Pro & Kontra TPI tadi malam mengetengahkan 
seputaran Istighosah NU 29/4 2001 yang kelihatannya
berkembang menjadi indikasi sebagai pengerahan
massa PBM (pasukan berani matek) yang akan ngepung
gedung Saru MPR/DPR 30/4 2001. Biasa tinjauan
pang-ti Brigade Ababil sudah pasti berlawanan dengan
PBNU (Aqiel). Pandangan Polsi (Dedy...) berselip
dengan Harkristuti.

Pokoknya serba serem deh, Istighosah itu. Seorang warga
NU yang menelepon pun sampai menyatakan "kemaluannya"
kepada pimpinan dan petinggi NU dengan adanya PBM
dan Istighosah yang sangat dekat dengan Sidang Paripurna
DPR.

Yang paling konyol, adalah pernyataan Harkristuti Harkrisnowo,
yang akan ngumpet pada 30 April nanti di rumahnya. Ngeri,
katanya. (sebetulnya aku mau tanya gimana tanggal 29/4
nya? apakah juga ngumpet atau ikutan berdoa?). Dia 
menyatakan bahwa "Kyai atau Ulama itu sangat disetiai
oleh santri-santrinya, tetapi mengapa belum kelihatan
ada himbauan keras (himbauan kok keras?) agar 
PMB digagalkan saja, dan dilarang ke Jakarta. "

Permohonan Aqiel untuk memahami bahwa antara
Istighosah dan PMB tidak ada hubungannya.... tetap
tidak digubris. Lha wong memang sudah ndak sreg
kok disuruh memahami.. sekali otot ya otot, sekali
agama buat politik ya tetap agama-polotik... gitu
kira-kira. Kasihan Pak Polisi serba salah. Mengijinkan
Istighosah salah, melarang apa lagi.....

Tetapi berhubung Harkrisnowo sedang berperan
maka dilontarkan pepatah Jawa yang wingit untuk
"nyemesh" Aqiel (yang yas-yes-yas-yes mulu) bahwa
karena Kyai/Ulama itu ditunduki oleh pengikutnya,
ibaratnya perkataan kyai itu SABDA PANDHITA RATU.
horeeeee.... Harkris bisa njawaniiii .. sayang salah
tempat. Menganggap bahwa pepatah itu artinya
perkataan kyai dan ulama itu seperti perkataan
raja yang harus ditaati bin ditakuti pengikutnya....

Ah, sayang pepatah yang sering digunakan untuk
para pandhita dan para penguasa yang PLIN-PLAN
diplencengkan demikian. Kasihan bagi orang
yang kurang faham pepatah Jawa, ikut memahami
kesalahan ini. Lha wong itu lengkapnya: "Sabda
Pandhita Ratu tan kena Wola-wali"... Perkataan
pendeta (ulama/kyai) dan raja itu ibaratnya hukum,
jadi tidak boleh plin-plan.... artinya semua yang
bisa diibaratkan dengan pandhita dan raja,
harus hati-hati dalam menjaga dan memelihara
OTOT BIBIR dan LIDAH (OBL). 
Sayang pula sekarang ini OBL itu telah semakin
merdeka dan bubrah!

    Ki Denggleng Pagelaran
--------------------------
apa bedane uwong ambek
manungsa?




...........Menuju Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan............
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan anda lakukan sendiri
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

->Cake, parcel lebaran & bunga2 natal? Di sini, http://www.indokado.com<--

Kirim email ke