Dalang=diindikasikan menilep sajen
Pemilih=rata2 salah memilih dalang
Lakon=Nusantara reformasi
Penonton=memilih yg terbaik/menonton yg banyak hiburannya.
Bintang tamu=payah

Usul :
Kalau dilihat & dicermati lebih detail, emang yg paling bagus
untuk diganti duluan = dalang = terindikasi tidak jujur,
lalu para bintang tamunya diganti juga karena = payah/tdk
kredibel.

Atau milist lain ada yg punya usul atau bung FK sendiri?.

Salam,
------

From: "Agus Satrio" <[EMAIL PROTECTED]>
Anda ini sedang memuja Islam atau melecehkan Islam ? Ini khan
bahasa halus dari Islam itu menindas
perempuan. Weleh ngapain ngurusi mitos yang dicoba
ditutup-tutupi pake logika. Buang waktu saja.
----------------------
KDP:
Ah sayang Bung Nopi memenggal tinjauan budaya Arab
dari posting saya, sehingga Mas Agus jadi nulis begitu,
deh..:-)) memasukkan wilayah mitos. Dan memenggal
posting Bung Nopi yang ini:

"Pertanyaan seperti apakah perempuan tidak bisa jadi
presiden?,..jawabannya
ya tentu saja bisa atau juga tidak, tergantung situasi dan
kondisi yg ada
dinegara ybs...tinggal kita mau dibawa kemana negara ini.
Saya percaya orang2 dekat MW yg ingin menaikkan MW sebagai R1
punya niat
dan keinginan tersendiri (tidak mungkin tidak)."
---------------------------------
FK wrote :
ANALOGY WAYANG
Marilah kita tempatkan diri masing-masing di luar saja.
Nonton sebentar. Yang ibaratnya sekarang sedang
berlangsung pagelaran wayang dengan Ki Dalang GusDur,
dengan lakon Nusantara Rineformasi. Yang diketahui benar
sebelumnya, bahwa untuk menjadi Dalang sangatlah tak
layak, bagaimana beliau bisa memilih wayang tanpa bisikan,
bahkan menghadapkan wayangnya dengan benar? Namun
Penanggap (kala itu) ngotot dan berhasil diiringi dengan
shalawat badar dan bertangis-tangisan tanda syukur!
Yang amat disayangkan adalah terpaksa Ki Dalang
banyak menghadirkan BINTANG TAMU. Bisa dagelan, bisa
juga penyanyi atau vokalis. Sekarang sedang babak
LIMBUKAN, setelah adegan jejeran yang memberi harapan
dan penuh ketulusan.

Sangat disayangkan pada Limbukan ini Bintang Tamunya
ada yang kelewatan, malah menyuruh Dalangnya diganti
saja, karena ada indikasi Dalang nyikat Sajen...hehe.
Lho... lha kok yang nanggap sehingga memilih Dalang Gusdur
dengan lakon Rineformasi pun, ikutan ngomong, "Bahwa Ki
Dalang pantas Mundur untuk diganti (entah siapa) yang pasti
sebaiknya mundur dulu". Si Penanggap ini siapa? ternyata
termasuk pimpinan BINTANG TAMU JUGA. Bintang tamunya
siapa, lho ternyata juga bolonya Penanggap. Hehehe repotkan.
Akal sehat macam manapun akan menunjukkan bahwa
Dalang sendirian diantara Bintang Tamu dan Penanggap!

Lha niyaga yang disusun oleh Ki Dalang jadi kapiran. Nggak
dianggap kerjanya, lha adegan Limbukannya kelamaan kok,
mana sempat nabuh gamelan. Maka ada yang nyambi jadi
wiraswara, menyarankan pada Dalang untuk Lengser saja.
Sementara orang yang entah niyaga entah bintang tamu
tapi kurang populer, mencoba mempertahankan Dalang,
terpaksa ndak mau ambil resiko. Ninggal acara Limbukan
duluan, meski harus diiringi cibiran dan makian.

Dan bagaimana penonton? Hehehee... penonton wayang
jaman sekarang kan tak perlu lagi SUBSTANSI WAYANG,
yang penting HIBURAN. Melepas lelah. Membuang Stress.
Apalagi ada yang tahu bahwa dulu Penanggap Dalang punya
tujuan tertentu memilih Ki Dalang Gusdur ini hanya menjadi
Dalang Pucukan (ini jenis dalang yang memiliki bakat untuk
jadi dalang terkenal, tetapi perlu belajar sehingga sering
muncul di adegan awal dari Dalang Sepuh). Yaa wajar
kan kalau sekarang terbelah dua? Yaaa siapa yang sedang
dapat tepuk-tangan lah yang menang.... kan gitu.

Jadi soal "niat tersendiri" dari para yang dekat MW itu
juga berlaku pada siapa dulu yang memilih Ki Dalang
Gus Dur. Hanya bila dianalogikan dengan adegan
wayang, setelah Limbukan masih ada adegan
PERANG GAGAL (perang memperebutkan jalan
dalam menuju suatu kerajaan yang akan sama-sama
diserang....) yang disambut dengan GORO-GORO,
sebelum lambang tengah hari menancap di tengah
pagelaran (Gunungan Tegak) yang diakhiri oleh
munculnya Sang Paripurna. Masih rela bertahankah
Penonton melampaui Perang Gagal dan Goro-goro?

Sayang, bahwa Penanggap, Ki Dalang dan terutama
Bintang-2 Tamu itu rupanya lupa bahwa beliau-beliau
itu dapat naik panggung pagelaran Nusantara Rineformasi
itu adalah atas jasa "tepuk tangan, sorakan, pujian
dan bahkan makian" para penonton.

Nuwun, mudah-mudahan ini tak dianggap mitos...

    Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane wayang ambek
manusia?

(cat: versi jawa dari analogi wayang itu sedang
saya postingkan bertahap di milist [EMAIL PROTECTED]
dan [EMAIL PROTECTED])



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke