Pak steve? saya tidak yakin diindonesia bisa sama dengan pola hidup konsungtif dan ekonomis sentris seperti dibelahan bumi bagian barat. Hal-hal ini berhubungan erat dengan faktor budaya, sosial, dan teknologi. Negara maju satu step dalam bidang pengetahuan dan teknologi dan negara berkembang terbelakang. Ia harus bersaing bebas secara ekonomi dengan orang yang menguasai teknologi jelas kalah dan menurut saya tidak adil. Oleh sebab itu perbandingan sebuah negara bukan hal yang baik (selain membutakan) tanpa ditunjang dengan evolusi dari peradapan negara asal pembanding. Tentang kekuatan-kekuatan normatif. Dan selama ini baik pemimpin dan para ahli lebih senang berdebat tanpa mau menjelaskan dari kekayaan normatif yang dimiliki Indonesia dalam menghadapi gencarnya persaingan tersebut. Harus ada gerakan sosial dan kesadaran sosial itu dibina jika dirinya mengerti benar akan kemampuan yang dimiliki. Potensi-potensi inilah yang tidak pernah diterangkan. Sehingga saya akan berkata bahwa satu-satunya potensi yang laku dinegara ini adalah potensi konflik elit politik (walaupun saya tidak anti konflik) dan yang diuntungkan secara ekonomi baru Industri Pers. (Lihat kenaikan nilai bursa efek ketika TEMPO dilepas di lantai Bursa) Bagaimana dengan Industri lainnya? Potensi lainnya yang ditinjau asing dan diamini oleh mayoritas ahli ekonom kita tentang market pasar yang menggiurkan akibat potensi kelinci dari rakyat indonesia yang jumlahnya sudah mencapai 200 juta. Tidak pernah ada ahli atau elit yang membalik logika tersebut bagaimana potensi 200 juta ini untuk membangun dan membentenggi diri dari gempuran penjajahan asing (persaingan) dalam makna ekonomi. Bagaimana 200 juta hidup dengan bakat pengetahuan dan ilmu yang seterajat dengan bangsa-bangsa yang lebih maju dalam bidang Teknologi sehingga harga diri sebuah bangsa dan rakyatnya dapat dihargai (tinggi). Sedangkan pendukung obyektif dari hal tersebut dimiliki, dari mulai masalah kekayaan Alam, suhu udara semua dimiliki dan mendukung untuk itu. Kenapa ponensi ini tidak kita olah sendiri selain hanya mengharapkan dari orang asing. Kenapa potensi tidak kita kuasai sebelum sempat kita jual. Apakah benar-benar negara maju itu mau memberikan alih teknologi, selain-ilmu instan yang hanya dikembangkan dinegara-negara berkembang. Sehingga orang hanya tau mempergunakan tanpa tahu latar belakang teknologi itu dikembangkan. Hampir seluruh rekan saya yang gape pakai Internet dan komputer bisa menjalankannya tetapi ketika ada trouble sedikit sudah lepas tanggan (budaya instan). Budaya dari asing yang bagus hanya satu yaitu budaya pantang menyerah dan budaya bekerja. Lihat di Indonesia hampir seluruh kelas menegah kita masih dimanjakan oleh tenaga kerja RUMAH TANGGA, boro-boro mau bersihin rumah, mau cuci piring dan bajunya sediri saja males. Jangan duludeh samakan dengan orang ASING. Budaya pembagian tugas itu belum ada? Dan akibatnya saya juga tidak melihat keingginan Mahasiswa kita yang belajar ke negeri asing untuk menggunakan ilmunya untuk menerapkan di Indonesia. Tak ada lagi program yang dulu Sukarno Galakan terhadap para mahasiswa Indonesia di negeri asing baik mengirimnya ke blok TIMUR maupun BARAT. Dan sampai saat ini tersesat dan tidak bisa balik ke Indonesia hanya karena masalah Politik kekuasaan dan pembantaian serta HAM. Nah, dengan melihat itu saja anda akan melihat begitu jauh kita dengan negara Industri maju yang sudah membicarakan monopoli Industri IT, tunggu saja sampai TELEKOMUNIKASI dirauk oleh negara maju. Dan pemerintah tetap santai-santai dengan mengamini kinerja GLOBAL yang tidak berimbang tersebut. Sambil serta merta mencabut SUBSIDI dan mengglobalkan seluruh aset publik seperti PLN, TELEKOMUNIKASI dan PERHUBUNGAN dan Hapuskan saja Proteksi seperti keinginan negara maju yang tidak akan mau mengerti tentang masalah di negeri berkembang. BAGAIMANA DENGAN PEMUTIHAN UTANG LUAR NEGERI? MYP ----- (maaf terpaksa saya delete)----- ----- Original Message ----- From: s s <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: 18 Januari 2001 15:05 Subject: [indonesia_damai] Re: Arah Masa Depan Indonesia > > --- In [EMAIL PROTECTED], JOHAN YAMIN <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dear Pak Steve, > ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
