[saya posting kembali, krn lay-outnya amburadul,
tanggapan dibawah mungkin akan mengundang pro-kontra,
namun demi "discourse demokrasi" mohon tidak ditanggapi
dgn emosi lho]
åç wrote:
|Artinya memang benar Orba ingin kembali. Tujuan utamanya bukan
|untuk berkuasa namun lebih kepada jangan sampai apa yang telah
|diperbuat diketahui. Lihat sebagai misal pelurusan sejarah
|Serangan Umum 1 Maret telah dibuka.
Terlihat ada pola lama [artinya cara licik a la ORBA] dipraktekkan lagi.
Kita lihat ciri-ciri black propaganda ORBA atau Statusquo itu:
1. Membuat stigmatisasi. Intinya: "Awas bahaya komunis. Mereka bangkit
lagi" "Siapa saja yang mau membubarkan Golkar = komunis".
2. Menggolongkan siapa lawan siapa kawan. Dan nampaknya yg dimasukkan
sbg kawan: TNI [pro ORBA], Muhammadiyah + NU [dlm rangka mengganyang
PKI]. entu dua golongan terakhir sekedar cari bolo sebanyak-banyaknya.
Yang jelas AT di Solo menyebut terang-terangan 2 organisasi Islam
radikal,yg dipakai sbg bumper, krn terkenal anti PKI. Jelas ke depan
kita akan melihat bhw organisasi-organisasi agama Islam, atau tokoh
-tokoh Islam yg bisa dimanipulasi; akan dimanfaatkan dgn segala cara:
uang, ideologi perlunya berdiri negara Islam dst. Intinya: nabok nyilih
tangan. Sementara TNI/Polri statusquo main dibelakang layar....
dgn prinsip: semakin negeri tidak aman, semakin peluang dwi-fungsi utk
kembali semakin besar.
Dalam kerangka di atas, terlihat ada interaksi saling memanfaatkan
dalam demo BEM kemarin: Golkar + TNI/Polisi + PAN-PK:HMI-KAMMI. Tapi
kelihatannya yg tertawa puas: AT dan TNI/Polri. Sedang AR sekarang
jadi sasaran dan bulan-bulanan.
Sedangkan lawan-lawan yg dianggap paling berbahaya: PRD, Yesuit, Kristen
radikal dan orang-orang yg digolongkan Sosialis, atau bapaknya dulu PKI,
eks Tapol.
3. Menghancurkan kantong-kantong Pro Demokrasi biasanya dgn memakai
tangan-tangan atau kedok Islam Radikal [mungkin ada unsur adu domba
disini]:
* Penghancuran Univ.Atma Jaya, Kantor LMND dan di Yogya kantor Yayasan
Kendi
Saya kira teror ini akan terus dilakukan, termasuk teror-teror lain:
spt pemboman [jembatan kereta Serpong-Tangerang] dst. Jadi benar
observasi Clifforts Geertz ["Waspada, kawan, waspada"] dan Tamara Gola
[makin mengkristalnya kelompok-kelompok berdasar: state nationalism,
religio-radical nationalism, ethno-nationalism].
Apa yang bisa dilakukan para kuli-tinta untuk tidak terjebak dalam
cara-cara licik diatas?
* Pelurusan Sejarah?
* Membuka lembar-lembar pelanggaran sistematis: HAM, Good-governance vs
Mega Korupsi, KKN?
* Mendorong terjadinya Rekonsiliasi? Mengapa cara ini terbaik?
Bagaimana?
* Menjadikan Demokrasi semakin mengakar pada civilian society?
Mohon pencerahannya.
Keblinger atau kebablasenkah tanggapan diatas?
*********************
demokrasi durung sepiro'o, ngowos didisekno :).
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--