Sambungan ke II
Mbak Sipon, Penantian Seorang istri II
(Kompas, Sabtu 10 Maret 2001)

    PADA awal-awal pertemuannya dengan Wiji Thukul, Sipon
mengira bahwa calon suaminya adalah seorang yang suka menulis
puisi. Dulu ia sering membatin tentang wiji thukul, wong buruh kuk
temannya banyak yang seniman. Ketika sudah menjadi istrinya, ia
sering membaca tulisan-tulisan suaminya  dan kadang
mengomentarinya (tentang sajak Wiji Thukul yang berjudul Balada
Pak Bejo, misalnya), "Kamu ini nulis-nulis tentang Pak Bejo begitu,
nanti kalau orangnya ngak senang, bagaimana?" Tanggapan
suaminya waktu itu: "Eh. Wong malah orangnya senang kok aku nulis
begitu."
    Sebagai penyair, Wiji Thukul pernah mendapat penghargaan dari
Belanda, Wertheim Encourage Awar pada tahun 1991. Sayangnya,
waktu itu Sipon mau melahirkan anaknya yang pertama, dan karena
itu Thukul menolak berangkat ke Belanda untuk menerima
penghargaan tersebut. Dan sertefikat penghargaannya dari Belanda
itu pun tak pernah sampai ke tangannya sampai sekarang.
    Sipon mengerti betul apa yang di tulis suaminya dalam sajak-
sajaknya. Menurut dia apa yang ditulis suaminya adalah apa yang
betul-betul terjadi di lingkungannya, jadi dia tidak mengerti apa salah
dari sajak-sajak suaminya sampai ia begitu banyak mendapat
kesulitan dalam hidupnya? Keterlibatan Thukul dengan PRD boleh
jadi memang penyebab kesulitan hidupnya pada tahun-tahun
kekuasaan Orde Baru itu. Namun, di zaman Reformasi ini pun Sipon
masih juga terbelit kesulitan tak bisa (atau belum bisa) menemukan
kembali suaminya.

    ANAKk-anak di sekitar rumahnya rata-rata mendendangkan lagu ini: Aku ini
anak Kalangan/kalau hujan kebanjiran/kiri-kanan  kelabakan/sibuk cari
pengungsian/beras mahal gula mahal/kerja keras gaji tetap/coba terka aku ini
siapa/aku anak Indonesia/Indonesia kaya raya/mengapa aku menderita/tetapi
aku tetap gembira/karena Indonesia merdeka//.
    Lagu itu diciptakan Wiji thukul untuk anak-anak tetangga yang
"dolan dan bermain-main" ke sanggarnya. Sanggar itu dinamakan
Sanggar Suka banjir karena memang terletak di kampung yang
sering kebanjiran. Meski Wiji Thukul tak lagi pernah hadir di tengah
mereka, sanggar tersebut masih jalan di tangan Sipon. Berdesakan
dengan kursi-kursi, televisi dan mesin jahit, di pojok ruang tamunya
yang sederhana ada sederet rak buku-buku cerita anak-anak yang
kebanyakan telah tampak lusuh. Di dekat rak buku, di dinding papan
kayu itu tertulis "Budayakan Membaca".
    Kapan saja anaka-anak tetangga bisa datang untuk membaca dan
bergeletakan disitu. Pada setiap hari Minggu mereka datang
kerumah itu, dan Sipon sendiri yang menemani anak-anak tetangga
itu untuk menggambar atau membaca bersama. Semua ini Sipon
lakukan untuk memanfaatkan tinggalan buku-buku dan semangat
suaminya  dan tentu semangat Sipon sendiri supaya tetap bisa
menyumbangkan sesuatu yang berguna bagi anak-anak
dilingkungannya.
    "Daripada  mereka kebablasan nonton televisi," katanya. Dan lebih
dari itu, buat menambah koleksi buku-bukunya, ia sering
berboncengan dengan Fajar anaknya yang kedua, bersepeda ke
kios-kios buku loakan di Alun-alun Utara Surakarta membeli buku-
buku bekas. Dengan terkekeh Sipon mengaku supaya bisa
mendapatkan harga semurah mungkin ia sering berbohong kepada
penjual buku loakan itu bahwa dia adalah seorang penjual gorengan
dan perlu kertas untuk pembungkus dagangannya.
    Sipon sendiri adalah penjahit di kampungnya. Sebuah mesin jahit
yang mengonggok di ruang tamunya, adalah tonggak kehidupannya
buat mengongkosi kebutuhan sehari-hari. Tanpa itu dan
kepintarannya menjahit, barangkali ia tak banyak berharap bisa
mengongkosi hidup keluarganya dan menyisihkan sedikit dari
pendapatannya yang terbatas itu untuk mampu pergi ke kios-kios
buku loakan dan membeli buku-buku bekas supaya bisa dibaca oleh
du anaknya dan juga oleh anak-anak tetangganya.

(Tinuk R Yampolsky, pekerja seni)


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<-- 
















Kirim email ke