"Kontek-kontek... Kang, Kang Sondong, Kontek Kang!"
"Walah, ada apa lagi? Wong lagi nglaras Mandrawanaran
Nusantara Bedhah, ngene nyaruwuwus ae?"
"Wuik, ngene lho Kang. Tadi pagi aku dapat kiriman
pertanyaan dan gugatan, mbok kalo ingin membandingkan
BK sama GD itu yang imbang... Lha ini gara-gara Sampeyan,
maka aku mintak keterangan tentang BK versi Sampeyan
itu"
"Hahaha... ya sudah, sekalian tulung tulisanku ditunggu
dan tolong dikirimkan kepada milist-2 yang biasa kamu
gangguin itu... ngene lho Nggleng, jagan lupa,
cantumkan alamat mail-ku ini, tapi yaitu, kalau sedang
main internet aku ini malu, lha jadi paling tua.... :*[]) "
----------------------------------------------------------------------------
Kita semua tahu bahwa Indonesia baik sebagai negara
dan bangsa merupakan suatu hasil rekayasa dari para tokoh
dan pemimpin kita di masa lalu. Sumpah Pemuda 28 Oktober
1928 merupakan tonggak sejarah dikumandangkannya cita-
cita Indonesia itu. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
merupakan salah satu pencapaian dari cita-cita yang terkandung
dalam Sumpah Pemuda. Maksudnya sejak Proklamasi itu kita
punya negara Indonesia artinya terwujud sudah suatu tanah air
satu, Indonesia. Akan tetapi marilah kita sama-sama merenung-
kan lebih mendalam akan keberadaan Bangsa yang satu,
Indonesia. Benarkah sudah tercapai ? Atau masih harus
diperjuangkan bersama ? Dan marilah kita sama-sama
instropeksi pada diri kita masing-masing. Apa saja kontribusi
kita untuk perjuangan mewujudkan Indonesia yang satu itu !
Apakah kita sudah ikhlas menerima cita-cita itu secara lahir
batin ?
Dalam rangka merenungkan hal tersebut maka dengan tulus
dan ikhlas saya mengakui kehebatan Bung Karno. Beliau
sangat konsisten dengan cita-cita mewujudkan Indonesia
yang jaya dan diakui eksistensinya oleh masyarakat dunia.
Beliau dengan brilyan telah mendidik dan menanamkan rasa
bangga menjadi bangsa Indonesia. Kalau toh cara yang
digunakan terkesan mengandung warna otoriter, sombong,
mengabaikan demokrasi, mengagungkan diri sendiri, dan
sebagainya, tidaklah mengurangi jasa beliau. Masih lebih
baik tindakan beliau yang berpidato ke seluruh penjuru
Indonesia dan bahkan dunia yang demi kejayaan Indonesia
dibanding tindakan oportunis tokoh-tokoh lain yang hanya
memperjuangkan kepentingan golongan, agama, dan
idiologinya dengan meninggalkan Indonesia.
Mr. Hidajat Sjarif<[EMAIL PROTECTED]> yang tinggal
di Canada, menyatakan, Bung Karno telah MENGHIANATI
idealisme perjuangannya sendiri dan dalam kurun waktu
1957-1965 mengembangkan kekuasaan pribadinya dengan
membubarkan parlemen hasil pemilu 1955. Benarkah
demikian ? Apakah tindakan politik yang diambil oleh Bung
Karno yang didukung ABRI waktu itu bukannya untuk
menyelamatkan Indonesia dari kebuntuan dalam melanjutkan
perjuangan menjaga keutuhan dan mencapai kejayaan
Indonesia ?
Sejarah telah mencatat bagaimana perjuangan menjaga
keutuhan dan mencapai kejayaan Indonesia sejak proklamasi
sampai saat ini selalu direcoki oleh kepentingan sempit atas
nama kesucian agama, kehebatan ideologi, dan superioritas
etnis (suku). Dalam rangka mengatasi pertengkaran ruwet
berbagai kepentingan yang ada itulah mari kita simak dengan
jernih tindakan Bung Karno dalam menyelamatkan Indonesia.
Janganlah kita hanya mampu mencerca, menghujat, memaki-
maki dengan penuh kebencian tanpa bersedia memahami
situasi, kondisi, dan tanggung jawab yang diemban beliau
dalam memimpin Indonesia. Ingatlah kalau sebenarnya
Indonesia memang masih muda, masih bodoh, dan masih
belum dipahami oleh sebagian besar warga bangsanya
sendiri. Bung Karno telah memenuhi tugas kewajibannya
sebagai pemimpin yang membimbing kita semua menjadi
sadar perlu memiliki jatidiri untuk sejajar dengan bangsa-
bangsa lain di dunia.
