Syech Siti Jenar (SSS)
---------------------------------
Wadhuh, baca posting Mas Alliq cap Megelnow ini
terasa makin sempit "kopyah" stambulanku. Untungnya
aku bukan "uwong kopyahan" dan bukan "manungsa
stambul". Jadi masih sempat "ngisis mustaka", alias
hanya bertopikan rambut anugerah Hyang Kaswasih.
Bagaimana tidak membesar batok kepala ini, lha wong
penginya ikutan ngaji dan ngawruh (ngangsu kawruh)
kok malah diajak ngaji bareng? Hehehe, ingat cerita
kemarin di tengah waktu menunggu hujan di "Nganjog
Lembah Curug Ci Lember" berteduh di saung pertanaman
bawang daun dan pisang Raja Sareh (diplesetkan dikit
ah) yang enggik-enggiken, karena salah lahan. Lha pisang
ditanam di daerah berketinggian 900 meter d.p.l... itu
kan sama saja dengan budidaya tanaman secara
Tanam Paksa oleh Boss pemilik lahan yang rumusan
usahanya adalah "Pokoke Tanam Pisang" (PTP). Para staf
dan pekerja lapangan biar saja lumpuh nalarnya, jeblog
benak-nya, yang penting rumusan Pokoke Tanam Pisang
berjalan.
Kalau hasilnya cuma gedebog busuk berjamur Fusarium
dan atau berbakteri Pseudomonas, atau akarnya habis
dirubung lundi-lundi wang-wung tlethong ya itu salah
bawahan, salah eksekutif lapangan. Bukan salah Majelis
Pertanaman Rakyat (MPR). Toh MPR telah menelorkan
Garis garis Besar Haluan Nanam (GBHN) Pokoke Tanam
Pisang? Dan Eksekutif PTP telah bersumpah membawa
mandat MPR dengan baik dan benar? Salahnya bagian
Yudikatif PTP-nya belum diangkat pucuk pimpinannya..
(ehehe.. nyindiiiiiirr!, kata Butet!)
Masak ndak ada cara buat membasmi Fusarium kolusium,
memberantas Pseudomonas korupsinas. Masak ndak bisa
ngambilin Nepotis Kumbang Kotoran (NKK) itu untuk
kemudian menahannya dalam sangkar jebakan Serangga?
Baik Sinder, Mandor, maupun Buruh PTP tetap saja salah
ndak bisa nyuruh pisang berbuah baik seperti "cau" (untuk
hari senin sampai jumat) atau "pisang" (untuk hari sabtu dan
minggu) yang dijajakan oleh para Pedagang Pinggir Jalan
saja ndak mampu. (Sang Boss, tanpa pernah menyidik sampai
tuntas asal-usul pisang di Sepanjang Jalan Ciawi - Puncak
(SJCP), sehingga tidak tahu bahwa ada pisang kiriman dari
Lampung, dari Cilacap, Subang, Karawang de-el-el, pokoknya
memutuskan bahwa Pisang-2 itu pasti dari sekitaran daerah
SJCP itu sendiri) sehingga eksekutif lapangan harus menerima
Memorandum I, yang berisi bahwa eksekutif malas mencari
tahu bagaimana cara bertanam pisang yang baik... hehehe
(kan katanya daerah sekitar hasil pisangnya bagus...?),
jadi telah secara nyata melanggar GBHN dan sumpah
PTP. Dan harus meningkatkan kinerjanya, tidak perlu
menjawab secara VERBAL.
Nyleweng jauh biarin, yang penting bisa dibelokkan lagi
ke dalam thread ini. Dalam suasana serba ndak match
gitu (kehujanan di bawah saung, mobil jauh di atas tebing)
Temanku yang ahli kebun bilang, "Tadi kita ketemu Bu
Mega tadi kok harus berhenti ya Mas Nggleng?"
"Apa alasannya?"
"Lha iya, apa alasannya, para rangkaian perjalanan Wapres
tadi harus memberhentikan semua kendaraan yang
berlawanan arah dan menyetop yang belum lewat searah
dengan mereka. Coba kalau ndak brenti tadi, mungkin kita
ndak kahujanan kayak kieu.."
"Wah, ya ndak tahu aku. Itu mungkin standard perlakuan
bagi seorang eksekutif.... hehehe. Terus hubungannya atau
masalah Sampeyan itu apa, dengan Ibu Mega tadi?"
"Yaaah, untung Ibu Mega hanya sampai Wapres. Sehingga
keinginan ku dulu tidak terwujud... Lha dulu aku seneng
kok ikutan kampanye PDI-P, sampek anakku yang lagi
kelas 2 SD, sering nagih ikutan Kampanye... senang kan
rame, banyak atraksi... makanya aku dulu ikut mendamba
Mega jadi presiden, dan nyoblos PDI-P...."
"Sampeyan itu gelo, kuciwo atau nglulu?"
"Beruntung! Bayangkan kalau yang lewat menahan kita
tadi Bu Mega sebagai Presiden.... hehehehe, mungkin
jadi 2 atau 3 kali lipat istirahat kita di terik matahari.."
"Lha sekarang Sampeyan faham kan bahwa sesuatu yang
tadinya dianggap baik, penuh harapan jadinya mak plekotho
seperti itu. Bayangno Dik Giek, Bu Mega dengan 30%
dukungan DPR, ndak mampu mempengaruhi persen-2
yang lain. Malah gagal kabeh jago-jagonya di DPR. Padahal
kurang integritas apa jago-jago itu, selain di dalam benak
dan kantong mereka.... hehee...!"
"Huussy, Mas Nggleng, berani apa sampeyan menyatakan
begitu di hadapan umum, apalagi di DPR/MPR?"
"Dik Giek, aku ini hanya Denggleng, bukan Syech Siti Jenar
yang masih menyayangi Kurungan-kurungan Perkutut yang
berisi Prit Gantil, dibanding Menyayangi Prit Gantil dan
merusak Kurungannya. Siapa tahu ada bursa Perkutut,
kan aku bisa mborong, kemudian Prit Gantil tak lepas
atau tak bukin pakan Si Pussy Cat... atau...."
"Hahahahaha... sok milosofi Sampeyan... Tapi iya ya Mas
Nggleng, Sekarang ini banyak Syech-2 Siti Jenar tiban
yang begitu lantang menyatakan rumusan-rumusan kejiwaannya
dengan tanpa melihat kondisi jamaahnya. Apa karena
sekarang tidak ada santri lain selain pengikut Siti Jenar?"
"Ngajak cangkriman lagi ya, Dik Giek. Soalnya sekarang ini
yang berperan sebagai Ki Ageng Pengging untuk mengajak
Siti Jenar berembug di atas kain serban putih dan mendudukkan
Siti Jenar di dampar-lemah-abang-nya tidak ada. Ada saja
buta dan sedang disandera serban-putihnya.... gitu kan
maksud Sampiyan?"
"Ngomong apaan sih, Mas.. wong kita tadi tugasnya cumak
memotret pohon pisang sistem Tanam Paksa... hehehe..
tanam paksa versi sampeyan, bukan Daendels..."
"Lha iya kalau aku ini lahir jaman Den Deles, paling sudah
ditanam paksa.. tak iya?"
Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?
ps: Mas Alliq, jangan libatkan daku dengan PAN dan
PmB lho.... sumprit aku wegah!
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--