Martin,
Ketika menanggapi saran mhs untuk menggeser MD sebagai penasihat
hukum Presiden dan menggeser Lopa ke Kejagung saya melihat point
rasional disana, yaitu justru kehakiman lebih penting karena bakal
percuma saja persoalan dibawa ke pengadilan kalau hakimnya nggak
baik. Say akini bisa mengerti proses dan latar belakang penempatan
BH ke Nusakambangan. Apalagi, sore ini Kejagung sudah menetapkan
Ginanjar sebagai tersangka. Sipa menyusul Martin?
Tetapi, tanggapan dia yang sambil "njegeges' mengatakan "wah...
Marzuki darusman nggak bisa tidur nih..." membuat saya ikutan
njegeges dan berkomentar "gombal..." Kapan lagi kita bisa jegegsan
dengan presiden seperti itu.
Tolong deh..., usulkan beri kesempatan kepada dia untuk bisa
bertemu muka langsung seperti itu dengan berbagai wakil masyarakat
dan disiarkan langsung ke seluruh Indonesia.
----- Original Message -----
From: Martin Manurung <[EMAIL PROTECTED]>
To: Perspektif Mailing List <[EMAIL PROTECTED]>; Kuli Tinta
List <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, March 30, 2001 12:37 AM
Subject: [Kuli Tinta] Sayang dipotong oleh SCTV
Saya baru pulang dari Hotel Borobudur tempat berlangsungnya Dialog
NGO-Presiden Wahid. Kebetulan dapat jatah undangan lebih dari
Yayasan Gandi
(Gerakan Perjuangan Anti Diskriminasi). Dalam acara yang saya
saksikan
langsung, sebenarnya Gus Dur tidak hanya mengomentari perihal
politik
sehari-hari, khususnya dalam konteks Memorandum, Presiden dan DPR.
Gus Dur
juga memberikan penekanan-penekanan pada upayanya mengikis
paternalisme dan
birokrasi istana, agar presiden lebih dekat dengan rakyatnya. Dia
juga
mengkritik aturan-aturan protokol, "Protokol itu ada untuk
melayani kita,
bukan kita yang melayani protokol", kata Gus Dur. Menurutnya
protokol itu
memperlebar jarak Presiden dan rakyat. Dia juga mengomentari
bagaimana
konsistensi untuk mempertahankan demokrasi, walaupun dalam
kebebasan
berbicara saat ini, Gus Dur menjadi sasaran tembak, "Sebenarnya,
bisa saja
saya katakan: Stop Kebebasan Berbicara! Tetapi, itu tidak saya
lakukan, demi
demokrasi".
Gus Dur juga mempertegas pemberian batas waktu satu bulan bagi
Marzuki
Darusman untuk menuntaskan kasus KKN yang sudah berlarut-larut
tidak dapat
dituntaskan. Hal itu, seakan memberikan klarifikasi perihal
kontroversi
antara Juru Bicara Kepresidenan Wimar Witoelar dengan Jaksa Agung
Marzuki
Darusman perihal pemberian batas waktu tersebut. Dengan penjelasan
tersebut,
berarti terbukti secara langsung bahwa apa yang disampaikan Jubir
Kepresidenan adalah benar adanya. Bahkan Gus Dur juga mengeluhkan
betapa
sulitnya mengatur Jaksa Agung yang ditunjuk karena hasil politik
dagang
sapi, "Ya.., namanya juga hasil dagang sapi!", katanya. "Tetapi,
kita lihat
sampai akhir bulan ini, apakah ada perkembangan atau tidak",
sambung Gus
Dur.
Sayang sekali, ketika Gus Dur memberikan penjelasan perihal
hal-hal mendasar
tentang demokrasi dan debirokratisasi Istana Kepresidenan, justru
dipotong
oleh SCTV. Pada tayangannya, SCTV hanya menyiarkan
perkatan-perkataan
seputar kontroversi Presiden dan DPR, seakan-akan hanya untuk
memanas-manasi
kontroversi tersebut.
____________________________________________
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
Faculty of Economics, University of Indonesia.
My religion is very simple,
my religion is kindness
-- Dalai Lama
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan
Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan
sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini,
http://www.indokado.com<--
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--