Malam ini saya merasa panen wacana,
melalui kotak kaca monitor TV. Pertama dari
TVRI yang semakin tak populer karena bergerak
di jalur VHF dengan acara Dialog Indonesia Baru.
Yang kedua dari MetroTV pada acara Today's
Dialog dengan tema Anarkisme Massa.
Kebetulan pula pada acara itu ada dua professor
di TVRI, seorang mahasiswa, seorang anggota PAH
MPR dan seorang ketua DPW partai. Kesan yang
saya peroleh, tetap saja yang paling lemah dan
pantas disalahkan adalah MASSA yang identik
dengan rakyat pendukung suatu partai. Ujung-2
nya yang salah adalah partai. Mulai dari tuduhan
sengaja mengerahkan massa, mengkoordinasikan
massa hingga tuduhan "membenarkan" gerakan
massa itu. Terkesan pula pembelaan ketua DPW
partai yang dengan terus terang mengakui kelemahan
massa partainya dan pengungkapan-2 tindakan
pencegahan turunnya massa selalu saja dinafikan
oleh sang professor yang ahli hukum. Sayang tidak
ada sarjana (setidaknya) atau professor (kalau
perlu) yang bergerak di bidang ilmu Anthropology
atau sekalian Psychoantropology untuk menjadi
analisator yang adil. Sebab kalau tak salah ilmuwan
yang bergerak di bidang ilmu Sosiology lebih mengarah
pada analisis berdasarkan "kejadian" sesaat. Dan
mereka lebih dilandasi pada gejala-2 yang menyimpang
saja. Istilahnya kontra persepsi. Maksudnya si
Sosiolog akan dengan cermat dan jeli bila terjadi
gajala yang bertentangan dengan pengalaman-2
yang dia anggap positif pernah menyusup ke dalam
memorinya. Singkatnya tidak mengembangkan
segi Emphatic Thingking. Demikian kalau tak salah
yang pernah saya baca di bukunya Koentjaraningrat.
Dan itu terjadi atau terlihat pada acara yang satunya,
yang menampilkan seorang doktor sosiology yang
juga merangkap sebagai ketua Jurusan Ilmu Politik.
dan seorang lagi juga Ph.D sosiology yang lebih
banyak bekerja sebagai konsultan...:-)).
Betapa beliau-beliau ini selalu mencontohkan dengan
kejadian-kejadian yang pernah beliau saksikan dan
dipandang baik dalam rangka penegakan hukum
di Amerika atau Eropa. Dan emosi terlihat dalam menjawab
sanggahan seorang pakar lain (kebetulan satu fakultas
kalau tak salah) yang ternyata bergelar Professor.
Professor itu mengingatkan bahwa yang dihadapi kini
adalah Indonesia, bukan Amerika.
Jelas sekali bahwa segala kesalahan patut disandangkan
kepada Massa, karena terbukti telah merusak pos
polisi, menebangi pohon dlm. aksi yang dikaitkan dengan
agama... sementara itu anarkisme terstruktur dengan
menggunduli HUTAN, tidak menjadi tinjauan. Tindakan-2
masa lalu yang "menggusur" petani-2 tambak Pantura
Jawa Timur (misalnya) juga tidak mampu mereka lihat
menjadi salah satu faktor tumpukan kejengkelan Massa
itu. Lebih parah lagi, kemudian mempersalahkan para
ulama yang katanya menjadi provokator politik...
Wah, gimana ya?
Sedang saya pribadi selalu menaruh hormat pada
orang-orang yang bergelar doktor (Ph.D) dan juga
Professor. Karena kronologi bahasanya, doktor
adalah bermakna sebagai SARJANA yang pantas
menjadi PENGAJAR. Singkatnya GURU. Kalau guru
hanya merendahkan diri menjadi pengamat dan
komentator, bagaimana para mahasiswanya?
Pantas bukan kalau rajin berdemo...? :-[}
Dan Professor adalah MAHA GURU. Tak ada kata
yang pantas lagi untuk melecehkan jabatan diri
sendiri bagi orang yang sudah menjadi MAHA GURU.
Sindiran wayang tetap saja tangguh. Seorang Maha
Guru akhirnya mati terhina, kepalanya dijadikan
sebagai bola sepak di palagan Bharatayuda. Guru itu
adalah DURNA.
trims,
Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
