Tulisan Pak Ibrahim Isa ini bagus buat direnungkan, bila
ingin mendukung MW menjadi presiden.
Seperti saya juga pernah katakan bahwa dengan pernyataan
Poros Tengik pimpinan Amin Rasis yang mendukung MW sebagai
presiden wanita menunjukkan betapa mereka telah "menjilat
ludah sendiri". Ini adalah suatu contoh perilaku yang culas
dan amoral, mencapai tujuan dengan menghalalkan segala
cara, dan saya yakin bahwa hal semacam ini akan berulang
terus, karena memang sudah tabiat. Jadi walaupun sudah ada
jaminan ataupun yang namanya sumpah (betapa nekadnya!)
jangan harapkan MW akan duduk tenang seandainya nanti
benar-benar menjadi presiden, karena bagi mereka halal dan
haram itu hanya sekedar dilidah yang suatu saat bisa
berubah mendadak sesuai dengan selera sang perut.
Wassalam,
*******
Kolom IBRAHIM ISA
---------------------------
5 Maret 2001
Ditulis a.l. sehubungan dengan Hari Wanita
Internasional, 8 Maret
BAGAIMANA ISU GENDER DIJADIKAN ALAT POLITIK
Sudah sejak Megawati Sukarnoputri menunjukkan
perhatiannya terhadap dunia politik Indonesia, sejak
itu mulai diisukan di dalam masyarakat, apakah sebagai
wanita dan lebih-lebih sebagai ibu rumahtangga,
Megawati yang sebelumnya tidak punya pengalaman
politik apapun, apa punya tempat yang layak dalam
kehidupan politik Indonesia?
Para politisi yang menggunakan dan mempolitisasi isu
gender untuk kepentingan seketika dari golongannya
yang sempit, samasekali tidak punya hati nurani dan
pengertian mengenai kaum perempuan sebagai insan dan
warga dunia yang juga punya hak azasi sebagai seperti
dinyatakan dalam �The Universal Declaration of Human
Rights�.
Tentu, sejak semula isu itu mengandung dua motif.
Satu, motif politik, sesungguhnya ini yang lebih
penting, tetapi kita sisihkan sementara , untuk nanti
dimasuki belakangan. Satu lagi, menyangkut isu wanita
dari pandangan tradisionil ataupun dari pandangan
religi. Yang dipersoalkan, apakah wanita itu
samasederajat dengan laki-laki? Lebih jauh lagi, ada
pandangan bahwa
perempuan itu, sebagai mahluk Tuhan, kedudukannya
adalah sebagai pendamping laki-laki semata. Sangat
ditekankan keharusan perempuan itu mengabdi dan
setia pada suaminya. Sedangkan sang suami, kapan saja
ia berkenan, bolehlah tambah istri satu lagi, atau
malah sampai tiga lagi, disamping �istri tuanya�. Dari
pandangan feodal di Indonesia dan di Timur Tengah
misalnya, sang sultan, raja, syekh dan keluarganya
yang laki-laki dan penguasa feodal, asal saja mampu
membiayainya, bisa saja punya sebanyak mungkin selir
atau �harem� menurut selera yang bersangkutan.. Hal
itu dianggap �wajar-wajar� dan �boleh-boleh� saja.
Karena kedudukan istimewa lak-laki itu, sudah
ditentukan oleh sang pencipta.
Segi yang menyangkut hak-politik:Di dunia
internasional, di Kuwait misalnya, sampai sekarang
perempuan tidak punya hak pilih. Apalagi di
Afganistan yang Talibanis, perempuan itu tidak boleh
bekerja di tempat umum, tidak boleh berpendidikan
tinggi. Di situ keluar rumahpun wanita tidak boleh,
kecuali ditemani seseorang yang adalah �muhrimnya�. Di
Belanda, sebuah partai Kristen gurem, membolehkan
partainya merekrut anggota dan dukungan dari kaum
perempuan, tetapi dengan tegas melarang perempuan
menjabat kedudukan pimpinan dalam partai-nya. Di dunia
masalah hak perempuan sebagai manusia yang sedrajat
dengan laki-laki masih soal besar, juga di
Indonesia masalah itu masih soal besar.
Isu hak ataupun kemampuan perempuan sebagai pemimpin,
dipergunjingkan lagi, ketika Mega menjadi anggota DPR
di zaman Orba, kemudian tambah santer ketika beliau
dipilih menjadi Ketua PDI. Lebih menonjol lagi, pada
saat beliau menunjukkan kebebasannya sebagai insan
politik, yang dalam keadaan tekanan politik Orba
begitu ketat, namun berani berhadap-hadapan dengan
kehendak dan politik mantan presiden Suharto mengenai
hak parpol-parpol yang dizinkannya eksis dan melakukan
kegiatan yang amat terbatas <kecuali GOLKAR tentunya
yang ikut berkuasa dan punya hak-hak istimewa>.
Ketika Mega terang-terangan berkonfrontasi dengan
Suharto, yang masih kukuh kedudukan kekuasaannya saat
itu, saat Mega melawan intrik dan opsus-opsus Suharto
untuk mendongkelnya dari kedudukan ketua umum PDI,
dengan a.l. mengadakan kongres PDI- Suryadi di Medan,
dsb, Mega berani berlawan. Tibalah saat yang paling
krusial, yaitu pada detik Mega menyatakan dirinya
bersedia untuk menggantikan Suharto sebagai presiden,
jika itu yang dikehendaki oleh massa PDI dan rakyat.
Ini berarti konflik sudah mencapai titik puncak
kemurkaan Orba .Tidak ayal lagi, Orba dan kekuatan
politik pendukungnya seperti GOLKAR dan PPP ketika
itu, mengambil keputusan final untuk melakukan
�perang total� menentang Mega. Yang menjadi sasaran
mereka ialah Mega sebagai politikus yang berani
melawan Orba, dan Mega sebagai perempuan yang dianggap
sudah melewati batas, yang berani melawan
laki-laki.sampai terang-terangan berani tampil untuk
menggantikan Suharto.
Dari perlawanannya terhadap tekanan dan tindakan
anti-demokratis dari rezim Orba, Megawati Sukarnoputri
menunjukkan kepribadiannya sebagai insan politik
yang tidak tunduk terhadap ketidak-adilan. Mega juga
menunjukkan kekonsistennya berpegang pada
prinsip-prinsip perjuangan untuk menegakkan hukum di
negeri kita ini. Beliau menolak cara kekerasan dalam
perjuangan untuk reformasi dan demokrasi. Beliau
berpegang pada etika politik dalam perjuangan politik
yang rumit. Beliau menunjukkan keteguhannya memegang
prinsip bahwa perjuangan politik harus konstitusional.
Ini keykinan beliau. Seperti yang juga diusahakan oleh
Bung Karno, ayah Megawati, untuk mencegah pertumpahan
darah dalam melaksanakan perjuangan politik demi
kesatuan dan keutuhan bangsa. Meskipun, akhirnya Bung
Karno sendiri yang menjadi korban dari prinsip yang
diperjuangkannya itu.
Situasi sekarang ini ialah, sejumlah elite politik
betolak dari kepentingan golongannya sendiri, dengan
Amien Rais sebagai tokoh Poros Tengah, dan Ketua
Umum PAN bersama dengan GOLKAR-nya Akbar Tanjung
sebagai penagcunya, menjilat ludahnya kembali mengenai
isu gender. Menjelang dan selama dilangsungkannya
pemilihan SU-MPR hasil pemilu 7 Juni, 1999,
mereka-mereka itu menolak mati-matian Megawati
menjadi presiden RI. Padahal beliau dicalonkan oleh
PDI-P, sebagai parpol meraih suara terbanyak dalam
pemilu
terbanding dengan parpol lainnya. Segala sesuatu
dimobilisasi, mulai dari masalah pendidikan Megawati,
yang dianggap tidak memadai karena beliau tidak
menyelesaikan studinya di perguruan tinggi bahwa
suamin. Diungkit pula bahwa Taufik Kimas, adalah suami
yang ketiga. Sehingga dengan demikian hendak
menimbulkan kesan bahw Mega punya reputasi bercerai
lebih dari sekali. Suatu cara yang berbau �character
assassination� untuk mendeskreditkan Megawati.
Juga digunakan pelbagai lembaga Islam , misalnya MUI,
Kongres Islam, termasuk pimpinan PPP untuk menelurkan
�fatwa� bahwa menurut ajaran agama, tidak dibenarkan
seorang perempuan untuk menjadi pemimpin negara. Juga
ayat-ayat Kitab Suci dimobilisasi untuk menentang Mega
jadi presiden RI. Apa yang mereka lakukan itu adalah
menyalahgunakan agama untuk kepentingan politik
sekelompok kecil orang yang takut Megawati bisa
terpilih menjadi presiden RI. Mereka khawatir sekali
dengan berkuasanya Mega dan PDI-P, akan melakukan
pembalasan terhadap mereka-mereka yang telah mengambil
prakarsa ataupun ikut ambil bagian dalam mempersekusi
dan melakukan penindasan terhadap Mega dan PDI yang
dipimpinnya.
Sebetulnya tidak usah dipertanyakan mengapa
mereka-mereka itu menjilat ludahnya kembali, dengan
beriba-iba menggiur Wakil Presiden Megawati untuk
menggantikan Presiden Abdurrahman Wahid, pada ketika
masa jabatannya belum selesai. Tidak usah
dipertanyakan lagi, apa dan mengapanya mereka kali ini
membanting setir sedemikian rupa, karena hal itu sudah
jelas, bila dengan baik-baik mengingat kembali manuver
dan ulah para elite politik yang sama itu juga, ketika
mereka habis-habisan menjegal Mega jangan sampai
terpilih
sebagai presiden RI. Dan mereka berhasil. Ketika itu
merasa diringan sungguh genius, bisa begitu saja
�mencomot� tokoh Gus Dur, untuk dikonfronrasikan
terhadap Megawati. Tetapi mereka meleset. Ternyata
tokoh yang mereka �comot� ketika itu, Gus Dur,
bukanlah Gus Dur yang mereka perkirakan, sebagai
tokoh
yang sakit-sakitan dan yang gampang �disetir� dari
belakang maupun dari samping, yang bisa dikomando dan
ditekan menurut kehendak mereka. Ternyata mereka juga
tidak sepenuhnya berhasil menjegal Megawati. Ternyata
Mega tokh menunjukkan dirinya seorang tokoh yang
berpandangan jauh dan berlapang dada, sehingga
meskipun partainya meraih suara terbanyak sebagai
parpol dalam
pemilu, namun bersedia untuk dicalonkan sebagai wakil
presiden , untuk bersama Gus Dur mengambil
tanggungjawab haluan negara dari mantan presiden
B.J. Habiebie.
Mereka berdua, Megawati dan Gus Dur, tampak sepakat
untuk menyelamatkan dan meneruskan gerakan reformasi,
mengatasi dan mengakhiri revalitas dan
ganjalan-ganjalan di antara mereka, demi usaha yang
lebih besar, yaitu usaha demokrasi, kesatuan dan
persatuan bangsa.
Pada saat kaum elite politik yang sudah kebelet
berkuasa, menggencarkan manuver dan kasak-kusuk mereka
untuk memecah antara presiden dan wakil presiden,
menggulingkan yang satu dan menaikkan yang lainnya,
saat itu adalah saat dimana gerakan dan usaha
reformasi dan demokratisasi dihadapkan pada bahaya
akan mengalami kerugian besar. Bisa-bisa gerakan
reformasi itu akan mandek, dan kehidupan politik
nasional akan memasuki saat-saat yang krusial. Harus
dicamkam betul, bila pada suatu saat kelak mereka
kehendaki, para elite tsb akan mengangkat lagi
�senjata gender� untuk menekan adan akhirnya
menggulingkan Megawati. Siapapun masih jelas bahwa
segala keputusan dan fatwa mereka-mereka itu bahwa
perempuan tidak bisa memimpin negara, masih belum
dicabut.
Justru dalam keadaan yang krusial inilah, pengertian,
kerjasama dan persatuan antara Gus Dur sebagai
presiden dan tokoh dari suatu lembaga Islam terbesar
seperti NU, dengan Megawati sebagai wakil presiden,
serta sebagai
pimpinan utama suatu parta politik yang seyogianya
meneruskan ide-ide patriotik dan kemarhaenan seperti
yang selalu diajarkan oleh Bung Karno, dibina kembali
dan diperkokoh lebih lanjut. Khususnya Megawati yang
selama ini selalu menunjukkan konsistensinya untuk
membela Konstitusi, karena beliau sekarang ini adalah
sasaran kaum elite politik yang hendak merusak
usaha reformasi.
Sangat diharapkan bahwa Gus Dur menempuh kebijaksanaan
serta mengambil langkah-langkah politik yang kongkrit
di pelbagai bidang, dalam rangka mengeratkan dan
melancarkan kerjasama dan saling pengertian antara
presiden dengan wakil presiden, memperbesar
tanggungjawab masing-masing dalam usaha mengatasi
situasi seperti sekarang ini.
Alangkah rendahnya kegiatan-kegiatan serta manuver
politik mereka-mereka itu ketika menggunakan masalah
gender, merendahkan dan menghina begitu kejinya
salah seorang tokoh politik perempuan seperti
Megawati. Alangkah memalukannya mereka-mereka itu yang
sekarang ini, pada saat kepentingan politik golongan
yang sempit itu mencuat kepermukaan, berbalik seratus
delapan puluh derajat, melakukan rayuan dan
janji-janji politik yang tidak ada harganya dan tidak
bisa dipercaya samasekali, untuk mendorong Megawati
agar jatuh ke perangkap mereka menentang dan iktu
menjatuhkan Gus Dur.
Tertumpang harapan kita pada Megawati, agar beliau
bisa menunjukkan di hadapan bangsa dan negeri yang
kita cintai, bahwa beliau adalah benar-benar seorang
tokoh politik dan tokoh perempuan yang konsisten
berpegang pada prinsip yang adil dan benar. Bahwa
beliau tidak lupa pada politik dan prinsip yang selalu
diperjuangkan oleh Bung Karno, ayah beliau, yaitu
prinsip memelihara dengan sekuat tenaga persatuan dan
kesatuan bangsa dan
tanah air.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get email at your own domain with Yahoo! Mail.
http://personal.mail.yahoo.com/
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--