Mungkin ada benarnya kalau pernyataan bahwa bangsa ini selalu saja
meributkan sesuatu (masalah) kalau masalah itu sudah telanjur terjadi,
menimbulkan korban jiwa,  dan merugikan banyak pihak. Kalau belum
menimbulkan akibat, semua orang diam saja. Kalau sudah terjadi (dng
merugikan banyak pihak, menimbulkan korban jiwa) barulah semua berebutan
suara berkomentar, mengecam, mengcemooh, saling menyalahkan, dsb-nya.
Padahal apabila mau, sejak semula seharusnya sudah bisa dicegah.

Dengap sikapkita seperti ini, maka tidak heran, kalau sebuah kejadian
(berita) yg sebenarnya menimbulkan rasa prihatin kita semua. Yg seharusnya
membuat pihak yg berwenang segera bertindak dan memberi sanksi kpd pihak yg
melanggar, sama sekali tidak terjadi. Kejadian itu berlalu begitu saja.
Padahal sangat riskan membunuh ribuan jiwa!

Apakah itu?

Bacalah berita di Jawa Pos, Senin, 8 Januari: "Ribuan Penumpang Terlantar."
Pihak pemilik kapal (PT Prima Vista) telah menjual tiket KM Titian Nusantara
sebanyak 7000 lembar. Padahal kapasitas kapal laut tujuan Sby- B. Papan itu
hanya berkapasitas 1600 penumpang! Atau pihak pemilik kapal telah menjual
tiket lima kali lipat dari kapasitas. Akibatnya penumpang berjejal di atas
kapal sampai mencapai 2500 orang. Sesaknya kapal menyebabkan banyak
penumpang yg mengalami sesak nafas dan pusing2. Sebagian lagi mual2. Sisanya
sekitar 4500 telantar di dermaga. Dlm kondisi demikian, walaupun terlambat
kapal ternyata tetap diberangkatkan dng 2500 penumpangnya.

Bayangkan saja bagaimana kalau kapal yg sampai sempat oleng itu sampai
mengalami kecelakaan di laut dan menyebabkan ribuan penumpangnya mati
konyol?Semua org pasti akan rame2 bikin pernyataan yg macam-macam, yg
berkompeten akan saling menyalahkan, LSM2 semacam YLKI akan berteriak-teriak
menuntut sana-sini. Menjadi pahlawan konsumen. Tetapi selama itu belum
terjadi, semua diam seribu bahasa.

Hal2 seperti ini juga terjadi di hampir semua kapal penumpang milik PT
Pelni. Yg selalu menjual tiket kelas ekonomi melebihi kapasitas kapal.
Sehingga bukan saja kenyamanan penumpang lain (penumpang kelas I-IV)
terganggu (banyak penumpang kelas ekonomi yg tidur di lantai di lobby dan
koridor2 kamar kelas), tetapi juga sangat tinggi risikonya kalau sampai
kapal mengalami musibah. Karena jumlah sekoci yg ada tidak sebanding dng




................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke