Wah, dulu mencak-mencak ketika dituduh biang kerok sama GD, sekarang dituduh
biang juga sama temennya sendiri, so?. Saya jadi teringat salah satu lirik
lagu "time will tell..."

***********

Biang Itu Bernama Fuad

Nomor: 48-2 - 30-01-2001
Majalah GAMMA

Nama Fuad Bawazier muncul sebagai salah satu pemicu mundurnya sejumlah
pengurus PAN. Apa sih yang terjadi?

"INI adalah pilihan yang berat," tutur Faisal H. Basri. Bola mata Faisal
sempat berkaca-kaca. Belasan pengurus teras Partai Amanat Nasional (PAN)
yang mengumumkan pengunduran diri di Galeri Cemara, Jakarta Pusat, Ahad 21
Januari lalu, ikut terharu. Ada Toeti Herati Nurhadi, pemilik galeri yang
juga salah satu pendiri PAN yang sudah mundur Mei 2000 lalu. Ada Arif
Arryman, Ketua Komisi Ekonomi, dan Bara Hasibuan, Wakil Sekretaris Jenderal.
Jumlah totalnya 16 orang, terdiri atas satu orang ketua, satu orang wakil
sekjen, satu orang pendiri, tiga orang ketua komisi dan departemen, dan
tujuh anggota pengurus departemen.

Dalam pernyataan tertulis yang dibaca Bara Hasibuan, mereka menyebut PAN
bukan lagi organisasi politik yang efektif untuk memperjuangkan cita-cita
menjalankan agenda reformasi. Antara lain, oleh lemahnya budaya demokrasi di
PAN, tidak berfungsinya institusi kepartaian, kebijakan politik partai
sering berlawanan dengan platform perjuangan, serta tidak dihormatinya
norma-norma dan aturan kepartaian. Sumber dari berbagai krisis itu, di mata
mereka, adalah kecenderungan Ketua Umum PAN Amien Rais mengecilkan agenda
politik bangsa hanya pada perebutan kepemimpinan nasional.

Penjelasan itu tampak tak cukup memuaskan. Tidak ada kasus spesifik yang
mereka sebut. "Kami merasa terluka untuk menyampaikan berbagai hal yang Anda
tanyakan tentang alasan pengunduran diri kami. Kami tidak mau menambah luka
itu dengan menceritakan kepada Anda segala detail kebobrokan itu," ujar
Faisal memberi alasan.

Beberapa hari menjelang pengumuman, Albert Hasibuan, salah satu ketua DPP
yang ikut mengundurkan diri, kepada sebuah media menyebut faktor Fuad
Bawazier sebagai salah satu biang kerok kekecewaan mereka. Fuad Bawazier,
menurut Albert Hasibuan, adalah orang Orde Baru (Orba) yang harusnya ditolak
kehadirannya sebagai anggota PAN. "Platform partai sejak awal tegas menolak
orang seperti dia," tutur Albert kepada Rachmat Baihaki dari GAMMA. "Dia
orang Orba. Kehadirannya bisa membuat PAN terkontaminasi," tambah Bara
kepada Rizki Yanuardi dari GAMMA.

Sumber GAMMA menyebut protes kubu Faisal terhadap kehadiran Fuad Bawazier
sebenarnya sudah muncul sejak partai berlambang matahari bersinar terang
benderang ini didirikan. "Waktu itu, di Sirnagalih, Faisal dan kawan-kawan
sudah menyoal kehadiran Fuad yang terus dibawa-bawa Pak Amien. Malah, waktu
itu, skenarionya sebenarnya lebih besar, yaitu memerger PAN dengan PPP.
Selain Fuad, hadir juga Aisyah Amini," tutur sumber ini. Saat itu, kubu
Faisal mengalah. "Waktu itu, Ibu Toety Heraty yang mendorong kami untuk
memahami kondisi. Kami sendiri berusaha terbuka, dan bisa bekerja dengan
siapa saja," tutur Faisal Basri.

Fuad Bawazier, yang sejak awal mereka persoalkan, ternyata justru lolos ke
Senayan sebagai anggota MPR utusan golongan dari Yogya. Kehadiran Fuad di
MPR praktis mewarnai tidak hanya kiprah Fraksi Reformasi, sebutan Fraksi PAN
di DPR/MPR, tapi juga berhasil membangun Poros Tengah, aliansi PAN dengan
partai-partai Islam di MPR. Selama sidang umum berlangsung, Fuad praktis
menjadi tangan kanan Amien Rais yang efektif. Sebagai mantan aktivis Pelajar
Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Fuad dinilai
berhasil bermain lintas partai.

Gerilya memasukkan Fuad di jajaran elite PAN kembali berlangsung agresif di
forum Kongres I PAN yang berlangsung di Yogya, pertengahan tahun lalu.
"Lobi-lobi itu berlangsung intensif. Saya sendiri didekati orang dekat Fuad
untuk berusaha keras mendukung dia di jajaran kepengurusan. Tapi, saya
tolak," tutur sumber lain GAMMA yang memimpin sebuah kepengurusan PAN
daerah. Janji-janji manis dan politik uang, ketika itu, konon bersebaran di
pojok-pojok Hotel Santika, tempat berlangsungnya Kongres PAN. Forum Kongres
Yogya menegaskan kuatnya kubu Faisal. Selain Fuad tetap ditolak masuk
jajaran DPP, usulan kubu A.M. Fatwa untuk memasukkan istilah iman dan takwa
dalam struktur ideologi partai juga berhasil digagalkan.

Toh, akses Fuad Bawazier tetap tak terbendung. Sumber GAMMA di sekretariat
PAN menyebut Fuad berperan penting dalam pembangunan gedung kantor PAN di
daerah Tebet. "Dari total anggaran pembangunan yang Rp 10 milyar, Fuad
sedikitnya menanggung Rp 4,25 milyar. Semua dana itu tidak jelas dari mana
asalnya. DPP tidak pernah jelas dan transparan, termasuk status bangunan
itu," tutur sumber ini.

Demikianlah, faktor kehadiran Fuad, di mata Faisal Basri dan kawan-kawan,
bahkan juga menimbulkan dualisme. "Di satu sisi ada institusi partai, tapi
di sisi lain ada institusi Amien Rais," ujar seorang sumber GAMMA yang dekat
dengan Faisal. Fuad Bawazier, meskipun tidak terdaftar secara resmi dalam
institusi partai, justru memiliki pengaruh cukup besar lewat institusi Amien
Rais sebagai pribadi. "Dalam berbagai keputusan penting dan strategis,
institusi partai ini justru banyak ditinggalkan oleh institusi Amien Rais
secara pribadi," sambungnya.

Kampanye soal federalisme yang didukung kuat oleh kubu Faisal, belakangan,
menghilang begitu saja. Menurut penuturan sumber lain GAMMA, dalam kasus
ini, faktor kepentingan pribadi Amien dinilai berperan besar. "Saya
mendengar Amien menghentikan kampanye soal federalisme itu setelah didatangi
sejumlah jenderal. Saya tidak tahu persis ada deal apa," tutur sumber
tersebut.

Fuad Bawazier, yang dituding menjadi biang kerok, menyerang balik.
"Sebenarnya, dengan pengunduran diri mereka, PAN seperti kehilangan kotoran.
Saya tahu betul banyak orang-orang di dalam yang sudah tidak tahan dengan
para trouble makers itu. Mereka bicara banyak, tapi tidak mempunyai
kontribusi apa-apa. Justru menusuk terus dari belakang," tutur Fuad.
Terhadap tudingan dirinya sebagai orang Orba, Fuad hanya tertawa. "Apa
Albert Hasibuan itu bukan orang Orba?" tandasnya. Fuad mengakui kedekatan
dirinya dengan Amien Rais. "Kedekatan saya bahkan sebelum mereka semua kenal
Mas Amien. Selain sama-sama aktivis Muhammadiyah, kita juga sama-sama alumni
UGM," tutur Fuad.

Soal dana pembangunan gedung kantor baru PAN, Fuad juga membantah.
"Pembangunan kantor itu hasil patungan sejumlah kawan, yang kemudian
dikontrak-pinjamkan ke PAN. Jadi bukan diberikan. Tidak ada urusan saya
menyumbangkan uang. Yang benar, ini kontrak murah." Soal dana yang Rp 4,24
milyar? "Itu juga enggak betul. Saya lebih tahu persis daripada orang lain.
Lagi pula, PAN dapat kontrak murah secara akal sehat, kan, mestinya
disyukuri," sambung Fuad.

Dengan menyoal kehadiran Fuad Bawazier di sekitar Amien Rais, muncul
tudingan Faisal Basri sedang mengusung sentimen anti-Islam di wilayah
politik. Bisik-bisik di dalam PAN banyak yang menilai Faisal Basri lebih
condong berhaluan sosialis ketimbang Islam. "Saya tahu persis. Faisal orang
yang saleh secara pribadi. Tapi, dalam politik, dia kurang bisa membawakan
diri," tutur seorang sumber GAMMA yang dekat dengan Amien Rais. Tudingan
yang sama sempat muncul juga dari A.M. Fatwa, salah seorang Ketua DPP PAN
yang dianggap paling mewakili kubu Islam di tubuh PAN.

Faisal menolak tudingan itu. "Dengan segala keterbatasan saya tentang agama,
saya ingin bertanya --kecuali kepada Partai Keadilan (PK), saya sangat
hormat kepada mereka-- apa sih yang telah PAN perjuangkan untuk Islam? Bagi
saya, Islam justru telah dijadikan komoditas murahan. Islam dijadikan alat
yang semata-mata untuk digunakan untuk memilih tokoh-tokoh yang kebetulan
Islam. Walaupun tingkah lakunya bisa tidak islami, malah bisa betul-betul
sekuler," tegas Faisal. Tanpa menyebut nama, Faisal juga menyebut ada
kecenderungan sentimen agama itu sekarang ini justru dimainkan oleh
orang-orang tertentu untuk kepentingan politik pribadi. "Kepentingan itu
bisa berupa proteksi atau perlindungan," ujarnya. Fuad Bawazierkah? Faisal
enggan menyebut. "Saya tidak mau menambah musuh," katanya.

Fuad Bawazier menilai mundurnya Faisal dan kawan-kawan tidak akan
berpengaruh banyak pada perolehan suara PAN. "Mereka, kan, orang-orang yang
tidak punya massa. Malah tidak pernah bersentuhan dan konstituen. Saya
dengar beberapa orang dari mereka, ketika ditugasi membangun konstituten di
daerahnya, malah tidak melakukan apa-apa," tutur Fuad Bawazier.

Banyak yang bersuara senada dengan Fuad. Tapi, ada juga yang berpikir lain,
seperti Abdillah Taha, salah seorang Ketua DPP PAN, yang sempat diisukan
juga mau mundur. "Mustahil kemunduran mereka tidak berpengaruh ke partai.
Massa PAN adalah massa rasional. Mereka pasti akan terpengaruh dengan kasus
ini," tutur Abdillah.

Lagi pula, pengotakan suara pemilih berdasarkan agama, untuk kasus PAN,
terbukti gagal. "Kalau partai Islam dianggap paling banyak punya massa,
tentu mereka sudah menang 80 persen. Juga kalau benar ada massa 25 juta dari
Muhammadiyah, perolehan PAN tidak hanya 7 juta," tandas Faisal.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++


................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia...............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com 















Kirim email ke