bener-bener!
memang pdi-p menunjukkan kenyataan dari apa
yang dipersangkakan orang, terutama pesaingnya.
sebagai partai tempat berkumpulnya pemilih
dari berbagai kalangan bawah, tentunya lebih
memperhatikan pemilihnya untuk mendapatkan
dukungan pada pemilu berikutnya (kalau ada).
tapi lha bagaimana, wong anggota baru yang
belum jelas visinya saja dengan mudah mendongkel
ketua fraksi kok yaaa..
Ki Punggung Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?
----- Original Message -----
From: "GIGIH NUSANTARA" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, February 16, 2001 8:43 PM
Subject: [Kuli Tinta] PDI-Perjuangan, seharusnya
PDI-Perjuangan, seharusnya
Partai ini banyak sekali menghilangkan sendiri
momentum-momentum bagus yang mestinya akan sangat
berguna bagi kelangsungan partai ini di kemudian hari.
Banyak sekali kehilangan momentum ini dikarenakan
adanya ambisi berlebih, tanpa takaran, yang dilakukan
oleh politisi-politisi tiba-tiba, yang karena hembusan
angin buritan berupa tumbangnya Soeharto, lalu
tiba-tiba ditahbiskan menjadi penghuni kubah kembar di
Senayan. Selainnya itu, juga karena kepemimpinan yang
serba ngambang, yang sulit ditebak maknanya, persis
sebuah feodalisme yang hanya menyimpan tanda-tanda.
Partai ini lebih terbelenggu kepada gugon-tuhon,
percaya kepada tanda-tanda secara membuta, yang
percaya akan kedatangan Ratu Adil, atau Satrio
Piningit, yang konyolnya mereka percayai sebagai salah
satu sosok dari partai ini. Sehingga mereka pun dengan
amat yakin, kalau tanda-tanda sudah berbicara
demikian, maka sudah kudu banget, pinasthi.
Kegagalan menjadikan ketua umumnya menjadi RI-1,
karena jegalan kelompok Orba (baca : Golkar) ditambah
manuver partai boneka yang berlindung dalam ayat-ayat
dan fatwa keluaran MUI, menjadikan angka 35 persen di
DPR, bukan angka yang berarti, meski klaim sebagai
partai pemenang pemilu telah begitu memabokkannya. Dan
kegagalan tersebut juga tak membuatnya melakukan
pemikiran ke dalam, mengenai bagaimana langkah
berikutnya.
Untung, yang diangkat oleh kelompok Orba (baca :
Golkar) dan PorTeng adalah GD, bukan yang lain. Minus
PKB, yang saat itu pasti sudah memilih GD, angka
kemenangan masih berada di pihak seberangnya-PDIP. Dan
itu bisa dimanfaatkan untuk mengangkat tokoh lain.
Untung GD yang berhasil tampil di RI-1. Dengan sedikit
akal beliau, maka ketua umum PDI-P masih memperoleh
kehormatan jadi RI-2. Dan untuk itu terjadi trade-off
berupa ketua MPR dan DPR yang direlakan dipegang oleh
cecunguk-cecunguk yang belakangan terbukti memang
benar-benar cecunguk tulen.
Sayang, alih-alih mereka melihat peluang yang dibuka
oleh GD, malah mereka benar-benar mengira, kalau
GD-lah yang memang berambisi untuk mempecundangi ketua
umum mereka. Sehingga yang mestinya RI-1 dan RI-2
harus bekerjasama bahu-membahu, agar membuat negara
ini segera bisa lepas dari kemelut, malah dijadikan
kesempatan untuk melakukan intrik, bahwa antara RI1
dan RI-2 ada saling incar-mengincar. Dan jadilah
berbagai berita miring, RI-2 ngambeg, dan lain
sebagainya. Dengan bumbu kelakuan koboi-koboi tengik
di panggung parlemen, maka komplit sudah upaya-upaya
untuk melakukan pembalasan atas kekalahan PDI-P
merebut tampuk RI-1 sebelumnya.
GD, yang dengan sangat piawai membuat kelompok Orba
(bacalah saja Golkar) dan PorTeng terbius dengan 'asal
bukan Mega', sebenarnya telah mempersiapkan jalan
untuk peluang ketua umum PDI-P untuk masuk dalam
jajaran pimpinan nasional, meski (baru) cuma RI-2.
Padahal, apalah kekuatan partai milik GD ini
sebenarnya yang cuma sekian persen saja itu.
Jika mau berpikir jernih, menjadi RI-2 pada situasi
negara sedang berantakan seperti ini adalah sebuah
kesempatan yang paling baik, tak ada yang lebih baik.
Perjalanan perahu ini sangat berat, sehingga menjadi
RI-1 akan berpeluang lebih banyak gagal daripada
sukses, bahkan ketua umum PDI-P sekalipun. Medan masih
sangat becek, buaya masih banyak yang mangap, belum
lagi ular biludak. Sementara bekal masih seadanya, dan
teman-teman seiring belum tentu semua tulus untuk ikut
bahu-membahu dalam senang dan susah.
Apa keuntungan menjadi RI-2 ?
Paling dekat, untuk menjadi RI-1 'by accident', cuma
ada di dia. Sesewaktu RI-1 turun, suka tak suka, maka
RI-2 yang naik menjadi RI-1.
Tapi bukan itu.
RI-2 nyaris luput dari tuntutan-tuntutan berat. Dengan
minta peran serba sedikit, pilih saja peran-peran yang
punya dayatarik politis cukup. Soal pilihan peran
tersebut, wah, banyak sekali. Negeri ini ditinggal
'mak prung' begitu saja sama pengontrak sebelumnya,
sehingga cukup banyak bagian-bagian yang mulai dari
rusak kelas biasa sampai yang super berat tersedia,
tinggal pilih.
Apa mau konsentrasi di urusan bencana alam? Atau rusuh
Ambon, Irja, Aceh dan Riau, yang mau menahbiskan diri
menjadi negara sendiri itu. Atau kalau mau bisa juga
soal-soal seputar pengentasan kemiskinan, ekonomi yang
amburadul, dan sejenisnya itu.
Tapi, sembari itu semua, sebenarnya terbuka kesempatan
luas untuk melakukan konsolidasi pada rakyat pemilih,
yang dilakukan dengan berbagai cara elegan, sehingga
pada pemilu depan, 2004, tak cuma 35 persen, tetapi
kalau bisa dilebihi barang 10 persen lagi. Itu musti
dilakukan, agar tak jadi bulan-bulanan ketika berebut
kursi RI-1 nanti. Meski ada wacana untuk memilih RI-1
dan RI-2 secara langsung, tapi pemilihan model lama
aku pastikan masih akan terjadi 2004 nanti.
Bagaimana cara menaikkan perolehan suara tadi ?
Banyak. Sebanyak kesempatan yang tersedia karena
begitu banyak borok yang mesti ditambal tadi.
Sektor-sektor yang langsung menyentuh level paling
bawah rakyat ini banyak sekali yang bisa ditangani.
Masa iya bangsanya Kwik atau Laks gak mampu? (Atau
malah mereka ini sekarang sudah bangga menjadi elit?).
Sembari itu pula, kesempatan konsolidasi juga dalam
rangka menunggu kemelut reda. Badai amuk yang banyak
ditimbulkan oleh tinggalannya 'mbah lanang' mungkin
sedikit banyak semakin terperbaiki oleh kepemerintahan
GD yang lebih tenang. Sehingga ketika PDI-P berhasil
meraup banyak suara, dan mulus menjadikan ketua
umumnya jadi RI-1, maka suasana sudah sangat kondusif
belaka.
Sayangnya, itu semua dilewatkan begitu saja.
Benar-benar petinggi PDI-P tak jeli melihat situasi.
Alih-alih ikut memelihara ketenangan agar GD bisa
merampungkan pekerjaan perataan jalan, yang pasti
sudah akan disediakan untuk 'adiknya', malah
membiarkan koboi tak tahu diri untuk banyak membuat
lubang-lubang besar di jalan yang diretas GD tersebut.
Bisa dibayangkan, ketika ketua umum PDI-P harus
menerima estafet kepresidenan kelak, dia dihadapkan
pada sebuah negara dengan kondisi yang jauh lebih
parah dari sebelumnya. Saat-saat seperti itu semakin
mudah untuk mengganggunya.
Siapa yang menang kemudian ?
=====
Sugih durung karuwan, sombong didisikno...
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get personalized email addresses from Yahoo! Mail - only $35
a year! http://personal.mail.yahoo.com/
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
- [Kuli Tinta] PDI-Perjuangan, seharusnya GIGIH NUSANTARA
- Re: [Kuli Tinta] PDI-Perjuangan, seharusnya Fukuoka Kitaro
- Re: [Kuli Tinta] PDI-Perjuangan, seharusnya Abdullah Hasan
