Saya sangat concern dengan usaha penegakan hukum untuk menyelamatkan dan
mengukuhkan dwi tunggal ini, yaitu dengan menuntaskan secara hukum para
pelaku kejahatan politik dan ekonomi utamanya terhadap klan Orba dan
antek-anteknya. Tindakan ini akan merangkul massa yang konsisten dengan ide
reformasi pada awalnya. Bonusnya, massa yang sebelumnya sempat berpaling
(karena ragu-ragu) juga akan kembali dengan dukungannya (potensi massa yang
seperti ini sangat besar karena berada di lapisan akar rumput yang rawan
ditarik kesana kemari oleh kepentingan golongan).
Kalaupun GD harus maju ke SI, maka dibelakang GD adalah gerakan massa yang
besar yang akan mengalahkan ambisi golongan.
Ngomong-ngomong, upaya penegakan hukum ini kira-kira sudah masuk agenda GD
apa belum ya ???
-tmp-
-----Original Message-----
From: Tunggal Ika [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: 05 Februari 2001 19:54
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Kuli Tinta] FWD: Membaca Skenario Tersembunyi
semoga ini menambah informasi
salam, merdeka dan reformasi.
mari kita bersihkan BAHAYA LATEN ORBA DAN ANTEK-ANTEKNYA
========================================
MEMBACA SKENARIO DAN ANTISIPASINYA
Berikut ini saya sampaikan beberapa catatan tentang Indonesian politics
yang bisa berguna bagi agen perubahan di Indonesia. Tulisan ini merupakan
rangkungan pandangan global atas apa yang terjadi di Indonesia. Semoga
bisa membantu.
GUSDUR DAN KEPENTINGAN AS
Benarkah Gusdur dan kebijakan luar negerinya menggerogoti kepentingan AS
dan Barat di Asia?.Satu fokus: Selama ini, Gusdur lebih cenderung
memfokuskan pada kemandirian:
a. Dalam bidang pertahanan: pemberdayaan Angkatan Laut
mengingat teritori Indonesia sebagian besar adalah laut. Langkah nyatayang
telah ditempuh: kerjasama dengan India. Bagaimana reaksi AS? Beberapa
waktu setelah ada kerja sama itu, AL AS membuat manuver di Asia yang
mengawasi AL dari India, Cina dan Indonesia. Mengapa AS kok tampak kurang
senang? Sebab pengaruhnya terhadap ASEAN dalam hal pertahanan semakin
dipinggirkan. Lihat juga manuver Malaysia dan Thailand yang mengadakan
latihan perang bersama tanpa melibatkan AS. Lunturnya pengaruh pertahanan
di Asia akan berarti terancamnya kepentingan AS di Asia.
b. Dalam kebijakan ekonomi: Gusdur tampaknya tidak terlalu peduli dengan
bantuan dari IMF dan Bank Dunia, tetapi lebih memfokuskan pada kekuatan
ekspor kita. Ini dikatakan untuk mengurangi ketergantungan. Para lawan
politik mengecam kebijakan ini sebagai tidak ada prioritas. Mereka yang
menantikan kucuran dana segar berharap bisa menghidupkan lagi
bisnisnya. Ingat pula: para bisnisman yang tergantung dengan IMF dan Bank
Dunia pada umumnya adalah kroni Cendana. Dengan kebijakan kemandirian
ekonomi Gusdur berarti kepentingan bisnis mereka juga terancam.
c. Masih dalam kebijakan ekonomi terutama yang berkaitan dengan perusahaan
asing yang pernah bermasalah, tampaknya Gusdur akan tetap memakai jalur
hukum, kecuali itu akan benar-benar mengurangi visi kemandirian
nasional. Oleh karena itu, perusahaan asing seperti Freeport, Newmont
dsb. akan merasa terancam. Kepentingan mereka untuk mengeruk untung
sebesar-besarnya di Indonesia akan dihadang oleh kebijakan kemandirian
Gusdur. Pada umumnya perusahaan besar yang bekerja sama dg kroni Soeharto
adalah perusahaan besar AS dan Barat. Kalau terus menerus ekspor yang
dipacu maka kepentingan perusahaan asing di Indonesia bisa terancam.
d. Kebijakan hukum pemerintahan Gusdur tampaknya akan semakin tegas. Ini
membuat ketakutan para kroni Soeharto plus anteknya dari luar negeri. Ini
membuat takut para politikus yang tersangkut. Kasus Soeharto yang belum
berhasil dibuka nanti akan dibuka secara blak-blakan untuk mengikis habis
lawan-lawan kekuatan reformasi.
c. Menurut Daniel Lev., pemerintahan baru AS sekarang lebih cenderung
mengambil langkah pragmatis: demi menjaga kepentingan AS, Indonesia harus
dibuat stabil. Nah, kekuatan yang bisa membuat stabil itu adalah TNI plus
partai pemenang pemilu yakni PDIP.
d. Oleh karena itu, beberapa skenario tersembunyi yang sedang bergerak
adalah sbb:
(1) Skenario Filipina: Mega naik menggantikan Gusdur dengan dukungan
tentara. Ini memang skenario yang tampaknya aman. Tetapi juga belum tentu,
sebab massa NU adalah massa mayoritas. Bila hal ini terjadi, kemungkinan
besar PDIP akan kehilangan massanya yang terbesar. Sebab, bagaimanapun
juga PDIP didukung oleh basis massa NU nasionalis. Dalam jangka panjang,
PDIP akan menjadi partai kecil. Disinyalir juga, bila skenario ini terjadi
akan terjadi pertumpahan darah yang sangat besar. Kemungkinan besar, luka
ini akan sangat sulit disembuhkan. Indonesia akan betul-betul menjadi
negara paria karena perang yang tak berkesudahan.
