Mas TI, ngawur ae sampeyan... Masak Cak Gigih dibilang dari Ngayogyakarta Hadiningrat, yak opo se? Sultan Yogya yang diminta oleh DPW PPP untuk bersikap mengenai GD saja hanya mendel saja. Tuh.. di depan Monumen 1 maret masih tegak tuntutan Amartya. Sampeyan itu yang kayaknya asal jawa timuran koq ngomongnya direct gitu... itu kan terlalu telanjang to Mas.. Mbok ya agak dibungkus sedikit gitu lho. Masak langsung menunjuk hidung bahwa ada kelompok yang tidak ingin kalau masa lalunya dibongkar. Kalau begitu lalu apakah mereka yang meminta GD mundur, misal Ahmad Tirtosudiro, Muladi, Adi Sasono, BEM yang mengatasnamakan se Jawa Sumatra (yang lain kenapa enggak? apa mereka representasi dari BEM se Indonesia?), 40 Ulama Jabar, dan berbagai organisasi dengan identitas Islam termasuk pendukung masa lalu? Logikanya kan begitu mas TI, ah...yang bener saja ... Apakah bener kalau umat Islam diadu domba? kalau bener lalu siapa yang mengadu domba dan kenapa berhasil diadu bak domba? ----- Original Message ----- From: Tunggal Ika <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Monday, February 12, 2001 12:59 PM Subject: RE: [Kuli Tinta] DPR, persis Ibu Cerewet di Rumah mas nusantara, aku seneng lho ama gaya tulisannya situ. sampeyan wong Ngayogyakarta Hadiningrat ya? tak kiro yang sampeyan ungkapkan memang bikin ngilu untu. udah capek-capek pemilu '99 buat milih "representatives of the populi dei" kok hasilnya para wakil di dpr/mpr kayak gitu ya? tak kira agenda sejati bukan kok gus dur salah atau ndak, tapi tujuannya GUS DUR HARUS TURUN, SUPAYA RENCANA MBONGKARI BUSUKNYA ORBA DAN ANTEK-ANTEKNYA ITU BISA, MINIMAL, DIBATASI ATAU SOKUR-SOKUR DIHAPUS, DITUTUP. GITU yah bahwa meski GD kesrimpet duit (kalau ini terbukti lho) juga agak ngrepotin. masalahnya agenda lain ini tak dipahami kebanyakan mahasiswa juga, ini kan miris ati ini. atau barangkali inilah hasil 'seragamisasi selama 32 tahun". hasilnya, ketika beda sedikit dicap komunis, gpk, otb dll. inilah robot-robot yang sebagian duduk di kursi mpr/dpr dan lihat saja arah geraknya sekarang, SEMRAWUT, KACAU BELIAU. sementara ada beberapa orang yang punya hati nurani, punya akal budi sejati, digencet-dihantam dengan alasan macem-macem. APA YANG HARUS KITA BUAT? BISAKAH KITA MENYUARAKAN MAILING LIST INI BUAT MEREKA ITU? ADA TEMEN-TEMEN YANG MAU NGUSUL dan boleh juga NGUSIL? soko aku tungg-ik ------Original Message------ From: GIGIH NUSANTARA <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED] Sent: February 12, 2001 2:11:17 AM GMT Subject: [Kuli Tinta] DPR, persis Ibu Cerewet di Rumah Pemerintah, mirip bapak, kepala keluarga, yang mesti 'nunjang-palang' cari penghasilan, mbetulin mobil mogok, bikin bener talang bocor, masang kabel-kabel lampu yang mati, ngeprasin dahan dan ranting pohon yang bikin rungsep dan kotor pekarangan, dan membiasakan diri nongkrong di gardu Siskamling untuk membina hubungan baik dengan tetangga. Yang namanya cari penghasilan, di tengah himpitan ekonomi seperti ini, aku pastikan berat sekai adanya. Belum kalau nggak ketemu-ketemu job, boro-boro bisa bawa pulang duit untuk ngempanin anak istri di rumah. Bikin betul talang bocor juga jangan dibilang enteng. Tak biasa naik ke genteng malah bisa-bisa membawa kojur. Pemerintah sekarang ini ibarat meninggali sebuah rumah, milik rakyat, yang sudah lama dikontrak sama orang lain, yang begitu saja ditinggal 'mak prung', tanpa sungkan, sehingga yang mereka tinggalkan itu benar-benar (apa masih bisa disebut) rumah yang reyot, nyaris ambruk, dan