----- Original Message ----- From: "mBin" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, February 21, 2001 1:21 PM Subject: Re: [indonesia_damai] siapa membubarkan dpr ? judul subyeknya sebenarnya bisa dihaluskan: siapa mengawasi dpr ? terusannya silahken lihat di bawah......:-p ---------------------------------------------- mBin dan Cak Gigih, membaca posting-2 sampeyan dan para penanggapnya, dan... dengan mendengar informasi-2 belakangan ini kok lama- lama aku jadi punya cita-cita luhur ya mBin. Cita-cita ini boleh dihubungkan dengan pengawasan DPR, kritik pada pemerintah, tuntutan lain-lain yang pantas lah. Bahkan tuntutan mundur ke semua pemimpin dan super hero-super hero kita lho mBin. Yang penting ini cita-cita (yang jelas tak mungkin tercapai) untuk membebaskan rakyat, terutama petani padi, agar bebas sama sekali dari kuwajiban-kuwajiban para penyelenggara negara, parlimun end kabinut.... pokoknya yang akhir-akhir ini justru memper-kecut cita rasa rakyat. Jadi ini boleh disebut beraliran kanan, kiri, tengah, atas, bawah.. terserah. Ini aliran serba arah, segala penjuru cita-cita aneh ku ini. mBin, kayak yang kemarin tak tulis di arek-suroboyo-nya Cak Gigih, temen sampeyan itu, Lek Siswono yang ketua HKTI memprediksikan dan menghitung berdasarkan data resmi yang dapat dia akses (mantan menteri lho mBin, apa perlu dicurigai keabsahan datanya?), negeri ini punya stock beras impor 6 juta ton mBin. Kemudian kebutuhan beras rakyat yang konon 200 juta lebih itu cumak sekitar 2.000.000.000 kg (2 juta ton) setahun. Jadi secara teoritis, seandainya petani brenti tanam padi dan negara tak beli beras dari negeri-2 yang baik hati, peduli pada kelaparan Indonesia (termasuk IMF atau CGI lah), niscaya rakyat yang 200.000.000 itu masih aman. Mungkin ini pula yang mempegaruhi YTH para parlimun and kabinut negeri ini abai terhadap rakyat. Gurem ceceker mongso digape mBin? Kirik njenggong mongso medeni, Cak? Meski para gurem dan kirik itu mulai bikin bakar-2an, ngrubuhken pepu'unan... Olehnya itu mBin, otak-ku yang mencoba ngin-telek ini jadi muter itung-itung dhewek. Lha iya, pemerintah menentukan harga beras rata-rata Rp 2200, naiknya jadi Rp 2.500 kok ndak mampu beli terjemahan harga gabahnya yang 1500 itu dengan pas? Kalau cuma beras 2000.000.000 kg itu kan cumak perlu duit 2.000.000.000 x 2.500 = 5.000.000.000.000 atau 5 trilyun rupiah. Lha kok dulu KUT itu bisa turunnya mencapai 8.4 trilyun lho mBin, Cak Gigih? Apalagi tokoh nya telah cuci tangan seperti yang diberitakan Kompas tadi pagi.. :-{}] Terus kemarin-2 ada rencana dana Ketahanan Pangan kok mencapai 6.6 trilyun rupiah, lho itu yang 1.6 trilyun rupiah jadi SLILIDNYA syappaaa? Sebelum aku cerita cita-cita ku tadi lebih jauh, mBin dan Cak Gigih, aku kok jadi seneng itung-itungan barang nyata gini ini.... Maka yuk kita sebentar rehat dari rembugan pulitik nan menggelitik. Kita muhun dengan hurmat pada Bung Martin yang mahasiswa ekonomi, para jawara pengamat ekonomi, kepada Bang AS, Pak SS, FF, MYP, TI, Aswat, WAM, Baabad, Hidajat Sjarif, Indra Piliang, Johan Yamin, mBakyu Jajang C. Noer yang seneng nginggris, mBakyu Prameshi, Wong deso, Sunda, Mas Sidik, Swarajiwa, EHRP dll untuk mencermati yang nyata-nyata gini ini. Terutama pada Bang WW, siapa tahu sekarang JUBIR bisa menjadi JUmBIS (juru mbisik-bisik...:-))) untuk bantu-bantu itung-itungan semelekethe gini. Tak lupa dengan temen-temen mu di kota-bogor itu lho mBin, yang juga sibuk mau bikin City Forum Kota..(^_^) Jadi sebetulnya dengan menyediakan dana 5 trilyun lebih dikit untuk ongkos angkut lokal, mustinya BULOG dan DOLOG-2 nya itu mampu lho mBin untuk beli semua hasil panen petani dengan harga PAS. Bahkan lebih, wong yang diborong itu GABAH KERING GILING. Lha kan malah untung, wong penggilingannya bisa di kontrakkan ke orang lain, kemudian BULOG itu bisa menjualnya menjadi rata-rata 2.200 sekilo. Apalagi kemarin juga diungkap untuk beras India yang mengenakan bea masuk beras impor sampai 65%. Di negerinya, beras lokal dibantu-bantu agar petani dapat menikmati hasilnya dengan harga kira-kira Rp 4.500/kg, tetapi pemerintah India ngejual ke Indonesia cumak Rp 1400,-.. lho itu kalau pengimpor menyamakan harganya dengan nilai beras bulog yang Rp 2200, lak sudah untung besar.... Soal bea masuk yang (berapa persen mBin?) segitu itu kan bisa dituker dengan sogokan seperlunya di pintu gerbang pelabuhan? Dus, mBin, Cak Gigih, aku kini punya cita-cita. Jadi koruptor saja lah. Tak banyak-banyak cukup senilai 10% dari dana BLBI lah.... atau paling tidak terkumpul duit panas 7 trilyun. 6.2 trilyun akan aku bikin borong semua gabah kering giling petani harga PAS. kemudian gabah-2 itu aku buang ke nJipun sana yang harganya kira-kira sekilo paling rendah Rp 8.000,- Kalau ndak laku ya lewat bendera Thailand to, aku jual dulu ke Thailand seharga 5000/kg wong pedagang sana juga masih gampang ndhredheg kalau dapat dollar.. tak iya? Sisa yang setengah trilyun lebih aku bikin borong benih padi saja, terus tak buang ke laut dalam. Toh petani sudah punya duit buat beli beras BULOG, dan setahun - 3 tahun dapat istirahat ndak nanam padi, tapi nanam UBI JALAR atau SINGKONG, sekedar jaga-jaga kalau BULOG ngamuk. Atau nanam tebu sekalian, buat bikin gula BATHOK yang dijual murah ke rakyat lainnya, agar GULA IMPOR juga mendem, kagak laku.... hehehe.. Apa bisa cita-cita itu terwujud? dalam rangka membebaskan rakyat dari parlimun and kabinut sama sekali untuk sementara waktu hingga 2004. Saat pemilu sistem baru tiba.... dengan gizi dan makanan terjamin, siapa tahu rakyat mulai pinter untuk MOGOK ndak mau milih.... kapok mu kapan? Kan dengan demikian aku akan jadi HERO baru, berjuang dengan BERAS impor... heheheheheee... Lebih ngetop dibanding 4 selawan sekarang ini. salam mBin, Cak.... lagi ngelamun tenan aku... Ki Denggleng Pagelaran -------------------------- apa bedane uwong ambek manungsa? ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............ Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri Bergabung: [EMAIL PROTECTED] Keluar: [EMAIL PROTECTED] ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--

Kirim email ke