Dulu sewaktu sekolah favorit, SDK II Klaten, aku punya 
teman keturunan bernama Paing Hong Kong (jelas nama 
samaran dong!). Anaknya tinggi dibanding teman-temannya, 
karena termasuk anak yang bandel. Teman-temannya seumur
telah kelas 4, sementara dia masih setia keluar-masuk kelas 2.

Suatu kali dia pinjam penggaris kayu-jati ku. Teman sebelah,
memperingatkan-ku, "Kit... ojok oleh.. rak mbalik engko!"
(Kit jangan berikan, tidak kembali nanti). Rupanya teman
sebelah ini merasa iri, kenapa Paing Hong Kong memilih
pinjam penggarisku, aku yang anak nDeso. Sementara 
teman sebelah ini adalah juga keturunan, bernama Liem
Sun Ho (juga nama samaran lagi, jelas!), yang secara
ekonomi jauh di bawah Hong Kong. Ternyata ada rahasia
lagi, bahwa Si Paing ini punya kebiasaan yang sangat
royal kepada teman-temannya yang mau dipinjami apa pun.
Apalagi membantunya mengerjakan PR. Memang dia
"nul-puthul" bener dalam hitung-menghitung, apa lagi
tulis menulis. Kesenangannya hanya satu yaitu Menggambar.
Maka dia pinjam penggaris. Lebih sial lagi, Kata-kata
Liem tadi terdengar oleh Hong Kong. 
---------
Esok harinya, kaget aku. Karena di laci bangku ku ada
seplastik "kelereng" dan penggaris kayu-jati ku berada
di situ. Hong Kong telah duduk di belakang sambil
senyum-senyum dan bilang "Suwun ya Kit, kelereng-e
peken kabeh"  (Makasih ya Kit, kelerengnya ambillah
semua). Sayang Si Liem memergoki itu. Maka segera
tersebar kabar bahwa Hong Kong kaya Kelereng, maka
sejak itu aneh, setiap kali selalu saja ada yang menawarkan
jasa baik kepada Hong Kong. Beberapa memang disambut.
Tetapi tetap tidak semujur aku, karena tak mendapat
kelereng.

Hong Kong memang semakin royal kepadaku. Permen dan
kue adalah hadiah harian sejak kejadian peminjaman 
penggaris kayu itu. Sementara aku pun, karena anak
ndeso, ya plonga-plongo saja ketika teman-teman mulai
menganggap ku sebagai "begundal Hong Kong",
"cah jowo melok Cino". Dan aku tak bisa membela diri,
walau sekedar menjelaskan, bahwa perbuatan Hong Kong
itu ya atas kehendaknya sendiri. Lepas dari segala bujukan
atau permintaanku.

Lucu, memang, sejak keroyalan Hong Kong itu, selalu
bila ada ribut-ribut anak sekolah kelas-2, yang menjadi
kambing hitam adalah Hong Kong. Baris tak beres
di upacara bendera, Hong Kong lah biangnya. Anak-anak
telat masuk gereja hari Sabtu, Hong Kong pula provokatornya.
Tapi kalau anak SDK I yang lebih kampungan, ngajak brantem,
teman-teman berlindung di belakang Hong Kong.

Lebih parah lagi ketika aku mengalami bentrok dengan
teman belakang bangku, Hong Kong membelaku. Akhirnya
bukan aku yang kena keroyok, justru anak-anak mengeroyok
Hong Kong. Untung, badan Hong Kong terlalu besar buat
anak-anak sebayaku. Akhirnya lucu-lucu cara anak-anak
mengeroyok Hong Kong di depan kelas menjelang
pada pulang. Ada yang ngawur memutar tangannya sambil
merangsek kaya Yani Hagler melawan petinju "deglog" 
Donny Boy, ada yang menyabetnya dengan tas sekolah,
ada yang mencoba menimpuk dengan buku. Ada yang
tahu-tahu nangis meraung-raung sambil memegangi
kepala... dan ada yang MELUDAHI-nya.

Ah, Paing Hong Kong, sayang sejak kejadian dia dikeroyok
itu, khabarnya pindah ke SD lain. Aku pun pindah sekolah
ke SD Negeri yang lebih ndeso, karena pernah disetrap
gara-gara bangun kesiangan saat ada acara penting di
Gereja.

(tulisan ini muncul ketika tayangan Seputar Indonesia di RCTI
menayangkan ketua MPR menanggapi kesediaan GD bertemu
dengan pimpinan MPR, ditambah dengan pernyataan ketua
DPR tentang hal yang sama. Paing Hong Kong terlintas
di layar TV, mencoba membela keberlangsungan negara!)

nuwun sewu nggih.... xie xie

    Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?



...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
















Kirim email ke