bau busuk di sana-sini. Sementara, pemilik rumah, rakyat, yang dinafikan hampir tiga dasawarsa lebih, terlihat begitu compang-camping, lapar, dan tak kurang sangat pemberang. Maklum, jika ditambah barang 1-2 tahun lagi saja penghuni lama itu masih bercokol, barangkali sudah out dari udara. Bagaimana repotnya, pemerintah, kepala rumah-tangga, yang sekarang ini. Mana dulu yang mesti dibagusi, sementara semua facet kehidupan ini benar-benar sudah tak manusiawi. Salah satunya adalah demokrasi. kalau mau satu lagi ya hukum, dan bisa ditambah soal ekonomi, pendidikan, yang hampir semuanya adalah modal bagi masa depan yang harus diinvestasikan sesegera mungkin. Ibarat oplet, ini adalah oplet yang kesiangan, mengangkut banyak orang dengan banyak tujuan, yang terjebak banjir dan si sopir mesti pandai mengatur kemudi, agar penumpang selamat sampai tujuan. Soal terlambat sedikit, ya mestinya maklum. Sayangnya, masing-masing penumpang tak mau ambil pusing, lebih sibuk dengan agendanya sendiri. Teriak-teriak, saling berebut minta didulukan dan dituruti. Untung kena sopir sabar, sehingga tak ada satupun yang digampar, meski di antara penumpang ada copet yang pura-pura ikut rewel, tapi lebih banyak cari untung dan kesempatan. Ayah, pemerintah, yang repot begini, mestinya ketemu ibu yang bijaksana. Jika ayah itu pemerintah, maka ibu bisa kita metaforakan sebagai kalangan legislatif, DPR atau MPR. Sebagai ibu bijaksana, mestinya tahu, bagaimana repotnya si ayah berjuang membawa biduk ini jalan menuju ke seberang. Jika ibu pinter, maka kepada si ayah, dia siapkan semua bahan yang perlu, secara rinci, bukan asal-asalan, supaya ayah bisa bekerja ibarat pilot yang mesti teliti memeriksa check-list. Tapi kali ini, pasangan ayah ibu ini sedemikian tak harmonis. DPR/MPR, ibu, bukan ibu yang bijaksana. Meski tau suaminya lebih banyak repot daripada endaknya, tetap saja rewel. Dan karena ibu adalah sosok yang (mestinya) dihormati, ketika semua berada di rumah, itu karena ibu memiliki semua hak yang mau ngapa-ngapain bisa dan boleh. Soal etis, ibu yang sekarang, nih, dikebelakangkan. Aku jadi ingat cerita mengenai ibu, cerewet, yang seperti biasa, sangat mau menang sendiri. begini. Malam-malam, terdengar suara grombyangan di belakang, ada ember jatuh ketunjang-tunjang. Ibu mendengar suara gaduh tersebut, lalu keluarlah kata kerasnya, 'O..., siapa itu ? Matanya dikemanakan ? Tau ember kok ditunjang-tunjang sak enaknya' Suatu malam yang lain, terdengar lagi suara grombyangan, ada ember jatuh dengan suara berderai-derai. Kali ini, ibulah yang menendang ember tadi. Tak lama kemudian ada suara keras, 'Siapa ini naruh ember seenaknya, sampai aku nendang ember seperti ini ?' Ibu (DPR) kita kali ini, sungguh tak bijaksana. Dia melakukan apa saja, tanpa harus tau bagaimana perasaan anak-anak (rakyat)-nya. DPR kita kali ini, bukan saja cerewet, tetapi juga bebal. Memang dialah yang memilih siapa suaminya (Presiden). Dan dia boleh memilih penggantinya kapan saja dia mau. Tetapi apakah ia tidak ingat, siapa yang menjadikan mereka ibu? ===== Sugih durung karuwan, sombong didisikno... __________________________________________________ Do You Yahoo!? Get personalized email addresses from Yahoo! Mail - only $35 a year! http://personal.mail.yahoo.com/ ............Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- ______________________________________________ FREE Personalized Email at Mail.com Sign up at http://www.mail.com/?sr=signup ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
