Sayang sekali bung Martin, kalau di Indonesia, apabila ada orang
yang sudah 'disalibkan' secara politik dengan dalil2x agama, orang
tersebut tidak bisa 'bangkit' lagi pada hari yang ketiga.
BTW, thank's untuk tulisannya...
:WS:
nb: dapet salam dari temen satu flat, katanya "parende do hamu ?"
Mbuh dah, ora ngerti...
----- Original Message -----
From: "Martin Manurung" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>; "HKBP Mailing List" <[EMAIL PROTECTED]>; "Kuli
Tinta List" <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; "rembug nasional"
<[EMAIL PROTECTED]>
Cc: "Yonanda Agustina" <[EMAIL PROTECTED]>; "Wasty Pasaribu"
<[EMAIL PROTECTED]>; "tulus daniel" <[EMAIL PROTECTED]>; "Pdt.
Dr. Robinson Butarbutar" <[EMAIL PROTECTED]>; "Pdt. Daniel T.A.
Harahap" <[EMAIL PROTECTED]>; "Pdt. Saut Sirait, MTh"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Lae Sukardi Silalahi" <[EMAIL PROTECTED]>;
"Kristofel Sirait" <[EMAIL PROTECTED]>; "keke pitaloka"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Ihut Aritonang" <[EMAIL PROTECTED]>; "Erry
Riyana Hardjapamekas" <[EMAIL PROTECTED]>; "Elvi Simanjuntak"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Dr. BRaksaka Mahi" <[EMAIL PROTECTED]>; "Doddy
Simanjuntak" <[EMAIL PROTECTED]>; "Ben Subrata"
<[EMAIL PROTECTED]>; "andi syarif syahrial"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Aliansi Jurnalis Independen"
<[EMAIL PROTECTED]>; "Albertus Sugeng" <[EMAIL PROTECTED]>;
<[EMAIL PROTECTED]>; "Bintang Aritonang"
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Thursday, April 12, 2001 7:43 PM
Subject: [Kuli Tinta] Jumat Agung: Kekuasaan, Hukum dan Politik
> Renungan Jumat Agung 13 April 2001:
>
> KEKUASAAN, HUKUM DAN POLITIK
>
> Oleh: Martin Manurung*
>
> "Katanya (Pilatus): 'Tetapi, kesalahan apakah yang telah dilakukan-Nya?'
> Namun mereka makin keras berteriak, 'Ia harus disalibkan!" (Matius 27: 23)
>
> SEORANG Anak Manusia telah dituduh melakukan "kebohongan publik" dan
> memprovokasi rakyat untuk melawan pemerintah sehingga menimbulkan
kekacauan.
> Oleh sebab itu, sejumlah orang dengan menggunakan dalil-dalil agama
> bersekongkol untuk menangkap Anak Manusia itu dan membawanya kehadapan
Raja
> Herodes, penguasa tanah Yudea ketika itu. Persekongkolan itupun berhasil
> disebabkan penghianatan seorang pengikut dan murid Anak Manusia itu yang
> bernama Yudas Iskariot. Penangkapan akhirnya dilakukan dengan dukungan
> aparat keamanan di Taman Getsemani persis ketika Anak Manusia itu selesai
> sujud berdoa. Dengan kecupan yang manis, Yudas Iskariot, murid-Nya itu,
> menyerahkannya ke tangan tentara untuk kemudian dihadapkan pada Raja
> Herodes.
>
> Kesepakatan Imam-Imam Agama ialah bahwa Anak Manusia itu harus dihukum
mati,
> karena itu serangkaian pemeriksaan pun dilakukan dengan menghadirkan
> saksi-saksi palsu. Tetapi, ternyata dari serangkaian saksi-saksi palsu
itu,
> tidak didapat bukti-bukti signifikan agar hukuman mati layak dijatuhkan
(Mat
> 26: 59-60). Dihadapan Raja Herodes pun, tak dapat diperoleh bukti yang
> signifikan untuk menghukum mati Anak Manusia itu. Kecuali, bahwa pengaruh
> Anak Manusia itu dihadapan rakyat memang sangat besar sehingga
membahayakan
> otoritas Raja. Karena itu, Anak Manusia itupun diserahkan kepada Pilatus;
> Hakim Tinggi hunjukan Kekaisaran Romawi yang ketika itu menjajah Israel.