Maha Besar Tuhan yang telah memberikan Bung Karno
sebagai pemimpin Indonesia di saat dunia sedang berada
dalam kemelut Perang Dingin. Indonesia (dalam pimpinan
Bung Karno) ikut mendirikan Gerakan Non Blok. Indonesia
juga yang kemudian memunculkan gagasan bersatunya
Negara-Negara Berkembang (NEFO).
Saya tidak menutup mata akan kondisi ekonomi yang ada
pada saat pemerintahan Bung Karno. Tetapi saya yang naif
tidak sampai hati kalau harus menimpakan kesalahan tersebut
kepada Bung Karno seorang. Karena ada banyak orang
yang waktu itu ikut mengelola negeri ini. Dan juga banyak
tokoh yang selalu merecoki kepemimpinan Bung Karno dengan
alasan macam-macam. Banyak pula yang sedang mengalami
gegar budaya karena lepas dari penjajahan. Juga banyak
yang kemrungsung (ingin cepat-cepat) mengenyam kenikmatan
hasil kemerdekaan. Bahkan sampai saat inipun masih banyak
yang seperti itu. Maka sebenarnya kita semualah yang bodoh
sehingga hutan kita habis, tambang kita tergadaikan, hutang
sampai mencekik leher, dan kondisi ekonomi kita terpuruk
sampai saat ini. Kita perlu bertanya sejujur-jujurnya pada diri
sendiri. Benarkah kita masih memiliki Indonesia ? Atau
beranikah kita dengan menepuk dada penuh kebanggaan
sebagai warga bangsa Indonesia ? Apa pula kontribusi
(persembahan) kita masing-masing untuk Indonesia ?
Segenggam pasirkah ? Atau seluruh kehidupan kita sebagai-
mana yang dilakukan Bung Karno ? Atau bahkan justru kita
ikut merampok negeri kita sendiri ? Membajak dan memperkosa
negeri kita sendiri ? Membenci dan memalinghkan muka
terhadap Indonesia ?
Dengan segala hormat aku mengajak semuanya untuk menyudahi
pertikaian dalam menilai para pemimpin masa lalu apalagi
yang sudah meninggal. Apakah seorang pemimpin punya
peranan positif atau negatif dalam perjuangan menjaga
keutuhan wilayah dan mewujudkan kejayaan Indonesia
kita serahkan saja kepada penilaian sejarah yang pasti jujur.
Kita yang saat ini masih hidup dan berkesempatan memberi
kontribusi terbaik bagi Indonesia, mari sama-sama kita
laksanakan. Kalau tidak mampu memberikan apapun,
marilah sama-sama mendendangkan lagu Rayuan Pulau
Kelapa ciptaan Ismail Marzuki (kalau masih merasa sebagai
warga bangsa Indonesia, lho !)
Tanah airku Indonesia, negeri elok amat kucinta, tanah
tumpah darahku yang mulia, yang kupuja spanjang masa.
Tanah airku aman dan makmur, pulaiu Kelapa nan amat
subur, pulau Melati pujaan bangsa, sejak dulu kala.
Melambai-lambai, nyiur di pantai, berbisik-bisik raja klana.
Memuja pulau, nan indah permai, tanah airku �� Indonesia !
Salam hormat,
�Djoko Winarto�<[EMAIL PROTECTED]>
------------------------------------------------------------------------
"Weleh, kepanjingan apa Sampeyan itu Kang Sondong?
Wah, kalau misalnya aku punya massa, tak dukung
Sampeyan mendirikan Partai Indonesia Pusaka wis...
siapa tahu aku diangkat jadi Sekjen.. :-("
"Partai bathukmu njepat apa? Aku cukup di bumi
Banyumanik saja Nggleng, miara Perkutut, agar
anak-anakku dan tetangga-2 dapat waspada dan
"titen" mampu membedakan mana Perkutut
dan mana Prit Gantil... ngono sik ya? Nanti kalau
ada balasan e-mail, tanggung jawabmu lho.... hahaha"
"Iya ya Kang, dan aku kembali "gluprut gupak blethok",
ngajari beberapa pemuda agar sadar kalau nanem
padi itu sulit.... makanya jangan sia-sia sama wong
tani saja... dan jangan dema-demo thok"
"Lha iya, wang sinawang dan donga dinonga,
ketoknya, ponakanmu putri dapat mengikuti jejakmu
kok Nggleng... jadi guru... biar digugu tetep saja
kuru.... tak iya?"
(kontak Aji Gineng diputus sepihak.....)
Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--