(2) Skenario Dwi Tunggal: Gusdur dan Mega tetap sebagai Presiden dan Wakil
Presiden. Skenario ini semakin membuat kuat posisi keduanya. Makin erat
bersatu dan bekerja sama, makin cerahlah masa depan Indonesia. Tetapi bagi
kepentingan AS itu juga sangat berbahaya. Stabilitas Indonesia yang
dicapai oleh dua kekuatan ini akan semakin mengancam kepentingan AS di
Asean. Ingat: ketika krisis ekonomi muncul di Asia, ASEAN sudah pada taraf
perkembangan yang mengancam kepentingan AS dan Barat. Manuver para
spekulan uang dari AS dipakai untuk membentengi kepentingan ekonomi dan
politik AS. Waktu itu, itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan
AS. Maka, kalau toh skenario dwi tunggal ini yang terjadi, maka yang akan
menjadi konsekuensi adalah upaya-upaya melemahkan dan memisahkan
keduanya. AS akan dengan mudah menggunakan kelompok seperti PAN, PBB,
Golkar sebagai kaki tangannya untuk menggerogoti dwi tunggal. Memang
tujuannya tidak untuk mendongkel, tapi hanya untuk membuat sibuk dengan
masalah-masalah dalam negeri. Yang sangat ditakutkan kalau keduanya
bersatu adalah politik luar negerinya. Oleh karena itu, di dalam negeri
perlu dibuat banyak masalah.
(3) Skenario Pemilu: Melihat krisis yang terus berkepanjangan, para lawan
Gusdur akan menuntut diadakan pemilu secepatnya. Langkah ini akan didukung
oleh kroni Cendana yang saat ini masih berpengaruh luas. Mengapa pemilu
secepatnya menguntungkan mereka? Sebab, mereka masih punya banyak
pengaruh; mereka belum banyak ditangkap dan diadili; mereka masih mempunya
kaki tangan di berbagai level atas birokrasi dan TNI. Kalau pemilu tidak
secepatnya, mereka takut langkah serius pemerintah membawa koruptor ke
pengadilan akan menyusutkan pengaruh mereka. Dan kemungkinan besar mereka
akan kesulitan mendapatkan dukungan banyak orang karena tersangkut di
pengadilan.
(4) Skenario Tentara kembali: Meskipun skenario keempat ini kecil
kemungkinannya, tetapi perlu juga diperhitungkan. Kepentingan TNI
jelas: menjaga bisnisnya yang sudah merajalela di mana-mana; menjaga agar
para jendralnya tidak dibawa kepengadilan internasional dalam kasus
Timtim. Apapun resikonya, maka skenario tentara kembali berkuasa masihlah
mungkin terjadi. Di samping itu, kita perlu ingat cara bertindak tentara
yang sering disebut oleh jendral dan prajuritnya: PUKUL DULU URUSAN
BELAKANG. Dg kata lain, TNI itu sering tidak memikir konsekuensi
jauh. Yang penting kepentingan mereka terlindungi, apapun resikonya. Kalau
ini yang terjadi memang pupuslah harapan reformasi!
APA YANG BISA DIANTISIPASI?
*Dalam situasi kritikal sekarang ini langkah yang paling tepat sebenarnya
adalah BERSATUNYA DWI TUNGGAL GUSDUR DAN MEGA. Kalau ini bisa dicapai,
maka masalah lain dapat dikatakan setengah teratasi. Kendalanya: Mega dan
PDIP sendiri merasa dikhianati oleh Gusdur, terutama dengan pencopotan
kedua menterinya yang dulu. Selain itu, PDIP merasa masih harus
memperjuangkan Mega sbg Presiden. Lawan-lawan Gusdur dan kroni Cendana
tahu persis kelemahan itu. Maka upaya-upaya mereka adalah merongrong
Gusdur dan memprovokasi PDIP dan Mega untuk menjaga jarak terhadap Gusdur.
*Perlu adanya gerakan rakyat: Kalau Gusdur masih didukung massa rakyat,
perlu dibuat gebrakan satu gerakan rakyat secara serentak untuk
menunjukkan kepada elit politik apa sebenarnya yang sedang jadi perasaan
rakyat. Rakyat di sini yang dimaksud adalah para pendukung reformasi. Bila
tidak ada gerakan rakyat yang serentak di seluruh Indonesia, para elit
yang bisa mempolitisir massa akan tetap merasa mewakili rakyat banyak. Ini
yang berbahaya: rakyat dimanipulasi oleh kepentingan oposisi. Rakyat yang
diam harusnya tidak perlu lagi diam tetapi bergerak serentak. Tak perlu
berhari-hari. Cukup satu hari tapi serentak di seluruh Indonesia.
*Dalam bidang informasi: Perlu adanya satu sumber informasi yang dapat
dipercaya. Pers sekarang ini sudah tidak lagi membawakan suara fakta dan
kebenaran, tetapi persepsi kepentingan kelompok. Sarana paling murah dan
terjangkau adalah penerbitan pamflet-pamflet sederhana, tetapi isinya
sungguh berarti dan menggerakkan kesadaran rakyat.
______________________________________________
______________________________________________
FREE Personalized Email at Mail.com
Sign up at http://www.mail.com/?sr=signup
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--