Bukankah MW sudah menginstruksikan angotanya untuk tidak ikut menandatangani percepatan SI? Keputusan ini bagaimanapun juga sudah mengubah nilai permainan. Tetapi, tadi Doktor2 yang punya nama, tadi meminta GD mundur, padahal selama ini mereka pada posisi yang berbeda. Misal, Mulyani dengan Umar Joworo, Riswanda dengan Fortuna Anwar. Gejala apa ini om? Apakah termotivasi oleh merasa bersama karena menghadapi musuh yang sama? Kalau begitu musuhnya siapa? Usul Syahril sih MW hanya mempunyai dua tugas yaitu mempercepat Pemilu dan pemilihan Presiden secara langsung. Atas nama demokrasi itu kan pendapat kelompok ya Om? �� ----- Original Message ----- From: mBin <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, February 09, 2001 3:24 PM Subject: [Kuli Tinta] semestinya mega bisa menjadi penengah semestinya mega bisa menjadi penengah, dengan memeiliki jumlah suara terbanyak di dpr, semestinya mega lewat pdip bisa menjadi penengah, dalam pertentangan antara golkar+islam melawan pkb... keduanya tidak akan efektif tanpa keikutsertaan pdip di dpr.. di tengah permusuhan gd melawan ar dan at, mega sepantasnya menempatkan posisinya yang menaungi mereka semua, tanpa ikut minta gd mundur, tetapi terus menekan dengan konsekuensi-konsekuensinya.. dengan dua kaki tersebut, mega tidak berseberangan dengan nu+pkb (sekutu ideologis) juga tidak melawan golkar-islamis, posisi mega akan tetap aman, selama dia tidak menjadi nomor-1 (sasaran pertama para pendemo), mungkinkah ? mBin ----- ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
