ARUS BALIK MAKIN MEMBESAR...!
Saya jadi teringat ucapan pram bagaimana kita bisa melihat
watak dan bentuk dari orang-orang ORBA. Pram
mengatakan jika kita mau melihat ORBA kita lihat
saja dari "statmentnya/ ucapannya" karena watak
politik ORBA adalah watak politik yang bodoh, dan
tidak bermoral. Jadi semua yang diungkapkan pasti
akan terlihat sebaliknya. Kata-kata ini diucapkan Pram
ketika rame-ramenya gerakan reformasi.
Kemudian ketika awal dimana Gus dur terpilih menjadi
presiden --kurang lebih-- dua atau tiga bulan berselang
rekan saya yang wartawan (bertugas di DPR) menemui
saya; kita biasa berdiskusi politik. Ia mengatakan bahwa
Gusdur pasti akan di tumbangkan dengan cara konstitusional,
waktu itu saya berkata ah massa... Gus Dur itu minoritas
tetapi didukung rakyat dia dikenal sebagai tokoh populis sama
dengan mega, kecuali mega dan Gusdur pecah ucap saya waktu itu;
waktu itu redaksi juga sedang santer ingin mengangkat isu
KUDATULI yang terlihat dibiarkan saja oleh elit PDIP sedikit dugaan
waktu itu saya melihat bahwa PDIP ada main dengan GOLKAR apalagi
setelah mengotak-atik calek dari PDIP rupanya banyak kader GOLKAR
yang lompat pagar; kasus KUDATULI hilang dari ingatan.
Melihat gambaran diatas saya jadi ingat ucapan pram setelah Suharto
lengser; ia mengingatkan Gerakan Mahasiswa untuk terus bergerak dan
melawan sampai kejantung ORBA dan tak boleh berhenti ketika berhenti
maka korban akan berbalik jatuh pada gerakan reformasi itu sendiri. Hal inipun
diperkuat steatmen politisi wanita "Ga'e" SK. Trimurti ketika di wawancara
oleh liputan 6 SCTV dalam memperingati hari pahlawan. Pesannya sangat
sederhana dimana ada "usaha" untuk meredam gerakan massa dalam usaha
memberlakukan UU Darurat. Wanita ini (yang pernah menjadi mentri jaman ORLA)
mengatakan Demokratisasi tidak melarang AKSI massa malah hal ini harus
terus dilakukan dan tak boleh berhenti; usaha melarang aksi massa adalah
usaha untuk meredam demokrasi. Pesan-pesan dari dua tokoh "ga'e" yang sudah
bau tanah ini; meninggalkan pesan bahwa kami hidup dari Tiga jaman dan selalu
dipakasa untuk menutup mata terhadap realitas kemungkaran yang ada.
Ketika gerakan mahasiswa; kehilangan makna (isu sentral) maka gerakannyapun
mudah untuk dipatahkan. Berpuluh-puluh aksi anti Suharto (pengadilan) tidak
dapat mendidik massa luas; buat apa kita melawan seorang Suharto yang
tidak berkuasa lagi? Maka, gerakan yang kurang dapat respon tadi lebih banyak
menimbulkan korban dikalangan Mahasiswa sendiri. Isu sentral Pembersihan Kabinet
serasa terlupakan; isu DEWAN RAKYAT. isu KOMITE RAKYAT terasa
kurang tepat untuk diusung terus, apa benar? Usaha pendidikan rakyat juga tidak
begitu intensif dilakukan oleh aktifis 1998 yang sudah harus berpindah sektor ke
sektor prioritas rakyat perkotaan; kaum buruh, kaum miskin kota, profesional dan
mungkin petani yang kondisinya "masih lemah".
Tetapi sekecil apapun isu yang kurang mengena dihati rakyat ini sempat menciutkan
gerakan fulgar dari sisa-sisa ORBA yang masih ingin berkuasa.
Gerakan menghalau gerakan reformasi, dikemas ORBA cukup sistematis dan terencana
matang lihat kronologi dibawah ini;
1. Teror terhadap anggota DPR lewat penembakan Gedung DPR RI di Jakarta.
baik lewat pembacokan Mathori dan penembakan ruang kerja PPP.
2. Teror terhadap aktifis HAM khususnya terhadap KONTRAS dan aktifis ACEH
3. Teror-teror BOM dari skala kecil sampai besar, dari mulai isu recehan sampai besar
dari peledakan di kampus, rumah ibadah sampai pusat ekonomi di pertamina.
Dilanjuti dengan pengabungan dua strategi antara teror dan massa; lewat isu-isu
dampak dari peninggalan ORBA;
1. Mobilisasi GURU ke DPR
2. Mobilisasi karyawan penerangan ke DPR
3. Mobilisasi karyawan Birokrat yang semua arahnya jelas terlihat
4. Mengakat isu Komunisme dan digabungkan dengan Isu-moral
seperti Narkotika.
Dengan dua stategi itu hampir setahun ini tidak ada terlihat perubahan berarti
terhadap cita-cita dari perjuangan reformasi itu sendiri atau bisa dikatakan
tidak ada sama sekali; peran gerakan mahasiswa pada waktu itu terlihat telah
digantikan oleh DPR yang notebane banyak berkuasa ORBA disana.
Kekosongan inilah yang makin memungkinkan elit politik yang ada di DPR
untuk bermain mata dan uang. Gerakan Mahasiswapun yang sudah mengkristal terlihat
kehilangan visi dan misinya.
Kekuatan inilah yang digunakan elit-elit DPR untuk
membukukan gerakan mereka lewat kelompok-kelompok elit mahasiswa; dilakukan beberapa
kali relly (AR) keberapa Kampus; diikuti oleh (AT) dalam
mengintruksikan/membiayai organisasi-organisasi mahasiswa Islam milik mereka
untuk mengkonsepkan gerakan penumbangan GUSDUR. Sebelumnya jelas orba merekayasa isu
dalam BULOG yang banyak kroni mereka didalamnya. Dan bumbu masak serta zakat raja
Bolkiah antara Muhamadiah dan ICMI dan NU
terjadi perang dingin perebutan rezeki.
Mulai terjadi pembiasan kali ini kelompok (AR,AT) yang menguasai bola salju
sedangkan gerakan reformasi/Moderat mengalami konflik internal sendiri dengan
beberapa konsep yang memang tidak mengakar pada kepentingan rakyat. Begitu juga dengan
kalangan kiri yang ketinggalan beberapa langkah setelah keberhasilan
dalam membopong semangat gerakan Semanggi I dan II. Ditingkatan elit moderat
sendiri terlihat pecah dan elitis, Cak NUN tak lagi mendukung Gusdur, begitu pula
dengan FODEM sendiri. Lalu PRD dan gerakan mahasiswa radikal pun selalu
berkubang pada isu-isu yang seharusnya tidak perlu untuk diperdebatkan. Ketidak
cocokan (cari selamat) dari gerakan Demokratik membuktikan ketidakmampuannya
berhadapan dengan massa rakyat. Dan terlanjur publik di
gambarkan pemetaan bahwa hanya ada dua kubu yang berserangan yang anti dan pro karena
posisi ketiga tidak boleh diberikan kelain hati. Ha... Ha... dan hal itu
hanya dimiliki oleh MILITER.
Gerakan Pelanggi baru ada nafasnya kembali, ketika ketua umum NU (HA) mengingatkan
bahwa jangan sampai gerakan Pelangi yang akan muncul
(Gerakan ketiga di luar NU). Maka gerakan pelanggi (kaum Demokrat/sos)
mendapat keleluasaan untuk dapat kembali mengkonsep makna peran reformasi
(walaupun belum ada kesatuan komando dalam memetakan ISU) ada yang
bermain di tingkatan Moral anti kekerasan dan sebagainnya, tetapi ada yang
radikal lebih dari itu memobilisir massa baik massa NU. PDIP maupun PRD
dan Mahasiswa. Malah para profesional di UI sendiri lewat ILUNI mengemparkan
dengan mengangkat isu GOLKAR sebagai musuh bersama. Hal ini terlihat
sebenarnya bukan PRD yang mengakat isu anti GOLKAR dalam menspesifikasi
isu antek-antek ORBA itu dilakukan oleh ILUNI UI dan berkembang dimasyarakat
dan dapat respon bola salju dikalangan akar rumput dalam mensikapi musuh
bersama yaitu GOLKAR.
Apakah GOLKAR dan PAN kalah taktik? jawabnya tidak, Isu PRD dan Komunisme diangkat;
jelas hal ini tidak akan sama dengan pada massa perang dinggin. Dunia sudah berubah
jelas isu tersebut akan terasa dipaksakan. Tetapi terlepas dunia tidak mendukung; TNI
masih dekat dengan kedua organisasi tersebut. Saya jadi teringat pendapat supir taksi
(KOSTI) yang saya tumpangi ketika menanggapi pencopotan pejabat tinggi TNI yang dekat
dengan Gusdur, ia (supir) berkata apa WIRANTO berkuasa lagi ya; Apalagi seperti;
ucapan rekan saya yang dekat dengan militer mengatakan; apabila mabes ABRI tidak jatuh
ketangan Wiranto maka sukseslah kedudukan GUSDUR hingga 2004, rupanya MABES CILANGKAP
sudah ditangan WIRANTO.
Jelas Gusdur akan berhadap-hadapan dengan militer,
apa GUS DUR penakut dalam hal itu?
Sama penakutnya dengan kaum yang mengaku demokrat lainnya?
Yang jelas permainan belum selesai; banyak kesalahan-kesalah gerakan reformasi kemarin
yang harus terus di evaluasi. Secara organisasi yang baik hanya dua
dimiliki pertama PKB dan NU kedua PRD yang punya massa militan di tingkatan
akar rumput hingga kepusat; pertanyaannya bagaimana dengan PDIP? PDIP sendiri
sebenarnya seperti sebuah banggunan yang ditengah-tengahnya di kuasai oleh para
pencoleng, sehingga antara keputusan "eliti partai" dengan massa selalu teredam oleh
para intel (kaki tangan) menyebabkan kondisi PDIP selalu mencari jalan aman. Tetapi
pertanyaannya apa massanya seperti itu? saya pikir massa PDIP sendiri dapat belajar
sendiri dari jeratan elit mereka.
Baca kekecewaan eros Djarot dan sikap apatisnya terhadap PDIP (baru ini).
Rupanya kekecewaan djarot tak ada gunanya. Massa PDIP setingkat kelurahan
dan kecamatan lebih mengakar pada rakyat, dan banyak belajar dari pristiwa kudatuli
tidak akan diam melihat ketidakadilan, baca demo dan aksi massa
anggota PDIP di beberapa dprd dalam mengritisi elit partai yang kompromi dan
main uang dalam menjalankan aspirasi rakyat (isu jabatan BUPATI).
Kemenangan tinggal didepan mata rasanya; hanya kita semua yang bisa
dilakukan apabila gerakan massa rakyat itu dihadapkan pada kondisi real
dan pembebasan atas hegemoni kekuasaan partai politik, baik PKB, maupun
yang lain-lain konsesi "peole" inilah yang pada saat ini belum diketemukan.
Jika dianalisa diatas kertas tetang keterlibatan rakyat jelas massa akan lebih
terlatih untuk turun jalan adalah massa PDIP dan massa PKB. Jika gerakan massa akan
mengecil tusukan akan terjadi lebih keras seperti yang terjadi dalam
acara dialog mahasiswa yang dilakukan kelompok mahasiswa "konserpatif".
Catatan; setelah acara dialog Gusdur dan mahasiswa, aktifis FAMRED yang banyak anak
santri tersebut ditengah massa demo BEM teraniaya, ditusuk dan luka-luka, baca
kesaksian altifis FORKOT dalam dialok di METRO TV.
Ketika rakyat yang bergerak DPR bukanlah apa-apa dan sebuah sejarah baru
sebuah perubahan bukan dilakukan oleh Militer atau Dewan militer seperti jaman
ORBA ataupun eksekutif/presiden seperti jaman ORLA. Tetapi benar-benar rakyat
yang merubah dan menseleksi wakil rakyat dirumahnya dan membenahi lembaga
lembaga tinggi negara yang bobrok. Hanya sejarah yang tahu kapan hal itu terjadi.
Diantara kepentingan, dan kehilangan visi dan misi perjuangan Demokrasi
dalam usaha memerdekakan rakyat.
Gerakan Hukum tanpa didukung pula dengan gerakan politik yang nyata hanya
dapat menimbulkan konsesi-konsesi yang akan menjauhkan dan membuka
jurang konflik baru yang tidak akan terselesaikan dan selalu akan menguntungkan ORBA
dan MILITER ingat dia sudah bangkotan berkuasa selama 32 th.
MYP
tulisan ini saya tujukan
khusus buat "Bhak erna" yang
selalu meminta saya menulis.