* KONFLIK GUS DUR - AMIEN RAIS MERUPAKAN AKAR MASALAH BANGSA

Skandal Bruneigate dan Bulogate ternyata berlatar belakang
perselisihan yang tidak pernah teratasi antara NU dan Muhammadiyah.
Lebih dari itu perbedaan tajam kepribadian Gus Dur dan Amien Rais
juga berperan penting. Tapi di mana peran Golkar dan PDIP dalam
konflik ini? Lebih dari itu, bagaimana konflik ini bisa diatasi
supaya tidak membawa mala petaka? Koresponden Syahrir mengirim
laporan berikut dari Jakarta:


Ratusan mubalig NU kemarin malam mengadakan pertemuan di Hotel
Indonesia atas undangan Pengurus Besar NU. Mereka diundang antara
lain untuk mengkoordinir pengerahan massa pada acara Istigotsah yang
akan diadakan dalam beberapa hari mendatang ini. Sedianya, acara itu
akan diadakan tanggal 18 Februari lalu, tetapi karena persediaan
logistiknya belum rampung dan sambil melihat perkembangan demo-demo
di sepanjang pantura dan pantai Selatan Pulau Jawa, acara religius
itu ditunda. Pertemuan itu secara informal pun akan membicarakan
sampai di mana warga NU mampu mengerahkan satu juta massa ke Jakarta.
Gerakan ini akan merupakan gladi resik menghadapi Sidang Istimewa
tiga bulan mendatang.

Seorang tokoh NU menjelaskan bahwa massa NU adalah massa pendoa,
bukannya massa demonstran. Selama ini massa NU berada di
pinggiran.Tetapi kini saatnya massa NU bersikap lebih pro-aktif,
katanya. Yang kini menjadi pertanyaan adalah, mampukah NU
menggerakkan satu juta massanya ke Jakarta? Sebab ketika Soeharto
masih berkuasa, NU hanya mampu menggerakkan seratus ribu orang saja
ke Senayan, meski Gus Dur berjanji akan memobilisasi satu juta rakyat
NU. Maka tentu menarik untuk melihat sampai di mana Gus Dur yang kini
berkuasa bisa menggerakkan massanya. Kalau pada zaman Soeharto ia
dipercaya orang mendapat dana dari Moerdiono dan Benny Moerdani, kini
darimana dananya akan datang?

Perkembangan lain yang juga menarik adalah demonstrasi mahasiswa yang
anti Gus Dur kemarin. Sekitar 1000 mahasiswa yang tergabung dalam
Aliansi Lembaga Formal Kemahasiswaan se-Indonesia dari 69 perguruan
tinggi melakukan long march menuju Istana Negara, Jakarta. Mereka
menuntut agar Gus Dur mundur dari jabatan presiden secara legowo.
Dalam aksinya kali ini, mereka mengutuk keras tindakan aparat kepada
mahasiswa di Universitas Gadjah Mada pada 16 Februari 2001 kemarin,
tegakkan enam visi agenda reformasi, tuntut Gus Dur mundur, dan juga
meminta agar pimpinan DPR/MPR membersihkan diri dari penyakit KKN.
Para mahasiswa umumnya berasal dari BEM atau Badan Eksekutif
Mahasiswa pelbagai perguruan tinggi yang dikuasai HMI dan utamanya
mahasiswa dari KAMMI. Pendirian kelompok-kelompok mahasiswa intra ini
berbeda pandangan dengan kelompok-kelompok mahasiswa extra
universiter yang akhir-akhir ini menginginkan Golkar dibubarkan.
Banyak di antara mereka itu berasal dari PMII, suatu organisasi
mahasiswa Nahdatul Ulama. Sedangkan mantan penasehat militer Gus Dur,
Letkol Purnawirawan Juanda mengatakan kepada pers kemarin bahwa
bahaya besar, jika Presiden Abdurrahman Wahid, di tengah kekuasaannya
yang makin limbung, memilih opsi "tijitibeh" alias mati siji mati
kabeh. Artinya, mati satu, mati semuanya.

Tinggal bagaimana kearifan Gus Dur, apakah ingin menjadikan para
pendukungnya sebagai tumbal politik, atau dia memilih sikap
kenegarawanan: mengundurkan diri seraya menenangkan massa
pendukungnya. Juanda juga mengatakan, bila Gus Dur ngotot ingin
mempertahankan kekuasaannya hingga 2004, maka para pendukungnya akan
tetap mati-matian berada di barisan belakang. Padahal, dalam logika
politik, ujar Juanda, Gus Dur sudah tak mungkin lagi bertahan sampai
akhir massa jabatannnya. Sebab, dua pilar kekuatan politik sebagai
syarat mutlak bertahannya pemerintahan, yakni parlemen dan militer
sudah meninggalkan Gus Dur. Logika politik internasional, pun berlaku
demikian.

