Harian Kompas terbitan Minggu, 1 April 2001 membahas mobil
mewah untuk KTT G-15 cukup panjang lebar. Memang yang
dipermasalahkan adalah, "mengapa dalam kondisi yang
katanya krisis ini pemerintah malah menyetujui impor
MM (mobil mewah) hingga 400 biji. Pada rubrik fokus yang
memaparkan komentar berbagai pakar dan pengamat
lebih lagi mencerminkan "cibiran" thd. pemerintah, khususnya
kepada pribadi GD.

1. Ketua Komisi I DPR: "...Dalam keadaan ekonomi seperti 
    sekarang ini, saya cenderung agar Pemerintah Indonesia
    tidak mengimpor mobil built-up dulu...."
2. Revrison Baswir: "...Saya kira konyol, kita tahu persis rupiah
    terancam...."
3. Didik J. Rachbini: "...Gus Dur yang mendapat julukan "pende-
    kar demokrasi" pun demikian, karena dia tersangkut dalam
    jebakan KKN.."
4. Ketua Komisi V DPR: "...Di tengah negara yang masih meng-
    hadapi krisis, pemerintah tidak hanya membuang potensi
    perolehan pajak, tetapi sekaligus melukai perasaan masya-
    rakat yang sedang hidup dalam keprihatinan."
5. Adirizal Nizar: "...Menurut saya prosedur impor oleh mereka
    (HRM dan CSA) aalah di luar prosedur resmi..."
6. P. R. Silalahi: "..Dihitung dari pengeluarannya, cara pembelian
    MM itu termasuk masih kecil. Tetapi rencana itu menunjukkan
    lagi tidak adanya sense of crisis dari pemerintah..."

Begitulah kira-kira sorotan serba negatif dari para pakar pada
rubrik fokus Harian Kompas. 

Sebetulnya saya ini heran dengan adanya kenyataan bahwa
di basement gedung MPR/DPR ada yang menyatakan parkir
mobil Jaguar dan Ferari, lantas memusingkan rencana impor
MM oleh pemerintah yang bebas pajak. Apalagi dengan dalih
sedang krisis segala macam. Lhah mengapa keberadaan
mobil-mobil mewah di gedung wakil rakyat itu tidak mampu
memunculkan istilah kepekaan "sense of crisis" dari para
anggota parlemen?

Saya juga menebak-nebak, mengapa sampai 400 MM yang
direncanakan untuk di impor bagi kira-kira 30 orang tamu
KTT G-15? Apakah ini nanti juga menjadi cara GD untuk
berprinsip mlorot dari kursi presiden dengan meninggalkan
bukti, bahwa istilah krisis dsb itu hanya berupa ungkapan
klise untuk menembak pemerintahannya. Maksudnya, setelah
KTT usai, toh ternyata ke-400 MM itu laris manis juga 
dibeli oleh orang-orang tertentu? Taruh kata bebas pajak,
sehingga harga MM menjadi 1/3 dari harga jalur resmi,
tetapi toh tetap berkesan MAHAL dan amat sangat mahal
bila benar-benar negara ini sedang krisis ekonomi yang
merata? Toh ternyata masih ada setidaknya 400 pembeli
MM yang bebas dari krisis yang diuntungkan dengan tindakan
pemerintah GD yang seperti "menyeret dalang ke depan
pagelaran" ini?

Maka memang mungkin saja keputusan impor MM ini
ibaratnya GD mau menabrakkan MM itu untuk kursi
kepresidenannya, sehingga lengsernya tidak hina-hina
amat hanya karena BB-gate dan memorandum-2an.
Yang jelas rakyat yang sadar akan mampu berfikir,
sebenarnya siapa yang tidak peka terhadap krisis
selama ini. Jelas bahwa legislatif dan para pengamat
lebih getol menguthik-uthik masalah-2 yang glamour
dan berkesan mahal banyak duitnya. Sedang masalah
keterlantaran ribuan kepala keluarga di PIR-trans
Borneo, kelangkaan pupuk, Harga Gabah Kering Petani,
KUT yang macet, masalah konflik etnis dan lain-lain
yang akrab dengan kesengsaraan lapisan bawah
tidak pernah diungkap secara besar-besaran.

Mereka hanya menggunakan "seolah-olah" rakyat
akan terlukai dengan impor MM itu. Sementara itu
tingkah laku legislatif, demo-nya kaum eksekutif di BEJ
dan lain-lain gerakan agitasi kehidupan bernegara
dan berbangsa selama ini telah sama sekali membuat
rakyat sakit parah dan menjadi nggak peduli lagi.
"Enakan jaman HMS", kata sementara orang.


    Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?


...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
















Kirim email ke