Saat ini sedang ramai dibicarakan dan diperdebatkan rencana pengerahan massa
Banser NU dalam jumlah besar di Jakarta. Dari pihak NU diperoleh keterangan
pengerahan massa tersebut untuk menghadapi (sebagai kontra) dari rencana
massa dari pihak lain, yang katanya akan melakukan demo besar-besaran     di
gedung DPR/MPR untuk menurunkan Abdurrahman Wahid dari kursi Presiden. Hal
yang dinilai anarkis dan inkonstitusional.

Rencana pengerahan massa Banser NU itu pun segera mendapat kecaman keras
dari pihak lawan politik Presiden Abdurrahman (Gus Dur). Terutama dari
tokoh-tokoh politik Poros Tengah. Segera tudingan anti demokrasi, represif,
dan sebagainya diarahkan ke kubu NU.

Isi kecaman tersebut antara lain datang dari A.M. Fatwa yang mengatakan
bahwa ancaman Banser itu sangat tidak proporsional. "Jika Presiden salah
atau salah berjalan, adalah kewajiban seluruh rakyat untuk membetulkannya.
Presiden Gus Dur adalah PresidenIndonesia bukan Presiden NU. Reaksi NU
sangat berlebihan. Ancaman itu mematikan demokrasi yang menghargai perbedaan
pendapat." Sedangkan Syamsul Muarif, dari Golkar mengatakan ancaman Banser
tersebut lebih buruk daripada Orde Baru. (Gatra, 13/2/01).

Padahal jika kita mau berkepala dingin melihat permasalahannya secara
baik-baik, maka bisa kita lihat bahwa dalam pernyataan NU itu jelas
dikatakan bahwa massa Banser itu dikerahkan untuk melakukan kontra demo
besar-besaran massa anti Gus Dur. Ketua NU Hasyim Muzadi, dalam sebuah
wawancaranya mengatakan, apabila tidak ada massa yang demikian maka tidak
ada pengerahan massa Banser tadi. Pihak NU sendiri selama ini membiarkan
demo-demo kecil yang juga sifatnya anti pemerintahan Gus Dur. Sekalipun
dalam demo-demo tadi dinilai kebablasan, yakni dengan melakukan
parodi-parodi vulgar, yang tidak ada hubungannya dengan substansi masalah.
Misalnya, dengan meniru dan memperolok cacat yang diderita Gus Dur.

Jadi, apabila pihak yang begitu keras mengecam rencana pengerahan massa
Banser itu mau obyektif, seharusnya mereka juga mengecam rencana pengerahan
massa yang akan melakukan demo besar-besaran untuk menurunkan Presiden Gus
Dur. Sebab bukankah demo seperti ini (yang cenderung hendak menurunkankan
Gus Dur secara inkonstitusional) juga merupakan tindakan yang mengarah pada
tindakan yang sifatnya anarkis? Kalau mereka membenarkan demo massal anti
Gus Dur itu dengan mengatasnamakan rakyat, lalu bagaimana dengan massa
rakyat lain yang mendukung Gus Dur, rakyat yang netral, dan/atau yang tidak
mendukung Gus Dur tetapi sekaligus tidak setuju dengan cara-cara yang
cenderung anarkis seperti demo massal anti Gus Dur yang katanya akan
diadakan pada 15 Januari nanti itu? Apakah mereka bukan rakyat yang memiliki
juga Presiden Gus Dur?

Fenomena ini jelas berbeda dengan pada waktu demo massal (mahasiswa) yang
mempunyai tujuan menurunkan Soeharto sari singgasananya pada 1998 lalu.
Karena pada waktu itu boleh dikatakan semua elemen masyarakat mendukung
gerakan tersebut. Sekarang, keadaannya berbeda. Walaupun Gus Dur, oleh
sementara pihak dinilai melakukan berbagai kesalahan, tetapi tidak semua
pihak setuju agar Gus Dur segera lengser dari kursi Presiden. Apalagi dengan
cara demo massal meniru cara demo massal tahun 1998 itu. Kalau memang
seluruh takyat, atau sebagian besar rakyat setuju Gus Dur segera turun di
tengah jalan, maka tentu fenomena tahun 1998 pun akan terjadi. Seluruh atau
sebagian besar elemen masyarakat akan mendukung sepenuhnya rencana demo anti
Gus Dur itu. Kenyataan, tidak demikian.

Apabila AM Fatwa cs hendak memakai terminologil proporsional, maka
seharusnya mereka juga menghimbau agar rencana demo massal anti Gus Dur itu
tidak dilakukan. Tidak hanya mengecam rencana pengerahan massa Banser yang
hendak meng-counter demo anti Gus Dur tersebut. Kalau tidak, yang tidak
proporsional justru komentar mereka yang hanya mengecam pengerahan massal
Banser NU, tetapi tidak berkomentar untuk rencana demo besar anti Gus Dur.
Bukankah pihak NU sendiri mengatakan bahwa kalau tidak ada pengerahaan massa
secara besar-besaran untuk menurunkan Gus Dur itu, maka tidak ada pula
pengerahan massa Banser itu?

Saya khawatir fenomena ini merupakan fenomena sebagian politisi yang
memperalat dan mengatasnamakan rakyat, atau mengatasnamakan demokrasi dan
reformasi untuk memperjuangkan kepentingan politik pribadi, atau kelompok
semata. Betapa tidak, dalam beberapa kesempatan, beberapa politisi lawan Gus
Dur, terutama dari Poros Tengah -- misalnya, wawancara di berita pagi AN TV
dengan AM Fatwa beberapa hari lalu -- mempermasalahkan kesehatan Gus Dur dan
matanya yang tidak bisa melihat sebagai alasan bahwa Gus Dur tidak layak
menjabat posisi Presiden lagi. Padahal kesehatan Gus Dur dan matanya yang
nyaris buta total itu bukan baru ada sekarang ini. Kesehatan Gus Dur dan
matanya yang buta itu, sudah terjadi ketika kelompok itu yang dengan
mengebu-ngebu, dengan berbagai cara mengdukung Gus Dur agar menjadi
Presiden, dengan mengcampakkan Megawati yang partainya keluar sebagai
pemenang Pemilu.  Ketika Gus Dur keluar sebagai pemenang lewat voting, masih
teringat dengan jelas, mereka bersorak-sorak sampai berdiri di atas meja,
menangis haru, berpelukan, bersebahyang syukur, dan menyanyi shalawat Nabi.




................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke