Semoga fwd ini boleh menambah bahan diskusi!
Selamat berdiskusi rame.......
Demi Indonesia Baru.
===============================
Mengeritisi dan Mentransenden MUI
Sedikit demi sedikit umat Islam mulai menyadari bahwa
hidup ini tidak bisa dijalani dengan gaya dan metode
kuno, tetapi dengan gaya dan metode baru. Gaya kuno
adalah monolog: MUI bicara dan umat Islam disuruh
menelan saja tanpa daya kritis, kreatip dan
imaginatip. Gaya baru adalah dialog: MUI bicara dan
umat tidak hanya menelan saja, tetapi berefleksi,
mengeritisi bahkan mampu mentransendennya. Gaya kuno
menganggap umat Islam seperti mesin statis atau
seperti anak kecil yang bisa diindoktrinasi tanpa
kritis. Gaya baru umat Islam adalah bahwa manusia itu
makhluk kreatif yang bisa berefleksi, mengeritisi
bahkan mentransenden diri dan bahkan mentransenden MUI
itu sendiri. Dalam gaya kuno kebenaran, kekuasaan dan
otoritas ada pada MUI. Dalam gaya baru kebenaran
ditemukan dalam logika berpikir, dalam kemanusiaan dan
pemanusiaan seluruh umat manusia yang beraneka ragam
latar belakang budaya, politik, ideology dan agama.
Dalam gaya lama MUI bisa menjadi sesuatu yang absolut,
dalam gaya baru cuma Allah SWT yang absolut dan tidak
bisa dikritisi. MUI masih ikut gaya dan pola lama
sementara umat Islam sudah hidup dalam gaya dan pola
baru.
Masih ingat kita ketika MUI bertitah agar jangan
memilih perempuan sebagai pemimpin. Teriakan dan titah
MUI itu hilang dan dilupakan begitu saja. Sebagian
besar umat Islam tetap memilih PDIP yang mencalonkan
Megawati, manusia yang ditolak dan direndahkan MUI
hanya oleh karena ia bergender perempuan. Adalah
ironis bahwa sementara umat Islam telah mampu hidup
dalam gaya baru yaitu mengukur kwalitas manusia
melampaui batas-batas gender, MUI masih terbenam dalam
kecupetan dan kesempitan pola berpikir gaya lama yang
mengeliminir dan mensubordinasikan anak manusia hanya
oleh karena seseorang bergender perempuan.
Masih ingat kita ketika MUI menfatwakan agar umat
Islam tidak mengirim kartu Natal dan mengucapkan
selamat Natal kepada saudara-saudara Nasraninya.
Himbauan dan fatwa itu juga seolah jadi barang loakan
di pinggir jalan. Ia laku memang, tetapi tidak semua
membelinya. Sebagian besar umat Islam telah mampu
berpikir kreatip dan imaginatip melewati batas dan
tembok sectarian dan partikularistis MUI . Bagi mereka
iman Islam yang teguh bukanlah tembok dan penghalang
untuk mengakui eksistensi umat lain yang berbeda.
Sementara MUI belum bisa membedakan antara ucapan
selamat hari raya dengan syahadat. Umat Islam telah
tahu bahwa ucapan selamat adalah ungkapan persaudaraan
yang tulus dan penghormatan serta selebrasi terhadap
kemanusiaan dan keanekaragaman. Umat Islam tentu saja
tahu bahwa itu bukanlah syahadat atau credo. Sementara
gaya lama MUI masih bersifat sektarian dan terikat
pada tembok keumatan, sebagaian besar umat Islam sudah
bisa menjangkau dan melihat bahwa manusia dalam
keunikannya masing-masing adalah ciptaan dan bahkan
anak-anak Allah SWT.
Dalam tulisan saya MENGERITISI dan MENTRANSENDEN FATWA
MUI, saya katakan bahwa mungkin sudah saatnya kita
membuat fatwa anti fatwa atau paling tidak fatwa yang
mengeritisi dan mentransenden fatwa MUI. Satu hari
setelah tulisan itu diposting, presiden Gus Dur
mengeluarkan ��fatwa�� anti fatwa atau fatwa yang
mengeritisi dan mentransenden fatwa MUI. Apa yang Gus
Dur lakukan adalah representasi terhadap suatu
kenyataan bahwa umat Islam Indonesia telah hidup dalam
pola baru yaitu bahwa umat telah mampu merefleksikan,
mengeritisi atau bahkan mentransenden segala fatwa
atau petuah dari siapapun termasuk dari MUI. Selain
itu sementara MUI baru mampu melihat halal dalam
konteks individual, Gus Dur telah mampu melihat halal
dalam konteks sosial. Proses ini harus dilihat sebagai
suatu ni'mat Allah karena melalui proses ini umat
Islam didewasakan. Proses pendewasaan umat seperti ini
pernah juga terjadi pada sejarah umat Nasrani yaitu
ketika dengan tegas salah seorang umat mempertahankan
gagasan bumi itu bulat bukan datar seperti yang
dipegang oleh para pemimpin Nasrani waktu itu. Gus Dur
mampu melihat perkembangan dan perubahan baru umat
Islam, MUI tidak! Tentu saja daya kritis dan
transformatif yang Gus Dur bangun juga harus
diterapkan umat bukan saja pada MUI tetapi juga pada
GUs Dur sendiri dan kepada pemimpin umat Islam
lainnya.
MUI harus dinilai, dikritisi dan ditransendeni bukan
saja melalui fatwa yang dikeluarkan tetapi juga
melalui FATWA yang TIDAK DIKELUARKAN. Ketika
kasus-kasus korupsi merasuk segala dimensi hidup
bangsa Indonesia yang memenderitakan rakyat, MUI
sedikitpun tidak tergugah untuk mengeluarkan fatwa
anti korupsi. Umat Islam bertanya dimanakah MUI?
Ketika Soeharto mempertuhankan dirinya melalui
kekuasaan absolut lalu menyalahgunakannya untuk
kepentingannya sendiri yang berakibat penderitaan
jutaan manusia Indonesia, MUI tidak mengeluarkan fatwa
anti absolutisme. Padahal jelas-jelas absolutisme
kekuasaan itu melawan Tauhid, ke-Satu-an Allah. Umat
Islam bertanya: dimanakah MUI? Ketika terjadi
pembakaran dan pembomam rumah ibadat kaum Nasrani, dan
ketika terdapat sikap anarkistik sebagian kecil umat
Islam dan bahkan pembunuhan umat lain atas nama Islam,
MUI tidak mengeluarkan fatwa apapun. Umat Islam
bertanya apa yang engkau lakukan MUI? Apakah diamnya
MUI berarti MUI setuju atau bersikap acuh-tak acuh?
Anda tentu bisa menilainya sendiri.
Kalau MUI ingin tetap menjadi MUI, ia harus
meninggalkan pola lama yang mensubordinasi manusia
hanya oleh karena alas an gender, menuju pola baru
yang mendukung kesetaraan semua manusia. Kalau MUI
tetap ingin jadi MUI, ia harus meninggalkan pola lama
yang sektarian menuju pola baru yang berdimensi
persaudaraan dan kemanusiaan. Kalau MUI ingin tetap
menjadi MUI, ia harus meninggalkan pola lama yang cuma
berdimensi individual menuju pola baru yang juga
memperhitungkan faktor sosial. Kalau MUI ingin tetap
menjadi MUI, ia harus meninggalkan pola lama yang
eksklusif menuju pola baru yang menciptakan
kesejahteraan dan kedamaian bagi seluruh rakyat yang
beranekaragam budaya dan agama. Singkatnya: kalau MUI
ingin tetap menjadi MUI, ia harus berani bersikap
rendah hati untuk dikritisi, ditransformasi dan
ditransendeni. Umat Islam tahu bahwa yang memiliki
kebenaran absolut itu cuma Allah SWT bukan siapapun,
bukan pula MUI.
Wassalam,
Miriam Abdulah
______________________________________________
FREE Personalized Email at Mail.com
Sign up at http://www.mail.com/?sr=signup
................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com