Kebuntuan komunikasi politik saat ini pun nampaknya sulit untuk
diatasi mengingat Wapres Megawati, satu-satunya yang masih bisa
mempersatukan Amien Rais dengan Gus Dur dan Akbar Tandjung, saat ini
kurang bersemangat mempertemukan para pemimpin politik tersebut.
Megawati tidak mau menjadi fasilitator pertemuan. Bahkan ia sudah
mengatakan, penyelesaian konflik politik saat ini tergantung pada
Amien Rais dan Gus Dur. Amien Rais sendiri menilai Wapres Megawati
Soekarnoputri telah kebablasan dengan menyatakan  bahwa pertemuan
Amien dengan Gus Dur akan menyelesaikan seluruh persoalan. Selasa
kemarin berbicara dengan para wartawan, ia menilai, pernyataan
Megawati tersebut dramatis dan mereduksi kenyataan secara radikal.
Bahkan, katanya, cenderung kebablasan. Sebab persoalan bangsa sangat
kompleks sehingga sangat mustahil dapat diselesaikan hanya oleh dua
orang. Menurut dia, kalau memang pertemuan empat elit akan digelar,
harus ada agenda substansial yang akan dibicarakan, jika tidak maka
pertemuan hanya akan menjadi komoditas politik murahan seperti
sebelum ini. Ketua DPR Akbar Tandjung kemarin mengatakan, Presiden
Abdurrahman Wahid harus mengambil prakarsa, dan menyiapkan materi
pembicaraan yang substantif jika memang bertekat untuk bertemu. Ia
dan Megawati, siap bertemu dengan Amien Rais dan Gus Dur. Kalau semua
ada kesamaan dan siap bertemu membicarakan yang substansial, Akbar
memperkirakan pertemuan dapat berjalan dengan baik.

Sementara itu di kalangan sementara pakar pernyataan Megawati bahwa
penyelesaian konflik saat ini tergantung Gus Dur dan Amien Rais,
menandakan dewasa ini ada pertarungan antara Islam modernis dengan
Islam tradisional. Semakin meruncingnya konflik politik saat ini
disebabkan oleh kedua tokoh itu. Sehubungan dengan itu baik kalangan
pakar maupun tokoh politik di Jakarta bertambah yakin bahwa Amien dan
Gus Dur harus dipertemukan. Untuk mencegah pertarungan antara massa
NU dan Muhamadiyah. Para wartawan Jakarta yang baru kembali dari Jawa
Timur dan Yogyakarta misalnya terkejut melihat pelbagai selebaran di
kalangan petani di Jatim dan Jateng. Pada pokoknya
selebaran-selebaran ini menyebutkan adanya delapan tokoh parlemen
yang darahnya dinyatakan halal.

Menjelaskan latar belakang pertikaian itu, pengamat politik Arbi
Sanit kemarin kepada pers ibukota menyatakan Poros Tengah yang
dikuasai oleh Muhammadiyah melalui ICMI, KAHMI dan HMI dahulu
memberikan dukungan kepada Gus Dur. Karena itu ketika dukungan itu
tidak dibalas dengan baik oleh Gus Dur, maka Poros Tengah menjadi
marah. Apalagi setelah Gus Dur memecat beberapa menteri Poros Tengah.
Karena ditinggal oleh Gus Dur, maka Poros Tengah dengan didukung
Golkar yang juga terdiri dari sejumlah mantan HMI, serta
partai-partai lain balik menyerang Gus Dur dengan mempermasalahkan
Buloggate dan Bruneigate. Gus Dur, menurut Arbi Sanit juga menutup
kran dana lawan-lawan politiknya dengan menempatkan Rizal Ramli di
Bulog. Gus Dur berusaha menyelamatkan kepentingan NU, sedangkan
lawan-lawannya burusaha pula menjatuhkannya demi kepentingan mereka.

Kalangan lain mengatakan pertentangan Gus Dur dan Amien sebenarnya
sudah dimulai ketika duanya memimpin ormas. Amien Rais selaku
pemimpin Muhammadiyah masuk ICMI sedangkan Gus Dur sebagai pemimpin
NU menolak keberadaan ICMI yang dinilainya sektarian. Tetapi yang
paling penting, menurut seorang tokoh Petisi 50, kalangan Poros
Tengah sebenarnya berharap dengan naiknya Gus Dur ke kursi
kepresidenan, maka Gus Dur dapat menempatkan banyak menteri dari
Poros Tengah. Kalau bisa begitu maka dengan sendirinya tujuan
ideologis mereka tercapai.


---------------------------------------------------------------------
Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
---------------------------------------------------------------------


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke