Ada sedikit orang yang enggan jika anda pelajari
keingginan kelompok pro ordebaru yang selanjutnya
saya sebutkan sebagai kaum konserpatif.

Jika anda pelajari perkembangan dunia mengarahkan
adanya budaya pemberlakuan atau didudukinya HAM
secara proporsional. Beberapa media mengupas tuntas
tentang hal Hukum dan HAM ini.

Rupanya ada banyak kelompok terutama kelompok
konserpatif yang dibekinggi militer (kita tahu militer
merupakan kelompok yang dulu paling banyak melakukan
pelangaran HAM). Tidak menyetujui diadakannya
peraturan baru tentang HAM, kelompok konserpatif
ini malah menilai pemberlakuan HAM merupakan
peraturan yang sudah menyimpang, cita-cita mereka.

Anehnya (jailnya) Gusdur malah menunjuk mentri HAM
dan perundang-undangan pada kelompok yang memang
sejak awal tidak menyukai diberlakukannya UU tersebut.

Nah kalau kita mau mulai, kita harus beranjak dari sistem
HUKUM ini. Karena dengan diberlakukan hukum yang tidak
ada masa surutnya siapapun dapat meminta hal ini untuk
dibongkar kemabali. Hal ini jelas akan lebih memojokan
para pendukung orba.

Maka tekanan kemudian ditujukan kepada pemerintahan
Gusdur yang makin berani menguat kesalahan-kesalah
ORBA terutama yang melibatkan Militer.

Tetapi bayak pihak yang pesimis peraturan ini hanya
jadi perdebatan atau diskursus dalam bimbar-mimbar
diskusi seperti beberapa tuntuitan yang lain yang keras
ditutntut rakyat rupanya hanya jadi makanan diskusi
sehari-hari.

Kemudian saya bertanya apakah negeri ini bisa selesai
jika hanya lewat diskusi apalagi sekarang pemerintahnya
pun juga rajin berdiskusi tanpa mau mengambil tidankan
yang kongkrit menurut pandangannya.

Tekanan-tekanan reformis dari kalangan reformis berhadapan
dengan tekanan yang sudah berbau phisik. Saya jadi bertanya
apakah pemerintah mampu untuk menuntaskan tekakan tersebut?
Atau malah mereka sadar sedang mengalami tekanan?

Sedangkan kaum pinggiran yang sebenarnya kritispun tak dapat
tempat. Ketika ada mementum mereka menjadi gagap.
Mencari figur mereka.

Negara ini memang tinggal menunggi waktunya. Jika HAM dan
Hukum tidak ditegakan. Dan hanya jadi wahana diskusi
semata. Kelompok anti kritik akan hidup dan akan meneror
dengan tindakan yang tidak bisa lagi diselesaikan hanya
lewat diskusi semata.

MYP.



----- Original Message -----
From: Tunggal Ika <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 19 Januari 2001 10:32
Subject: [Kuli Tinta] FWD: Gerombolan Pengebom


> mudah-mudahan nambah inpormasi dan diskusi.
> salam satu nusa, satu bangsa, satu bahasa, indonesia reformasi.
>
> ------Original Message------
> From: "Rofiqoh Khadayatun" <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: January 19, 2001 3:03:54 AM GMT
> Subject: Gerombolan Pengebom
>
>
>
>
> In a message dated 1/18/01 7:58:20 AM Mountain Standard Time, YOU write:
>
> > Memang rada njelimet ya analisa politiknya. Saya saja kalau di fraksi
> suka
> >  rada bingung. Banyak teman2 terutama yang tua selalu mengkaitkan
> dengan
> >  politik aliran. Yang mereka yakini selalu ujung2nya islam dan
> nasionalis.
> >  Saya enggak tahu kenapa mereka tidak terus ke nasakom, kalau memang
> itu
> dari
> >  Soekarnoismenya. Maklum di partai saya kan mayoritas gmni, pni atau
> >  soekarnoislah. Tapi kadang2 mereka juga sangat sentimentil sekali
> dengan
> >  partai lain terutama golkar. Jadi enggak mau tahu dengan para
> nasionalis
> >  yang di partai lain.
>
> Masyarakat kita itu salah satu masyarakat yang paling kompleks di dunia.
> Luar
> biasa dalamnya akar ikatan primordial: suku, agama, ras dan kedaerahan.
> Memang biasanya nggak muncul, tapi setiap saat yang genting ikatan atau
> paling tidak sentimen itu langsung muncul karena akarnya memang dalam
> sekali.
> Akar politiknya mulai menyebar sejak IP lahir tahun 1911, lalu disusul
> SI
> (1912), Muhammadiyah (1917), PKI (1920), NU (1926), PNI (1927), dst.
> Sudah
> hampir satu abad jadi akarnya sudah dalam sekali. Aktivis politik
> biasanya
> punya akar ke salah satu ikatan primordial atau ikatan politik itu.
> Malahan
> banyak yang punya akar macem-macem. Itu juga ciri aktivis politik dalam
> masyarakat kita.
>
> Yang menyolok, hampir semua ikatan politik atau primordial yang sudah
> hidup
> di kalangan rakyat puluhan tahun itu bisa hidup berdampingan dengan
> damai.
> Salah satu contoh yang sangat jelas itu Sumpah Pemuda. Nggak ada tradisi
>
> saling hantam. Yang dikedepankan itu kesamaan-kesamaan. Bahkan
> perlawanan
> terhadap kolonial juga dilakukan dengan cara-cara damai, cara-cara
> politik
> yang modern. Seperti bikin parpol, LSM (Muhammadiyah dan NU itu dua LSM
> paling tua dan paling besar di Indonesia, akarnya dalam sekali), jual
> kecap
> lewat koran, rapat umum, apel akbar, sumpah pemuda, pernyataan sikap,
> dsb.
> Hanya sekali PKI angkat senjata (Pemberontakan 1926), dan itupun karena
> sudah
> kepepet, bukan direncanakan mateng mengikuti suatu strategi.
>
> Politik kita menjadi mulai berdarah karena pengaruh luar. Salah satu
> titik
> balik adalah Peristiwa Madiun (1948) yang terjadinya sangat dipengaruhi
> konflik pada awal Perang Dingin. Itulah pertama kali TNI, PKI, Masyumi,
> PNI,
> saling bunuh-membunuh. Lalu konflik berdarah yang lebih besar terjadi
> lagi
> dalam Perang Saudara: pemberontakan PRRI/Permesta dan DI-TII pada akhir
> 50-an. Jumlah korban Perang Saudara ini masih dalam bilangan beberapa
> ribu
> orang baik yang di Sumbar, Sulut, Sulsel maupun di Jabar. Dan itu
> bener-bener
> perang karena kedua belah pihak punya senjata, punya pasukan.
>
> Politik kita baru betul-betul banjir darah dalam pembunuhan massal 1965.
>
> Ratusan ribu rakyat tidak berdosa dibunuh seperti hewan. Ini bisa
> terjadi
> karena aktor utama politik waktu itu  adalah Angkatan Darat. Bung Karno
> cuma
> simbol. Yang betul-betul pegang kekuasaan adalah Angkatan Darat. Mirip
> sekarang ini. Gus Dur itu presiden tapi hampir semua perintahnya --
> adili
> Geng Cendana, usut perkara ini-itu, tenangkan Aceh, Ambon, Irian, dsb --
>
> nggak jalan karena yang sebenernya berkuasa itu tetap Angkatan Darat.
>
> Dan kaum militer ini yang paling jago memainkan ikatan primordial dan
> politik
> aliran itu. Kalau cuma kelompok politisi sipil yang bermain, seperti
> dalam
> Debat Konstituante 1956-59, memang ada perdebatan keras sekali. Tapi
> mereka
> nggak saling bunuh. Mereka nggak saling curiga. Masing-masing punya
> sikap,
> pandangan politik, ideologi, dsb, yang dinyatakan terang-terangan.
> Debatnya
> bisa keras sekali, nggak jarang ada yang gebrak meja. Tapi setelah itu,
> makan
> siang sama-sama. Kalau sekarang jadi banyak yang ahli main bakar, main
> bunuh,
> main bom, fitnah, culik, perkosaan massal, menghilangkan orang, dsb, itu
>
> karena mereka belajar dari gaya politiknya militer.
>
> Militer mesti main begitu karena kalau dia ikut pemilu yang jujur, yah
> dapat
> suaranya paling-paling berapa persen? Dalam Pemilu-55, IPKI yaitu
> parpolnya
> Angkatan Darat pimpinan Nasution, itu pemilihnya cuma 1,4%. Sekarang,
> kalau
> tentara bikin parpol, jumlah pemilihnya nggak bakalan beda jauh. Karena
> itu
> untuk berkuasa mereka mesti pakai cara-cara "lain." Ngumpet di belakang
> Golkar, itu cara yang sangat efektif selama Orba. Kalau sudah nggak bisa
>
> lagi, karena topengnya sudah dibongkar oleh gerakan mahasiswa, ya mesti
> pakai
> cara lain lagi. Ngebom, misalnya.
>
>
> ______________________________________________
> FREE Personalized Email at Mail.com
> Sign up at http://www.mail.com/?sr=signup
>


----------------------------------------------------------------------------
----


> ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>


................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke