Beberapa hari lalu, saya menulis ttg pernyataan KH Zainuddin MZ yg dimuat Jawa Pos sangat bertolak belakang dng apa yg dinyatakan di acara berita Liputan 6 SCTV 18 Januari 2001. JP memuat berita tsb dng judul: "Zainuddin Desak Presiden Mundur." Yg isinya melulu berisi pernyataan Zainuddin spy Gus Dur mundur sbg presiden. Tetapi, siangnya di SCTV, pernyataan sangat lain. Di SCTV, Zainuddin pd intinya mengatakan bahwa GD sebaiknya dibiarkan memimpin terus sd tahun 2004. Karena kalau dipaksa mundur sekarang, cost yg ditanggung bangsa akan terlalu besar. Waktu itu saya tanyakan, kok satu org bisa beda bicaranya ttg satu hal yg sama? Ternyata, menurut Zainuddin lewat suratnya di Jawa Pos (24 Januari 2001), apa yg ditulis JP tidak sesuai dng apa yg diucapkan (selengkapnya baca suratnya yg saya sertakan di bawah ini). Setelah kita membaca klarifikasi dari Zainuddin ini, dan apabila memang itu yg terjadi. Maka, bisa disimpulkan bahwa dlm kasus ini telah terjadi lagi pemelintiran berita (baca: ucapan seorg tokoh) o/ wartawan Jawa Pos. JP sengaja menurunkan berita menurut seleranya dng memangkas bagian2 tertentu dari ucapan seorang tokoh sehingga menimbulkan arti yg jauh berbeda. Dng ini rasanya JP telah menempatkan dirinya sbg koran partisan yg seirama dng kehendak politik kelompok yg menghendaki GD segera turun dari jabatannya. Yg kebetulan seirama dng sura Poros Tengah. Klarifikasi Dr KH Zainuddin MZ Salam sejahtera saya sampaikan kepada rekan-rekan wartawan Jawa Pos. Selanjutnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas pembeirtaan peresmian Yayasan Indonesia Bersatu (YIB) yang dimuat Jawa Pos pada Kamis, 18 Januari 2001 dengan judul "Zainuddin Desak Presiden Mundur" (Halaman 2). Namun demikian izinkan saya meluruskan masalah berikut: Pertama, dalam tulisan itu Jawa Pos menulis: "Ulama NU DKI Jakarta ini menilai Presiden Wahid gagal membawa menuju cita-cita reformasi. Karena itu, Zainuddin mendesak presiden mengundurkan diri " (alinea 3). Kedua, "Saya sarankan agar DPR menyelenggarakan Sidang Istimewa dan Gus Dur segera mengundurkan diri. Pasalnya, sekarang kondisi negara sudah tidak menentu." (alinea 5). Saya kira ada yang kurang lengkap dalam kutipan itu. Logika pernyataan saya tak dikemukakan secara utuh, sehingga terkesan anjuran saya agar Presiden Abdurrahman Wahid "mengundurkan diri" adalah sesuatu yang mutlak dan tak bisa ditawar-tawar lagi. Padahal, bukan begitu alur pikiran dalam pidato yang saya sampaikan dalam peresmian YIB, Rabu 17 Januari 2001. Seingat saya, saya pun berkata bahwa akan lebih baik bila Presiden Abdurrahman Wahid dapat memperbaiki kinerjanya, agar dapat meneruskan masa kepresidenannya hingga tahun 2004. Sebab, terlalu besar cost yang harus dibayar bila ia mengundurkan diri di tengah jalan. Tapi, kalau ternyata Gus Dur tak mampu memperbaiki kinerjanya, biarlah wakil-wakil rakyat di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) yang mengambil keputusan, termasuk misalnya menyelenggarakan Sidang Istimewa. Bagi saya, juga bagi rekan-rekan di YIB, yang utama bukan soal Gus Dur mundur atau tidak, melainkan terjadinya perbaikan situasi negara dalam segala aspeknya, terutama di bidang ekonomi dan politik. Kami juga menekankan pentingnya kepatuhan pada ketentuan konstitusional dan mekanisme demokrasi yang telah kita sepakati bersama. Bagi saya pribadi, tidak ada niat untuk mendesak Gus Dur mundur, apalagi menjatuhkan beliau. Niat saya memasuki dunia politik dan mendirikan YIB, hanyalah agar saya dapat memberikan sumbangan positif bagi kebaikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Andaikan negara telah pulih, saya pun akan kembali ke habitat saya sebagai dai. DR KH ZAINUDDIN MZ, ketua umum Yayasan Indonesia Bersatu ................Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia............... Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com
