Wa'alaikum salaam wa rahmah...
Gus Ipul, maaf kalau saya terlanjur mengungkapkan
kemarahan.
Tanpa mengecilkan Syaikh Ahmad Yasin sebagai salah
seorang pemimpin bangsa Palestina, saya mencoba memahami
perbedaan perlakuan thd. GD dan aktifitas dari dalam pada
diri Syaikh. Justru di sinilah letak bedanya. Syaikh berjuang
dalam rangka "melawan" Zionis atas panggilan rasa kebangsaannya.
Sementara GD pada waktu itu sudah jelas-2 diketahui
sepak terjangnya dan tingkah-laku perpolitikannya, ditambah
lagi dengan kelemahan fisik baik pada dirinya dan (tak boleh
dilupakan) pada diri isterinya yang lumpuh, kemudian ditambah
lagi GD baru sembuh dari penyakit yang cukup fatal yaitu
STROKE. Kemudian GD juga bukan wakil dari partai, melainkan
utusan golongan. Partai buatannya sendiripun pada awalnya
tidak mendukung. (atau saya salah mendengar dan mengamati?).
Nah dengan segala kelemahan dan hambatan yang kemungkinan
besar akan menjadi masalah besar bagi kewibawaan dan
kemampuan manajerial kehidupan bangsa yang cukup besar
ini, kenapa tega-teganya PorTeng mempromotorinya
sebagai Presiden. Itu saja pertimbangan saya.
Maka saya merasa wajar ketika itu melontarkan kecurigaan
dengan pengangkatan GD sebagai presiden itu dengan adanya
maksud-maksud terselubung dari para PROMOTOR-nya. Bukti
telah banyak berseliweran. Seperti yang dikemukakan oleh
Sobary dan pernyataan-2 sambil lalu dari GD sendiri mengapa
dulu dia mau jadi presiden.
Sedikit tamsil atau amsal yang menjadi pedoman saya
adalah cerita epos Mahabharata pada episode Destarastra
Winisuda. Destarastra pangeran buta yang kakak Pandu,
sebenarnya telah menerima nasibnya dengan diberi isteri
Gendari yang diikuti oleh adik iparnya Sangkuni. Menerima
nasib menjadi Adipati Gajahoya, Kota Lama Hastina. Dia juga
sangat sayang pada adiknya, sehingga ketika adiknya punya
masalah dalam "berketurunan" serta ingin menebus dosanya
itu, dia bersedia dimahkotai, dalam rangka menunggu kelak
anak-anak Pandu (kalau memperoleh ampunan) yang akan
mewarisi tahta. Jadi Destarastra terpaksa mau menjadi raja
adalah demi wangsa dan keutuhan Hastina, dengan dukungan
penuh dari Panglima Bhisma, Perdana Menteri Widura, dan
lain-lain tokoh Hastina, karena dia yakin akan kelemahan
kebutaan matanya.
Pandawa lahir sebagai putera-2 pujaan para dewa yang diakukan
menjadi anak-anak Pandu. Destarastra gembira dan menyayangi
keponakan-2nya. Sementara itu secara simbolik (yang ini
versi Jawa), pangeran Jakapitana diangkat menjadi putra mahkota
oleh Pandu dengan gelar Kurupati. Kurupati disepakati akan
mewarisi hak ayahnya di Kadipaten Gajahoya.
Tetapi apa skenario dari isteri dan adik iparnya? Ya mereka
berdualah yang mendorong agar Destarastra mau jadi raja.
Dengan alasan, Panglima Bhisma yang notabene adalah
pemilik dan penghulu Wangsa Bharata, terlanjur bersumpah
tidak akan menjadi raja. Jadi satu-satunya jalan ya Destarastra,
karena adiknya (Widura) adalah bukan anak raja dari
permaisuri Hastina yang dua orang, melainkan dari SELIR.
Yang jelas, Gendari dan Sangkuni memang memendam dendam
kepada keluarga Pandu. Gendari kecewa (versi Jawa lagi) tidak
jadi isteri Pandu, malah diserahkan dalam sayembara pilih kepada
Destarastra yang buta. Sangkuni dendam karena gagal merebut
Kunthi dari Pandu, bahkan harus mengabdi kepada raja muda
Hastina itu. Maka dengan modal itu Gendari memuja dewanya
agar memperoleh 100 anak. Sangkuni dengan akal-akalnya yang
licin dan provokatif berhasil menyingkirkan:
1. Patih Gandamana kembali ke negaranya dengan penuh dendam.
2. Panglima Bhisma menjadi pendeta di Talkandha
3. Yama Widura menyingkir ke Panggombaan menemani kakak
iparnya Kunthi, yang telah kehilangan suami dan harus mengasuh
5 anak pujaannya kepada dewa.
Nah dengan kondisi butanya Destarastra dan berbagai intrik
Sangkuni, berkuasalah Kurupati di istana Hastina dengan membuat
berita akan terbakarnya pesanggrahan Pandawa di Waranawata.
Cerita epos Mahabharata yang dipercaya ditulis jauh sebelum
agama-agama timur-tengah memasuki Nusantara. Epos yang
banyak dibumbui dengan logika dan budaya Jawa telah menjadi
pakem pagelaran wayang, yang saya meyakini banyak memberikan
amsal-amsal bermanfaat dalam memandang setiap kejadian
fenomental kehidupan berbangsa dan bernegara dengan lebih
jernih dan sejuk.
Satu catatan buat intrik Sangkuniisme adalah, dia menciptakan
kekisruhan yang sulit dilihat langsung oleh rajanya yang buta,
kemudian berperan penting menjadi "pahlawan". Saya khawatir
cara-cara begini ini sedang melanda pula negeri ini. Atau ada
amsal lain yang bisa lebih pas untuk kondisi multi-krisis Indonesia
sekarang?
wassalamu'alaikum wa rahmah...
Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?
----- Original Message -----
From: "Gus Saiful" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, March 31, 2001 12:22 AM
Subject: Re: (Forum 35) Dokter Ahli Menilai Gus Dur Tak Layak / Syaikh Ahmad Yassin
Juga Buta, tapi....lain
Assalamu 'alaikum..
Jangan marah dulu Ki...Itu semua sudah menjadi takdir. Semua pihak kan sudah
berusaha sebaik mungkin.
Mengenai hasil pemilu, saya bukan termasuk orang yang mengatakan kalau pilih
si A maka menyuarakan suara rakyat dan kalau pilih si B maka mengkhianati
suara rakyat. Wakil-wakil PDIP memilih Mega memang karena merupakan amanat
dari para pemilihnya. Sedangkan kalau Poros Tengah tidak memilih Mega (saat
itu) itupun juga menyuarakan suara para pemilihnya. Ingat Ki...suara rakyat
itu tidak mungkin cuma satu suara. Dan untuk sementara pada saat itu secara
fair memang harus diakui Gus Dur mendapat dukungan suara rakyat yang lebih
besar.
Saat ini, setelah dijatuhkannya Memorandum I kepada Gus Dur oleh hampir 90 %
suara di DPR (di MPR saya kira tidak jauh beda), baik itu diakui legal
konstitusional atau tidak, mau tidak mau tetap dapat ditarik kesimpulan
bahwa dukungan rakyat kepada GD telah berubah.
Perubahan dukungan itu seiring dengan perubahan sikap-sikap Gus Dur juga.
Selama ini GD diharapkan bisa menjadi faktor perekat diantara anak bangsa.
Justru setelah menjadi presiden muncullah sikap-sikap dan tindakan yang tak
terduga sebelumnya.
Mulai dari mendepak Ketua Umum PPP Hamzah Haz , 2 orang sekaligus
kepercayaan Megawati Kwiek Kian Gie dan Laksamana Sukardi dan kader
GolkarYusuf Kalla dari kabinet kompromi yang telah disepakati. Dan semua
dengan alasan yang tidak jelas ...
Memojokkan ummat Islam yang frustasi sebagai penyebab konflik di Maluku,
usulan pencabutan Tap MPRS tentang Pembubaran PKI , rencana membuka hubungan
dagang dengan Israel jelas-jelas menyinggung perasaan ummat Islam (yang
masih punya hati).
Dan yang terakhir justru terindikasi adanya untuk memperkuat kekuasannya.
Pertama kekuatan modal. Dengan melindungi sejumlah konglomerat yang
tersangkut masalah KKN
Kedua. kekuatan militer. Tetap memberikan porsi kedudukan yang penting dan
strategis dalam kabinet.
Ketiga. kekuatan yudikatif. Mengambangkan pelantikan Ketua MA, dan memilih
Wakil Ketua MA seorang yang mencium tangannya saat pelantikan.
Keempat. politik. mengembangkan politik kekerasan.
Sebenarnya secara riil legal formal kekuatan politik GD telah rontok oleh
ulahnya sendiri. Akan tetapi dari ungkapan para pejabat teras PKB yang
mengatakan tidak bisa menjamin akan terjadi pertumpahan darah bila GD
diturunkan, maka jelas terlihat telah dimainkannya politik kekerasan. Dimana
ancaman pertumpahan darah, bahkan klaim beberapa daerah dikatakan akan
menyatakan merdeka (walaupun telah dibantah banyak pihak), menunjukkan
betapa bangsa Indonesia yang besar dan luas ini telah disandra oleh tidak
lebih 11 % dari penduduknya.
Namun sangat disayangkan, akibat akrobat politik yang dimainkan oleh GD ini
justru mengorbankan nama warga NU yang sebagian besar adalah warga kelas
bawah yang justru sejak Indonesia merdeka dan sampai saat inipun tidak
pernah mendapat keadilan. Betapa tidak, warga yang terkenal lugu, taat dan
santun itu sekarang banyak dituduh berlaku anarkhis. Dan saya amat sangat
tidak setuju dengan tuduhan itu. Karena NU tidak pernah mengajarkan tindakan
anarkhis. Dan apabila ada tindakan yang anarkhis berarti dia bukan NU. Tapi
para pengikut setan yang mencari kesempatan ditengah masyarakat yang
bergejolak.
Ki Denggleng...
Adapun mengenai konflik-konflik yang masih tetap terjadi menurut saya adalah
merupakan bukti betapa rapuhnya kewibawaan pemerintahan saat ini. Kewibawaan
tidak harus identik dengan represif, akan tetapi penggalangan rasa
kebersamaan sebagai sebuah bangsa, perasaan senasib sepenanggungan. Inilah
yang dimiliki oleh Soekarno saat awal-awal kekuasaanya. Dan sifat inilah
yang tidak dimiliki oleh GD. (Saya juga meragukan Amien untuk masalah ini).
Untuk masalah pemimpin yang buta saya kira tidak masalah, dari pada pemimpin
yang buta hati...apalagi kedua-duanya Nauzubillah ...
Kan pemimpin perlawanan Intifadhah terhadap Israel adalah Syaikh Ahmad Yasin
yang tidak hanya buta matanya tetapi bahkan kedua tangan dan kakinya lumpuh.
Cuman bedanya beliau Syaikh mampu menumbuhkan semangat kebersamaan, bahkan
terhadap Yasser Arrafat yang merupakan lawan politiknya sekalipun.
Maaf kalau ada yang salah
Wassalam...
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--