cerita anda mengenai TNI/Polri dan Golkar,
dan PDIP itu memang sewajar-wajarnya cerita.
Memang begitulah adanya.
Apalagi yang perlu ditukar pikirkan?
Tapi kembali ke pengelompokan anda,
saya jadi setuju deh sama bung Imron Zen,
perlu ada kelompok ke lima.
Kelompok yang (sudah) tidak perduli.
Entah karena jenuh,
kapok,
sudah terlalu mapan hingga tak mungkin terpengaruh,
atau sekedar putus asa.
Bagi saya, masyarakat awam yang masuk dalam kelompok2x anda itu,
1 s/d 3, dan 4 krn sekedar tidak fit ke 1 s/d 3,
sama nggak mutunya dengan elit yang membiarkan (atau malah mendisain),
pengelompokan itu terjadi.
kita ini, kaya' manusia pra sejarah,
yang ditransfer mendadak kemasa kini.
gumunan ...!
Idb
(sudah mirip bung mBin belum, gaya nulisnya ...?)
-----Original Message-----
From: eg [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, February 22, 2001 9:28 PM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: [Kuli Tinta] Senggolan Berita 210201
----- Original Message -----
From: Idb <[EMAIL PROTECTED]>
Cuma agak heran, kok TNI/Polri, PDIP, Golkar,
bisa masuk kelompok ini.
Idb
=========================
Persepsi individu terbentuk lewat perilaku yang
diobservasi.
Kita perhatikan saja ucapan dan perilaku para
petinggi militer seperti Kasad, Kaster di berbagai
media, pandangan fraksi TNI/Polri di SP DPR, dan
wawancara hari Sabarno di Liputan 6. Saya
menangkap ada ''sesuatu'' dalam tubuh mereka dalam
menentukan posisinya diantara 3 kelompok pertama.
Mungkin saja beban berat mengawal bangsa dan
negara sesuai dengan konstitusi terlalu berat bagi
mereka setelah selama 32 tahun mereka terbiasa
''baca:memiliki budaya'' menjadi pengawal
pemerintah dengan segala eksesnya. Dan, kini harus
berbalik luar biasa dan dengan segala eksenya
pula, yaitu kembali ke jati dirinya seperti yang
tertera dalam Sapta Marga dan Sumpah Prajurit.
namun, mungkin juga karena beban berat yang harus
ditanggung berkenaan dengan keterlibatan TNI/AD
dalam pemerintahan Orba. Siapa yang bisa menghapus
kesan bahwa pilar A-B-G yang menjadi penyangga
stabilitas politik itu berarti A = TNI/AD? Apakah
mungkin menghapus fakta sejarah bahwa seorang
jendral angkatan darat bersedia diperintah oleh
Ketua umum Golkar dan bahkan membungkus seragam
militernya dengan jaket Golkar dan disiarkan
secara luas ke seluruh indonesia? Bukankah itu
berarti TNI/AD sudah melangar jati dirinya? Buah
simalakama bukan?
Menjelang Pemilu, PDIP menjadi tumpuan bagi mereka
yang menghendaki pembaruan. Namun pada saat yang
sama, menurut istilah MW, meja makan itu tidak
lagi memadai untuk makan bersama seperti dulu.
Sayangnya, yang di meja makan itu bukan lagi
mereka yang dulu ikut merasakan pahit getirnya PDI
(sebelum P) sejak kasus kongres Surabaya yang
mulai mencuatkan MW. Sebagai akibatnya sekarang
kita bisa melihat bagaimana Anung Pramono tadi
sore cengengesan mengatakan bahwa PDIP bisa
berkoalisi dengan siapa saja bahkan dengan mereka
yang dulu jelas2 menganiaya mereka atau menghambat
proses pencalonan MW ke Presiden dan juga tanpa
mempedulikan mereka dulu yang telah berkorban
(bahkan dengan nyawa) untuk sebuah idealisme yang
mereka perjuangkan. Singkat kata, idelisme itu
mulai buram dan MW menjadi single fighter. Lihat
saja, setelah MW mengatakan bahwa PDIP tidak
mendukung SI maka anggota yang tadinya bersuara
atau telah membubuhkan tanda tangan jadi
mengekeret. Saya melihat bahwa MW adalah
satu-satunya tali pengikat di PDIP. Sepeninggal
MW, PDIP akan mengalami friksi dari para
anggotanya dan saya tdak yakin kalau PDIP bisa
mendulang kesuksesan seperti pada Pemilu 1999.
Kinipun, PDIP sedang terbius oleh tujuan semu
untuk mendudukkan MW ke kursi Presiden. Jadi,
mereka tidak bisa masuk ke kelompok 1 karena MW
sebagai Presiden adalah tujuan akhirnya.
Golkar saat ini secara politis hanya bertahan
untuk hidup terlebih-lebih setelah tekanan yang
bertubi-tubi melalui pengungkapan kasus-kasus KKN
dan demo yang marak diberbagai daerah. Oleh karena
itu, kemana angin bertiup disanalah mereka akan
berada. Itulah sebabnya, kecaman terhadap
pengrusakan fasilitas Golkar diberbagai daerah
yang dilakukan oleh non Golkar ibarat menjadi
udara pegunungan sejuk yang berhembus ditengah
udara panas disekeliling GOLKAR. Di Yogya saya
melihat pemandangan aneh, yaitu bendera Golkar
diarak bersama dengan berdera PAN, PBB, dan PPP
dalam sebuah demo yang menuntut pengunduran diri
Presiden Abdulrahman Wahid. Namun di sisi yang
lain, Golkar mengAmini MW yang menolak SI sebagai
tanggapannya terhadap keinginan AR, namun
malu-malu untuk mengatakan bahwa seandainya MW
naik menjadi Presiden mereka tidak menolak.
Bukankah dulu AT pernah ditanya oleh MW perihal
siapa yang bakal menjadi Wakil Presiden seandaina
MW naik? Jadi, kelihatan sekali bahwa Golkar tidak
bisa masuk dalam kelompok 1 atau 2, atau bahkan 3.
Demikian Bung IDP penjelasan saya. Senang kalau
bisa bertukar pikiran.
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--