana di sana adalah seorang > Cina. Saya meyakinkannya bahwa dia akan kehilangan pelanggan jika > tidak menyajikan makanan halal. Saya tahu banyak orang Singapura yang > pergi menyeberangi > > perbatasan ke Johor Baru, yang merupakan bagian dari Malaysia yang > terdekat, untuk mendapatkan makanan halal McDonalds, karena mereka > tahu McDonalds di sekitar Singapura tidak halal. > > Siaran nasional CNN melaporkan bahwa McDonalds di Singapura hanya > menyajikan makanan halal dan karena itu mengalami kenaikan usahanya > sebanyak 19 persen. Sekarang orang Malaysia datang untuk bersantap di > restoran tersebut. Ini sangat berarti. > > McDonalds telah ada di Malaysia dan Indonesia selama sepuluh atau dua > belas tahun dan kami telah menyediakan 60 sampai 80 juta hamburger. > Di Singapura ada kurang lebih 42 restoran. Malaysia memiliki sekitar > 40 restoran yang tersebar di seluruh penjuru negara, dan Indonesia > mempunyai empat atau lima. Saya sangat senang menyediakan makanan > halal di negara-negara tersebut. Itu membuka pintu bagi negara-negara > lain. > > Sebenarnya --McDonalds telah beradaptasi dengan Islam. Mereka tahu > jika mereka ingin memperluas usahanya ke negara-negara Islam, mereka > harus menyediakan makanan halal. Mereka mempunyai pemahaman yang baik > tentang apa itu halal, dan telah melakukan perbuatan yang > menakjubkan. > > Di setiap negara tersebut McDonalds menyediakan kesempatan usaha bagi > banyak usahawan kecil --petani, pembuat kue, dan tukang jagal. > Perusahaan tersebut menciptakan infrastruktur, mengajari petani > bagaimana cara menanam yang lebih baik untuk mendapatkan hasil panen > kentang yang bagus dan bagaimana cara memberi makan hewan ternak > untuk mendapatkan kualitas yang dapat dikonsumsi oleh McDonalds. > > Banyak rekan-rekan dari Saudi Arabia telah mengadakan pendekatan > dengan McDonalds. Salah satu dari mereka telah membuka sebuah > restoran bergaya McDonalds di Arab Saudi. Tidak lama lagi akan ada > restoran McDonalds di sana. > > Saya pikir setidaknya sepuluh sampai lima belas restoran tersebar di > negara itu yang lokasinya sangat dekat dengan masjid. Jika mereka > menyediakan makanan halal, usaha mereka akan meningkat seperti > kenaikan 19 persen di Singapura itu. > > Hal yang menyenangkan adalah bahwa perusahaan ini peka terhadap > tempat di mana mereka menjalankan usahanya. Mereka akan menyediakan > bagel dan krim keju jika mereka menempati lokasi yang penduduknya > dominan Yahudi. Saya tidak tahu apakah ada restoran lain yang > sekarang menyediakan makanan halal yang juga berpikiran begitu. > > Saya sendiri memiliki tiga buah restoran. Ketiganya di daerah > Missouri. > > Untuk menjadi penyelenggara McDonalds, Anda memerlukan uang sekitar > 150.000 dolar kontan, untuk satu restoran. Dari sana, dimulailah > suatu kerja keras yang memerlukan waktu yang panjang dan melelahkan, > tetapi salah satu hal yang selalu menarik bagi saya adalah perusahaan > ini beroperasi dengan etika. Tidak ada kecurangan, tidak ada > persetujuan di bawah tangan. Dan bagi saya sebagai orang Muslim saya > sangat mementingkan bahwa saya bergabung dengan sebuah perusahaan > yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip saya. > > Kadang-kadang kita merasa menjadi orang yang berbeda dan aneh, dalam > arti tidak mengikuti kecenderungan yang dominan. Saya akan selalu > ingat apa yang saya dengar beberapa waktu yang lalu. Jesse Jackson > berkata bahwa keunggulan adalah alat penangkis diskriminasi yang > ampuh. Sampai hari ini, saya menekankan hal itu pada para bawahan > saya. Saya membawahi sekitar 150 pegawai di organisasi saya, dan saya > menantang mereka untuk menampilkan keunggulannya, sebab keunggulan > dapat memilahkan segala sesuatunya, bahkan jika Anda merasa bahwa > Anda berbeda sekalipun. > > Islam telah membuat saya untuk tetap disiplin walaupun banyak godaan > di sekeliling saya. Islam menjaga saya untuk tetap berkonsentrasi, > menjaga prioritas saya tetap lurus.[] > > --------------------------------------------------------------------- > Jihad Gaya Amerika, Islam Setelah Malcolm X oleh Steven Barbosa > Penterjemah: Sudirman Teba dan Fettiyah Basri > Penerbit Mizan, Jln. Yodkali No. 16, Bandung 40124 > Telp.(022) 700931 Fax.(022) 707038 > http://media.isnet.org/islam/AS/McDonalds.html > > > > > > > Milis Informasi Dunia Islam > http://listen.to/dunia-islam.org > > To Post a message, send it to: [EMAIL PROTECTED] > To join, send a blank message to: [EMAIL PROTECTED] > > ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