> Menariknya, antara Raja Herodes yang merupakan orang Israel asli dan
Pilatus
> yang orang Romawi,
> dimana sebelumnya mereka sangat bermusuhan, setelah kasus itu menjadi
> bersahabat menjalin suatu "koalisi" kekuatan (lihat Lukas 23:12).
>
> Demikian juga dihadapan Pilatus, sebagai orang yang menguasai hukum, ia
pun
> tak menemukan kesalahan Anak Manusia itu. Pilatus pun berkata pada
khalayak
> yang membawa Anak Manusia itu kehadapannya, "Kamu telah membawa orang ini
> kepadaku sebagai seorang yang telah menyesatkan rakyat. Kamu lihat
sendiri,
> bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu
> tuduhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya. Dan Herodes juga
> tidak, sebab ia mengirimkan Dia kembali kepada kami. Sesungguhnya tidak
ada
> suatu apapun yang dilakukan-Nya setimpal dengan hukuman mati" (Lukas 23:
> 15-16).
>
> Tetapi, kebencian yang merajai hati mereka telah membutakan mereka
sehingga
> berteriak, "Ia harus disalibkan!" Anak Manusia itu pun tetap dijatuhi
> hukuman mati dengan disalib. Tempatnya di Bukit Golgota (yang artinya
> "tengkorak). Dan, Anak Manusia itupun disalib dan mati di bukit itu.
>
> Anak Manusia itu bernama Yesus Kristus. Dan kematian-Nya di Bukit Golgota
> itu, dinamakan "Jumat Agung" yang diperingati oleh umat Kristiani di
seluruh
> dunia. Terlepas dari konteks teologis dari peristiwa kematian Yesus
Kristus
> (yang kemudian bangkit pada hari ke-3), kita dapat memaknai peristiwa yang
> terjadi lebih dari 2000 tahun yang lalu itu dengan perspektif sosial,
hukum
> dan politik. Melalui perspektif tersebut, kematian Yesus Kristus
setidaknya
> memiliki 3 makna;
>
> Pertama, bahwa agama dan dalil-dalilnya ternyata sangat bisa diperalat
oleh
> sekelompok elite agama (imam dan mahkamah agama) demi kepentingan kelompok
> elite tersebut. Segala perbuatan baik, penuh kasih dan pemberdayaan
> orang-orang kecil, tertindas dan terbuang yang dilakukan oleh Yesus,
> ternyata dimaknai sebagai ancaman yang membahayakan status quo yang
> dinikmati oleh elite agama. Karena itu, fitnah dan character assasination
> pun dilancarkan untuk menyingkirkan Yesus.
>
> Kedua, peristiwa itupun memberi pesan bahwa hukum dan prosedurnya dapat
> dikangkangi oleh kepentingan-kepentingan kelompok yang merasa diancam oleh
> popularitas Yesus di kalangan rakyat. Perjuangan keadilan yang dilakukan
> oleh Yesus dengan melawan status quo para elite agama dan politik,
akhirnya
> dibalas dengan memperalat hukum untuk mengenyahkan Yesus Kristus. Kembali,
> dengan fitnah dan character assasination, akhirnya vonis hukuman mati
> dijatuhkan kendati tidak didapatkan bukti-bukti yang mencukupi untuk itu.
>
> Ketiga, proses politik-pun ternyata menjadi permainan dari kelompok elite
> yang haus akan kekuasaan. Yang semula mungkin bermusuhan (seperti Pilatus
> dan Herodes), kini menjadi sahabat dan berkoalisi untuk memuluskan proses
> hukum dan politik dalam rangka menyingkirkan Yesus Kristus yang populis.
> Bagi orang-orang oportunis seperti Pilatus dan Herodes, kekuasaan adalah
> segalanya, sehingga itu segala sesuatu yang mengganggu kepentingan dan
> kemapanan (status quo) mereka, harus disingkirkan; bagaimana pun caranya.
>
> Dan akibat kerakusan akan kekuasaan dan kepicikan itu, Yesus Kristus harus
> dikorbankan. Dan Ia telah berkoban; mencurahkan darah-Nya dan mati di kayu
> salib. Kini, adakah kerakusan akan kekuasaan dan kepicikan masih merajai
> hati kita?
>
> *Penulis adalah Asisten Dosen FEUI
>
>
> ...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> ->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com
...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--